WBK

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Portal SIMLIN

Sistem Informasi Manajemen Litbangyasa Iptek Nuklir, Layanan aplikasi Online untuk pegawai BATAN...

Selengkapnya...

Jurnal Atom Indonesia

WINNERS OF "ATOM INDONESIA BEST PAPER AWARD 2014"

ATOM INDONESIA is one of the most highly reputed scientific journals in Indonesia. It is an open access international peer - reviewed journal...

Selengkapnya...
gedung 90

Gedung Manajemen

Selengkapnya...

(Jakarta, 01/10/2021). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) berbagi pengalaman terkait penilaian diri budaya keamanan nuklir di Indonesia kepada para anggota negara Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA).

Staf senior keamanan nuklir, ORTN – BRIN, Khairul mengatakan, peran manusia sangat penting didalam sistem keamanan. Selain sebagai kontributor dalam penguatan rezim keamanan nuklir, manusia juga bisa menjadi penyebab dari kegagalan sistem keamanan itu sendiri.

“Budaya keamanan nuklir menjadikan faktor manusia sebagai aset dalam manajemen keamanan nuklir,” jelas Khairul pada Workshop Budaya Keamanan Nuklir, yang digelar oleh IAEA secara virtual, Kamis (30/09).

Menurutnya, ancaman nyata telah terjadi baik di tingkat nasional maupun dunia, sehingga membutuhkan budaya keamanan nuklir yang kuat dan proteksi fisik yang kuat di lokasi fasilitas nuklir berada.

“BATAN telah mensosialisasikan budaya keamanan nuklir untuk seluruh pegawainya setiap tahun sejak tahun 2010,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan regulasi dan prosedur yang telah ditetapkan, tidak dipungkiri masih terdapat beberapa kendala, diantaranya ketaatan pada prosedur. “Tingkat pimpinan meminta tim budaya keamanan nuklir untuk mengetahui status terkini penerapan budaya keamanan nuklir melalui penilaian diri,” katanya.

Dengan adanya penilaian diri budaya keamanan nuklir, tambah Khairul, diharapkan bisa mengetahui tingkat budaya keamanan, terutama pada 3 fasilitas reaktor riset nuklir di Indonesia sebagai pilot projek penilaian diri budaya keamanan dengan menggunakan draf pedoman IAEA pada tahun 2012. Tiga reaktor riset nuklir tersebut masing-masing berlokasi di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong - Tangerang Selatan.

Penilaian diri juga berguna untuk mengetahui basis data implementasi budaya keamanan nuklir, serta memberikan rekomendasi kepada pimpinan untuk implementasi yang lebih baik pada budaya keamanan nuklir sesuai kebutuhan.

Ia mengatakan penilaian diri budaya keamanan nuklir telah 2 kali dilaksanakan, yaitu pada periode Oktober 2012 hingga Maret 2013, dan pada tahun 2015. Kegiatan penilaian diri budaya keamanan BATAN disampaikan dalam Konferensi Internasional Keamanan Nuklir di IAEA.

“Pimpinan ORTN (sebelumnya bernama BATAN) berkomitmen untuk mendukung peningkatan keamanan nuklir dan  budaya keamanan nuklir melalui pembentukan Pusat Pengkajian dan Budaya Keamanan (Center for Security Culture and Assessment/ CSCA) di Kawasan Asia Tenggara, bekerja sama dengan IAEA, dan didukung oleh organisasi internasional lainnya,” lanjut Khairul.

Dengan adanya penilaian diri budaya keamanan nuklir, jelas Khairul, dapat meningkatkan perhatian tingkat manajemen dalam mendukung keamanan nuklir, mempererat jalinan komunikasi antara pimpinan dan pegawai, dan adanya peningkatan program pelatihan keamanan dan budaya keamanan, serta bergabungnya bidang keselamatan dan keamanan dalam satu manajemen.

“Saat ini dengan bergabungnya 4 lembaga pemerintah, termasuk BATAN ke dalam BRIN, tentu menjadi peluang dan tantangan dalam penerapan budaya keamanan nuklir,” ucapnya.

Menurutnya, kerja sama internasional harus terus dipertahankan di masa depan untuk mempromosikan keamanan nuklir IAEA dan panduan penilaian diri budaya keamanan melalui CSCA.

Staf Divisi Keamanan Nuklir IAEA, Yo Nakamura, mengapresiasi presentasi dari perwakilan negara-negara anggota, termasuk Indonesia,  yang telah berbagi pengalaman mengenai implementasi budaya kemanan nuklir di negaranya.

"Presentasi dari Indonesia sangat bermanfaat bagi peserta workshop dalam melaksanakan penilaian diri budaya keamanan nuklir," katanya.

Budaya keamanan nuklir adalah kumpulan karakteristik, sikap dan perilaku individu, organisasi dan lembaga yang berfungsi sebagai sarana untuk mendukung dan meningkatkan keamanan nuklir. Workshop ini menjadi ajang bagi negara-negara anggota untuk berbagi pengalaman dan menguraikan upaya peningkatan budaya keamanan nuklir di negara-negara anggota IAEA.

Selain Indonesia, beberapa negara anggota IAEA juga berbagi pengalaman terkait penerapan penilaian diri budaya keamanan nuklir pada workshop ini, yakni Bulgaria, Malaysia, Jerman, dan Jepang (tnt).