Slide item 1

Logam Tanah Jarang Harta Terpendam di Bangka Belitung

Hasil evaluasi terhadap aspek calon tapak PLTN merekomendasikan bisa dibangun 6 unit di Bangka Barat dan 4 unit di Bangka Selatan .....

Selengkapnya...
Slide item 2

Diskusi Ilmiah Tentang Keterdapatan U dan Th di Daerah Mamuju Sulawesi Barat

PPGN melihat Mamuju sebagai suatu kabar yang sangat menggembirakan karena menambah daerah prospek uranium dan thorium yang layak untuk dikembangkan .....

Selengkapnya...
Slide item 3

Diskusi Tektonik dan Mineralisasi U di Kalan

Diskusi ini selain bertujuan untuk membahas beberapa isu penting terkait geologi Kalan juga dimaksudkan sebagai bagian dari proses knowledge management yang penting bagi organisasi dan bermanfaat untuk para geolog muda .....

Selengkapnya...
Slide item 4

Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa

Focus Group Discussion “Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa” Kedeputian Relevansi dan Produktivitas Iptek .....

Selengkapnya...

(Serpong, 11/11/2015) –  Rencana Pemerintah untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 35 ribu megawatt (MW) perlu dukungan banyak pihak, sebab kebutuhan listrik ke depan semakin meningkat. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai salah satu lembaga litbang turut mendukung dengan memproyeksikan kemungkinan kedepan penggunaan energi nuklir. Salah satu langkah pentingnya adalah dengan mengelola mineral radioaktif.

Selain penyiapan energi yang berbasis teknologi, pengelolaan sumberdaya mineral sebagai penunjang ketersediaan energi harus dapat dikelola secara tepat dan optimal serta dapat memberikan nilai tambah yang maksimal, termasuk mineral radioaktif. Pengelolaan mineral radioaktif merupakan salah satu program utama BATAN yang kegiatan penelitiannya telah dimulai sejak awal 1970-an hingga sekarang. Saat ini BATAN telah bekerja sama dengan PT Timah membangun pilot plan pemisahan uranium dan thorium dari logam tanah jarang (LTJ).

(Jakarta, 05/05/2015); "Regenarasi kepemimpinan itu sangat penting, seorang pemimpin diharapkan mampu melahirkan pemimpin yang lebih baik lagi." Hal tersebut disampaikan Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto dalam Sarasehan SMK3 Lingkungan BATAN yang diselenggarakan di PTBGN BATAN Pasar Jumat.

Terkait budaya keselamatan, menurut Djarot budaya dibentuk dari dalam diri sendiri, dengan meningkatkan kapasitas diri maka budaya itu terbentuk dalam pribadi masing-masing. Kegiatan bulanan ini dihadiriEselon I dan II BATAN serta segenap tim SMK3 unit kerja BATAN.

Bertempat di R. Rapat BPPT lantai 24 dilaksanakan Focus Group Discussion “Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa” yang dikordinasikan Kedeputian Relevansi dan Produktivitas Iptek dan dihadiri pejabat eselon 1 dan 2 dari Kementerian/Lembaga, BUMN dan Industri seperti Kementerian Ristek, BPPT, BATAN, LIPI, BAPETEN, PT. Bakrie Tosanjaya dan PT. Timah terkait dengan Logam Tanah Jarang. FGD dibuka oleh Plt. Deputi Relevansi dan Produktivitas I Wayan Budiastra dan dilanjutkan pemaparan mengenai situasi dan kondisi LTJ dunia dan nasional oleh Kepala BATAN Djarot S. Wisnubroto. FGD di pimpin oleh Idwan Suhardi (Staf Ahli Kementerian Ristek bidang Energi dan Material Maju). Kepala BATAN mengharapkan FGD ini dapat menghasilkan roadmap dari hulu hingga hilir pengolahan tanah jarang, menjadi perhatian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan sinergi/keterlibatan berbagai kementerian/lembaga dan industri untuk turut serta dalam pengelolaan LTJ.

Bersamaan dengan diawalinya program pemboran di Sektor Lemajung, Kalan, dilakukan presentasi dan diskusi tentang tektonik dan mineralisasi Kalan. Diskusi ini selain bertujuan untuk membahas beberapa isu penting terkait geologi Kalan juga dimaksudkan sebagai bagian dari proses knowledge management yang penting bagi organisasi dan bermanfaat untuk para geolog muda

Diskusi diawali oleh presentasi beberapa sektor penting di Kalan yang dibawakan oleh Ir. Lilik Subiantoro, dan menitikberatkan pada aspek periode dan kontrol mineralisasi. Presentasi tersebut merupakan rangkuman hasil penelitian para peneliti PPGN diantaranya Ir. Soeprapto, Dr. Djoko Soetarno, Dr. Karyono HS, Ngadenin, ST, serta presenter sendiri. Pada sesi diskusi terjadi pembahasan yang sangat menarik, diantaranya tentang kapankah uranium terendapkan, apakah  kaitannya mineralisasi uranium dengan proses intrusi granit, dan dari mana asalnya uranium, apakah dari granit atau dari batuan metasedimen sendiri.