sucofindo
SDM Nuklir
HUT RI
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
peresmian gedung radiosiotop
korupsi
kedelai
Radiofarmaka

(Jakarta, 17/07/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) melepas 2 varietas kedelai unggul yakni Kemuning 1 dan Kemuning 2 yang cocok untuk lahan kering. Dengan dilepasnya kedua varietas ini, maka sampai saat ini, jumlah varietas kedelai unggul yang dihasilkan BATAN sebanyak 12 varietas.

Peneliti BATAN, Yuliasti mengatakan, keterbatasan lahan optimal dan program pemerintah yang mendorong melakukan penelitian terhadap varietas kedelai yang toleran pada lahan kering. “Mengingat ketersediaan lahan optimal di Indonesia yang semakin terbatas, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendorong untuk melakukan penelitian terhadap varietas kedelai yang tahan di lahan kering,” kata Yuliasti di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Rabu (17/07).

(Bandung, 05/07/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) merencanakan melakukan konversi bahan bakar reaktor TRIGA 2000 yang semula menggunakan bahan bakar tipe TRIGA MARK II buatan General Atomic menjadi tipe MTR fuel plate. Upaya mengonversi bahan bakar ini dikarenakan General Atomic sebagai produsen bahan bakar TRIGA MARK menghentikan produksi bahan bakarnya dan berbagai komponen reaktor TRIGA lainnya.

Reaktor TRIGA 2000 merupakan reaktor riset pertama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Reaktor dengan kapasitas 2 MW yang berlokasi di Jl. Taman Sari, Bandung ini mulai dioperasikan pada tahun 1965 hingga saat ini tetap beroperasi dengan baik.

Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR), salah satu unit kerja di lingkungan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus meningkatkan layanan pengelolaan limbah radioaktif melalui sistem aplikasi online yang terintegrasi dengan kementerian keuangan. Aplikasi berbasis online yang diberi nama Interkoneksi eLIRA dengan Simponi ini diresmikan penggunaannya oleh Kepala PTLR, Husen Zamroni, Selasa (18/06) di Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan.

Husen Zamroni mengatakan, pengembangan Interkoneksi eLIRA dengan Simponi ini dilatarbelakangi oleh jumlah pengguna zat radioaktif di seluruh Indonesia terus meningkat, untuk itulah efisiensi dan efektivitas layanan menjadi hal yang utama. “Sejak tahun 2017 layanan administrasi pengelolaan limbah radioaktif di PTLR sebenarnya sudah memanfaatkan sistem informasi online yang diberi nama eLIRA, namun sistem ini belum terkoneksi dengan institusi terkait yakni Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Kementerian Keuangan,” kata Husen.

(Yogyakarta, 01/04/2019) Badan Tenaga Nuklir (BATAN) terus berupaya mendekatkan diri kepada masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan dengan menggelar temu pelanggan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) dan Pusat Sains dan Teknologi Akseralator (PSTA) di Auditorium STTN, Jl. Babarsari, Yogyakarta, Senin (01/04).

pratinjau


   

Pengadaan Barang dan Jasa