Slide item 1

Logam Tanah Jarang Harta Terpendam di Bangka Belitung

Hasil evaluasi terhadap aspek calon tapak PLTN merekomendasikan bisa dibangun 6 unit di Bangka Barat dan 4 unit di Bangka Selatan .....

Selengkapnya...
Slide item 2

Diskusi Ilmiah Tentang Keterdapatan U dan Th di Daerah Mamuju Sulawesi Barat

PPGN melihat Mamuju sebagai suatu kabar yang sangat menggembirakan karena menambah daerah prospek uranium dan thorium yang layak untuk dikembangkan .....

Selengkapnya...
Slide item 3

Diskusi Tektonik dan Mineralisasi U di Kalan

Diskusi ini selain bertujuan untuk membahas beberapa isu penting terkait geologi Kalan juga dimaksudkan sebagai bagian dari proses knowledge management yang penting bagi organisasi dan bermanfaat untuk para geolog muda .....

Selengkapnya...
Slide item 4

Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa

Focus Group Discussion “Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa” Kedeputian Relevansi dan Produktivitas Iptek .....

Selengkapnya...

(Jakarta, 12/09/2018) Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Bangka Belitung melakukan konsultasi dan koordinasi dengan Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dalam rangka penyusnan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pengolahan mineral ikutan dan lainnya, di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Rabu (12/09). Pembentukan  Raperda ini dimaksudkan untuk menjaga dan melindungi kekayaan alam di kepulauan Bangka Belitung, yang salah satu kekayaan alam tersebut adalah bahan tambang timah.

Ketua Pansus, Adet, mengatakan maksud dan tujuan ke BATAN yakni dalam rangka menggali informasi selengkap-lengkapnya terkait dengan mineral ikutan yang dihasilkan dari penambangan timah. “Kami ingin mendapatkan informasi tentang mineral ikutan yang ada pada hasil penambangan timah yang ternyata masih mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,” ujara Adet.

Menurutnya pulau Bangka Belitung merupakan pulau yang kaya dengan bahan tambangnya dan telah terkenal di dunia yakni timah. Perkembangan teknologi penambangan timah yang dilakukan oleh masyarakat juga berkembang, mulai dari yang paling canggih sampai pada yang tradisional.

Pada penambangan timah, selain menghasilkan biji timah, juga mendapatkan hasil samping yakni pasir monasit. Pasir monasit inilah menurut Adet sering dijual belikan masyarakat kepada negara lain dengan harga yang murah.

“Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa di dalam pasir monasit masih mengandung mineral lainnya yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sehingga saat ini masih sering terjadi penjualan pasir monasit ke negara lain dengan harga yang sangat murah,” tambahnya.

Dalam kaitan itulah, menurut Adet diperlukan sebuah aturan yang dapat melindungi dan menjaga kekayaan alam Kepulauan Bangka Belitung agar tidak jatuh ke tangan negara lain namun dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung. Dengan adanya perda, diharapkan dapat mengatur pengelolaan bahan tambang mulai dari penambangan hingga mengatur hasil  samping berupa mineral ikutan dari hasil penambangan.

Deputi Teknologi Energi Nuklir, Suryantoro menyambut baik dan memberi dukungan terhadap rencana pembentukan Raperda ini. “BATAN menyambut baik rencana pembentukan Raperda tentang pengolahan mineral ikutan dan lainnya. Saat ini kita telah mempunyai laboratorium yang dapat memisahkan antara uranium, torium, dan LTJ dari pasir monasit,” kata Suryantoro.

Selain itu, Suryantoro menambahkan, BATAN bekerja sama dengan PT. TIMAH juga membangun pilot plan pemisahan uranium, torium dan LTJ di Pulau Bangka. Nantinya diharapkan ada perusahaan yang akan membuat laboratorium pemisahan untuk skala industri.

Suryantoro berharap, penyusunan Raperda ini dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi masyarakat. “Kita Sepakat untuk bersama-sama mempercepat proses pembuatan Raperda sebagai solusi untuk mensejahterakan masyarakat bangka belitung, terutama dalam melindungi kekayaan alam yang terkandung di bumi Kepulauan Bangka Belitung,” pungkas Suryantoro. (Pur)