WBK

.....

Slide item 8

.....

Slide Stop

.....

Slide item 1

Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN.....

Selengkapnya...
Slide item 2

Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Elemen Bakar Eksperimental .....

Selengkapnya...
Slide item 3

.....

Slide item 4

.....

Slide item 6

.....

WBS

.....

(Tangerang Selatan, 08/09/2021), Gagasan pembangunan PLTN di Indonesia didasari oleh pertimbangan bahwa sumber energi fosil yang selama ini menjadi penopang utama dalam pembangkitan listrik di Indonesia mulai menipis. Peningkatan kebutuhan listrik dari berbagai sektor mengalami peningkatan sekitar 7% per tahun. Hal ini akan sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan bahan fosil. Tuntutan pemenuhan kebutuhan listrik dan kualitas lingkungan yang bersih juga menjadi persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembangkitan listrik di masa mendatang. Pada Perpres Nomor 5 Tahun 2006 ditetapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga tahun 2025 dibutuhkan kontribusi sumber energi terbarukan biofuel di atas 5%, panas bumi di atas 5%, nuklir, surya, angin dan biomassa di atas 5% dan batubara yang dicairkan di atas 2%. Pengalaman beberapa negara yang sudah lebih dulu mengoperasikan PLTN, seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik, maka pembangunan PLTN yang pertama seringkali akan diikuti dengan pembangunan PLTN berikutnya. Demikian juga di Indonesia, apabila nanti akan dibangun dan dioperasikan PLTN maka harus disiapkan penguasaan teknologi fabrikasi dan uji pasca iradiasi bahan bakar nuklir baik teknologi maupun sumber daya manusianya.

Hal ini menjadi tanggung jawab dari Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN). Teknologi fabrikasi bahan bakar nuklir reaktor daya saat ini telah sampai pada tahap pengujian pasca irradiasi di instalasi radiometalurgi. Tahap ini menggunakan bahan Zr-4 sebagai kelongsong dan tanpa uranium dengan panjang 500 mm (short pin PWR). Tahap selanjutnya adalah fabrikasi, uji iradiasi dan uji pasca iradiasi untuk bahan bakar short pin PWR berisi UO2 alam. Uji pasca iradiasi bahan bakar nuklir sangat penting dilakukan guna mengetahui unjuk kerja bahan bakar selama iradiasi direaktor. Hal ini tentunya harus didukung dengan kemampuan dan kompetensi personil dalam proses pengujian dan analisis data uji yang dihasilkan serta kesiapan alat uji yang dibutuhkan didalam hotcell IRM baik uji tak merusak maupun uji merusak. Penguasaan teknologi fabrikasi bahan bakar nuklir untuk reaktor daya juga sangat dubutuhkan guna kemandirian bangsa Indonesia dalam teknologi bahan bakar nuklir. Proses fabrikasi bahan bakar nuklir hingga uji pasca iradiasi di hot cell, termasuk uji iradasi di fasilitas PRTF Reaktor GA-Siwabessy merupakan satu kesatuan terintegrasi utuk menghasilkan prototipe bahan bakar nuklir reaktor daya yang baik dan handal. Untuk mengetahui kesiapan teknologi fabrikasi bahan bakar nuklir khususnya Pin PWR, perlakuan selama iradiasi di RSG Siwabessy dan pengujian pasca iradiasi di fasilitas hotcell IRM PTBBN, Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir pada tanggal 08 September 2021 menyelenggarakan Workshop Penguasaan Uji Pasca Iradiasi dan Evaluasi Bahan Bakar Nuklir untuk Raktor Daya. Workshop dilaksanakan secara daring yang diikuti oleh 66 peserta, dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan proses fabrikasi, uji iradiasi, tahapan sertifikasi produk litbang dan uji pasca iradiasi bahan bakar nuklir Pin PWR untuk mempercepat penguasaan teknologi bahan bakar nuklir reaktor daya. Workshop ini menghadirkan narasumber dari BSN (Aries Agus Budi Hartanto, S.Si, MT), Reaktor GA-Siwabessy (Ir. Suwoto), Purnabhakti PTBBN (Ir. Hadi Suwarno, M.Eng, Ph.D.),  dan  Ir. Tri Yulianto. Dalam sambutannya selaku Ketua Penyelenggara, Maman Kartaman, MT mengharapkan kepada seluruh peserta untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini, sehingga  tujuan workshop dapat tercapai.

 Pajabat Pelaksana Harian Kepala PTBBN, Ir. Rr. Ratih Langeanti, MT. dalam workshop ini mengatakan bahwa “Topik yang diangkat sangat penting bagi PTBBN dalam rangka mewujudkan hasil riset yang sudah dilaksanakan selama ini, karena kendali kualitas pasca iradisi penting bagi pihak fabrikasi untuk mengetahui bagaimana hasil risetnya”. Kegiatan ini juga menggandeng pakar dan yunior PTBBN untuk mendalami penelitian bahan bakar, beliau mengharapkan kepada seluruh peserta untuk dapat meningkatkan SDM dan menambah kompetensi.

 Ir. Tri Yulianto dalam paparannya menyampaikan secara detail tentang fabrikasi prototype short fuel pin PWR, mulai dari desain hingga iradiasi yang dilakukan di RSG-GAS. Ir. Suwoto membahas tentang berbagai fasilitas iradiasi reaktor RSG-GAS dan prosedur iradiasinya. Ir. Hadi Suwarno, M.Eng, Ph.D banyak menjelaskan tentang bagaimana pengujian yang dilakukan untuk bahan bakar nuklir pasca iradiasi dan evaluasinya dan Aries Agus Budi Hartanto, S.Si, MT menyampaikan tentang standardisasi dan penilaian kesesuaian dalam penerapan SNI. (rhm)