Menuju Wilayah Bebas Korupsi
Slide item 1

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 3

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 4
Slide item 5

TangSel. 25/10/2016 Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) mendapat kunjungan tim supervisi Pusat Unggulan Iptek. Tim supervisi PUI terdiri dari Prof. Dr. R. Ukun M.S. (Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Padjajaran) dan Prof Dr Yahdiana Harahap (Guru Besar Tetap Ilmu Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia) serta didampingi oleh Sekretariat PUI Yudho Baskoro dan Satrio Anoraga.

Hadir dalam acara supervisi tersebut adalah kepala PTRR Dra. Siti Darwati, M.Sc, para kepala Bidang di lingkungan PTRR serta anggota Tim PUI PTRR. Tujuan dilaksanakannya supervisi PUI adalah untuk memantau dan melakukan pembinaan/supervisi atas perkembangan aktivitas pengembangan Pusat Unggulan Iptek pada Semester I Tahun 2016.

Penguatan kelembagaan iptek merupakan langkah penting dalam penguatan sistem inovasi nasional agar lembaga iptek dapat berkinerja tinggi dengan menghasilkan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas adopsi pengguna teknologi (masyarakat, industri, dan pemerintah) dengan menjunjung tinggi kejujuran dan integritas sesuai dengan etika penelitian. Diharapkan dengan tumbuhnya inovasi dan teknologi yang disertai dengan pemanfaatan oleh pengguna, kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat. Salah satu upaya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk memperkuat kelembagaan iptek adalah melalui pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI).

Kegiatan Pengembangan Pusat Unggulan diharapkan akan menghasilkan lembaga litbang yang unggul dari sisi penguasaan iptek karena sesuai dengan tugas dan fungsi lembaga. Namun di sisi lain akan dihasilkan juga lembaga litbang yang unggul keinovasiannya karena tugas dan fungsi lembaga memungkinkan untuk mencapai hal dimaksud.

Adapun yang dimaksud dengan Pusat Unggulan Iptek adalah suatu organisasi atau lembaga yang melaksanakan kegiatan-kegiatan riset bertaraf internasional pada bidang spesifik secara multi dan interdisiplin dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna iptek. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Pusat Unggulan Iptek yaitu kemampuan lembaga untuk menyerap teknologi dari luar, kemampuan mengembangkan kegiatan riset, dan kemampuan mendiseminasikan hasil-hasil riset sehingga kemanfaatannya dirasakan oleh masyarakat banyak dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. -ariefIN-

Teknologi radiotracer adalah teknologi untuk merunut keberadaan atau sebaran suatu zat atau senyawa tertentu dengan memanfaatkan radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop. Proses sebaran atau pergerakan suatu senyawa dapat terjadi sebagai akibat dari proses fisika, proses kimia atau proses biologi. Di PTRR BATAN, sampai saat ini radiotracer lebih banyak dikembangkan untuk pemanfaatan dalam proses biologi.

Teknologi radiotracer dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: pemilihan senyawa bertanda, proses penandaan dan proses tracing atau uji biodistribusi untuk proses biologi di dalam tubuh hewan.

 Pemilihan senyawa bertanda

Senyawa bertanda ideal adalah senyawa bertanda dengan menggantikan salah satu atom di dalam senyawa asli dengan radioisotop unsur tersebut. Dengan demikian, senyawa bertanda memiliki sifat yang sama persis dengan senyawa asli. Suatu senyawa tersusun dari beberapa jenis unsur. Oleh sebab itu perlu dikaji unsur yang memiliki radioisotop dengan sifat atau waktu paro yang sesuai untuk tujuan tersebut. Ada beberapa unsur yang hanya memiliki radioisotop dengan waktu paro pendek. Dengan kondisi demikian, senyawa bertanda tidak dapat dipilih dari unsur tersebut.

Jika senyawa bertanda ideal tersebut tidak dapat dibuat, maka dibuat senyawa bertanda lain yang memiliki sifat yang hampir sama dengan senyawa tersebut. Gugus gugus tertentu dapat digantikan dengan suatu radioisotop sehingga memiliki sifat yang mirip. Untuk senyawa dengan ukuran besar, kinetika biologi atau farmakokinetika suatu senyawa secara umum tidak berubah dengan menambahkan suatu radioisotop dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari molekul aslinya. Oleh sebab itu, senyawa bertanda untuk molekul berukuran besar dapat dilakukan dengan mengikatkan suatu radioisotop ke dalam salah satu bagian atau gugus atom molekul tersebut.

Proses penandaan radioisotop

Proses penandaan radioisotop adalah proses untuk mengikatkan suatu radioisotop pada molekul tertentu. Proses penandaan secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu penandaan pada saat proses sintesis dan penandaan setelah senyawa terbentuk. Contoh proses jenis pertama adalah proses penandaan senyawa contrast agent Gd-DTPA. Senyawa bertanda dibuat dalam bentuk 153Gd-DTPA. Proses penandaan 153Gd-DTPA dilakukan pada saat  proses sintesis dengan menggantikan bahan baku gadolinium menggunakan gadolonium mengandung radioisotop Gd-153.

Contoh proses kedua adalah proses pembuatan senyawa senyawa mengandung iodium. Beberapa senyawa mengandung iodium dapat ditandai dengan proses pertukaran isotop. Isotop stabil di dalam senyawa asli ditukar dengan iodium radioaktif, misalnya menggunakan I-131. Proses ini telah digunakan dalam penandaan MIBG dan hippuran. Akhir akhir ini penelitian tentang antibodi dan peptida banyak dilakukan. Peptida dan antibodi pun dapat ditandai dengan mengikatkan suatu radioisotop ke dalamnya. Beberapa antibodi dan peptida ditandai dengan memanfaatkan bifunctional chelating agent (BFCA).

Proses tracing

Proses tracing atau perunutan merupakan inti dari teknologi radiotracer ini,. Namun dari pengalaman selama ini, kunci keberhasilan dari proses tracing ini sangat ditentukan oleh proses pada tahap pemilihan senyawa bertanda dan proses penandaan. Proses tracing adalah proses percobaan untuk melihat pergerakan suatu senyawa atau unsur karena proses tertentu Seperti telah dijelaskan di atas, di PTRR-BATAN proces tracing lebih banyak dilakukan untuk proses proses biologi, baik process tracing secara in vivo menggunakan hewan percobaan maupun proses tracing secara in vitro menggunakan cell line.

Penandaan radioisotop ini bertujuan untuk membuat suatu senyawa yang dapat dengan mudah ditelusuri keberadaan dan pergerakannya. Suatu molekul mengandung radioisotop yang digunakan untuk menelusuri atau melacak pergerakan suatu senyawa atau gugus atom sering disebut dengan radioactive tracer atau radiotracer. Oleh sebab itu, teknologi penandaan radioisotop ini erat sekali dengan teknologi radiotracer. Teknologi radiotracer adalah teknologi pembuatan dan pemanfaatan radiotracer untuk berbagai tujuan, diantaranya sebagai perunut untuk proses fisika, proses kimia dan proses biologi. Teknologi radioactive tracer ini sangat bermanfaat dan mutlak diperlukan dalam proses drug development / pengembangan obat. Pada pengembangan obat, teknologi radioactive tracer digunakan dalam penelusuran ADME (absorption, distribution, metabolism dan excretion) suatu senyawa. Misalnya dalam pengembangan senyawa pengontras MRI berbasis gadolinium, penelusuran terkait dengan ADME senyawa tersebut dilakukan dengan menggunakan radioactive tracer Gd-153. Radioaktive tracer dengan struktur molekul yang sama persis dengan kondidat contrast agent dapat dilakukan melalui penggantian Gd dengan Gd-153 pada saat proses sintesis senyawa tersebut.

 PROSPEK

Teknologi radioactive tracer dapat dimanfaatkan untuk penelitian beberapa senyawa kandidat obat. PTRR-BATAN telah berhasil mengembangkan beberapa jenis radioisotop dan beberapa contoh radioactive tracer. Lembaga lembaga litbang atau perguruan tinggi yang sedang mengembangkan senyawa obat dan memerlukan data absorpsi, distribusi, metabolism dan ekskresi suatu senyawa dapat dilakukan menggunakan radioactive tracer. Penelitian ini diawali dengan penandaan suatu senyawa dengan radioisotop dan selanjutnya menggunakannya pada penelitian ADME. Titik penting yang sangat menentukan dalam kegiatan ini adalah proses penandaan. Ada beberapa senyawa yang dapat ditandai dengan relative mudah, namun ada pula senyawa senyawa yang tidak mudah ditandai dengan radioisotop.

Serpong 22/8/2016. Sebanyak 10 Expert Fellowship Training on Overview of Radioactive Waste Management Infrastructure for New Countries and Territories berkunjung ke fasilitas Pusat teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Kawasan Puspiptek Nuklir Serpong Gd. 11. Kunjungan 10 expert tersebut ke PTRR disambut oleh petugas layanan informasi Miftakhul Munir.

Pada kesempatan itu, Munir menjelaskan mengenai kegiatan litbang di PTRR, produk hasil litbang dan juga hasil sampingan yang berupa limbah radioaktif. Limbah radioaktif itulah yang nantinya dikirim ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) untuk diolah.-arief IN-

Solo 10/8/2016. Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) ikut ambil bagian dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-21 yang di selenggarakan di Stadion Manahan Solo. Peringatan kegiatan HAKTEKNAS yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2016 di gelar secara meriah di Solo. Pada acara puncak HAKTEKNAS 2016 kali ini juga memamerkan ratusan produk inovasi karya putra-putri Indonesia.

Pada tahun 2016 Hakteknas mengusung tema “Inovasi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa”, perayaan kali ini berangkat dari pemikiran Inovasi dengan prinsip Better, Cheaper, and Faster, tanpa melupakan kualitas dan keunikan sumber daya yang dikembangkan dengan sentuhan IPTEK.

Bandung 8/8/2016. Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Dra. Siti Darwati, M.Sc beserta kepala bidang Teknologi Radioisotop Drs. Hotman Lubis dan Kepala Bidang Teknologi Radiofarmaka Dr. Rohadi Awaludin beserta staf terkait berkunjung ke kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jl. Tamansari Bandung. Kunjungan PTRR kali ini adalah dalam rangka pembahasan kerjasama antar dua lembaga tersebut.

Visitor Counter

 

Kontak PTRR

Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Gedung 11, Setu, Tangerang Selatan 15314

Telp: (021) 756-3141, 758-72031
Fax: (021) 756-3141

http//: www.batan.go.id
http//:www.batan.go.id/ptrr

Email : prr[at]batan.go.id