WBK

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Portal SIMLIN

Sistem Informasi Manajemen Litbangyasa Iptek Nuklir, Layanan aplikasi Online untuk pegawai BATAN...

Selengkapnya...

Jurnal Atom Indonesia

WINNERS OF "ATOM INDONESIA BEST PAPER AWARD 2014"

ATOM INDONESIA is one of the most highly reputed scientific journals in Indonesia. It is an open access international peer - reviewed journal...

Selengkapnya...
gedung 90

Gedung Manajemen

Selengkapnya...

(Jakarta, 29/09/2021) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) bekerja sama dengan National Nuclear Security Administration, U.S. Department of Energy menyelenggarakan pelatihan dengan nama Regional Workshop on Insider Threat Mitigation secara virtual, 27 - 30 September 2021. Pelatihan ini selain untuk meningkatkan kemampuan personil dalam mengantisipasi segala kemungkinan bahaya yang terjadi terkait keamanan nuklir, juga dijadikan sebagai ajang berbagi pengetahuan di bidang keamanan nuklir di tingkat internasional.

Direktur Pengembangan Kompetensi, Sudi Arianto dalam sambutan pembukaannya mewakili Deputi SDM Iptek, mengatakan, salah satu tantangan yang dihadapi semua program nuklir dunia adalah ancaman orang dalam yang jahat (insider threat). Sebagaimana telah diidentifikasi Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA) dan disampaikan pada beberapa forum, orang dalam memiliki keunggulan unik dalam fasilitas nuklir mana pun.

"Mereka memiliki akses ke material (bahan nuklir), wewenang untuk berada di fasilitas ini, dan pengetahuan tentang prosedur keamanan. Dibutuhkan sedikit imajinasi untuk memahami risiko yang dapat ditimbulkan oleh orang dalam dengan niat buruk terhadap fasilitas nuklir, atau konsekuensi yang berpotensi serius jika hal seperti itu terjadi," ujar Sudi.

Sudi menambahkan, ancaman terhadap keamanan nuklir bisa terjadi di fasilitas nuklir di mana saja. Oleh karena itulah regional workshop ini sangat berguna untuk menyatukan para ahli dan pembuat kebijakan untuk mempromosikan pertukaran informasi dan pengalaman tentang keamanan nuklir dari berbagai perspektif internasional untuk meningkatkan praktik keamanan nuklir.

Indonesia melalui ORTN sebagai negara anggota IAEA mendukung program internasional dan IAEA terkait keamanan nuklir. "ORTN telah berupaya menerapkan budaya keamanan dalam mitigasi ancaman orang dalam," tambah Sudi.

Mengingat pentingnya pembahasan tentang program keamanan nuklir ini, Sudi menjelaskan, pada konferensi Internasional Keamanan Nuklir IAEA 2016 tentang: Komitmen dan Actions, Amerika Serikat mengeluarkan IAEA Information Circular, INFCIRC/908, “Joint Pernyataan tentang Mitigasi Ancaman Orang Dalam” yang terbuka bagi semua Negara Anggota untuk subscribes (berlangganan). INFCIRC/908 terdiri dari dua area fokus utama yakni Komitmen mendukung IAEA untuk mengembangkan dan menerapkan kursus pelatihan tingkat praktisi tingkat lanjut tentang ancaman orang dalam mitigasi, dan implementasi langkah-langkah untuk memitigasi risiko orang dalam dengan mengambil pendekatan berdasarkan informasi risiko.

"ORTN mendukung program mitigasi ancaman dalam yang telah diinisiasi oleh Amerika Serikat kepada IAEA berupa Information Circular (INFCIRC 908) dengan didukung oleh sejumlah negara termasuk negara regional ASEAN. Sudah banyak manfaat dan informasi terkait pencegahan ancaman orang dalam yang kami terima dari program tersebut," tutur Sudi.

Menurutnya, Indonesia sudah cukup lama mengenal keselamatan nuklir, mungkin sejak pertama kali program nuklir dibangun. Budaya keselamatan nuklir juga kita sudah mengenal sekitar tahun 1990an tepatnya setelah peristiwa kecelakaan reaktor Chernobyl pada tahun 1986. 

Pada tahun 2008, IAEA mulai mengenalkan budaya keamanan nuklir kepada negara anggotanya. "Indonesia, dalam hal ini ORTN yang sebelumnya bernama BATAN telah melakukan promosi budaya keamanan pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 dengan bantuan IAEA melakukan Regional Workshop on Nuclear Security Culture," ujarnya.

Workshop ini dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara, yakni Indonesia, Australia, Filipina, Thailand, Jepang, USA, Inggris, Belgia, dan Malaysia. Untuk delegasi Indonesia diantaranya dihadiri oleh perwakilan dari BRIN, BAPETEN, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Sekretariat Negara (pur).