Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 16/11/20). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) menyelenggarakan Seminar Nasional SDM dan Iptek Nuklir (SDMIN) dengan tema Nuclear Teaching Industry: Sarana Inovasi dan Sinergi Perguruan Tinggi Vokasi dengan Industri, Sabtu 14 November 2020. Seminar yang diselenggarakan secara virtual / daring melalui platform zoom dan juga disiarkan secara langsung melalui youtube sttnbatan tersebut merupakan ajang komunikasi dan sharing antara akademisi, praktisi, komunitas, dan pemerintah sebagai langkah awal mengubah mindset serta karakter penyelenggaraan pendidikan vokasi yang harus bersinergi dengan industri, untuk membangun SDM unggul dan berdaya saing global, khususnya dibidang kenukliran. Seminar ini menghadirkan 3 narasumber, Wikan Sakarinto, M.Sc., PhD. (Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI), Dr. Vera Verkhuturova (Deputy Director, Engineering School of Nuclear Science and Technology Tomsk Polytechnic University, Rusia), Ir. Ramzy Siddiq Amier, Magister K3 (Direktur PT. Supraco Indonesia), acara dibuka oleh Kepala BATAN, Prof. Dr. Anhar Riza Antariksawan dan diikuti sekitar 350 peserta.

(Yogyakarta, 25/10/20). Pada bulan September 2020, Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Yogyakarta (STTN - BATAN) dan PT. Radiant Utama Interinsco, Tbk bersepakat melaksanakan kerjasama. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam naskah kerjasama yang ditandatangani antara Ketua STTN dengan Direktur Utama PT. Radiant Utama Interinsco, Tbk. Sebagai salah satu tindaklanjut kerjasama antara STTN dengan PT. Radiant Utama Interinsco Tbk tersebut adalah dengan dilaksanakannya kegiatan inspeksi bersama yang melibatkan personel dari kedua pihak. Kegiatan yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 kali ini adalah untuk melaksanakan inspeksi atau profiling pipa insulasi di fasilitas pengeboran gas lepas pantai (offshore). Adalah Tasih Mulyono, Pranata Nuklir STTN (Ahli Radiografi dan Uji Tak Rusak UTR) bersama dengan 2 personel PT. Radiant Utama Insterinsco (1 personel Ahli Radiografi dan 1 personel Petugas Proteksi Radiasi) yang melaksanakan inspeksi tersebut.

(Yogyakarta, 7/10/20). Ikhsan Mahfudin, mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) program studi Elektro Mekanika kelahiran kabupaten Pekalongan, berhasil lulus dengan memperoleh IPK tertinggi sebagai wisudawan Sarjana Terapan Teknik (S.Tr.T) STTN tahun 2020. Memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 tentulah bukan hal yang mudah untuk didapatkan Ikhsan. Berasal dari keluarga biasa, namun memiliki tekad dan semangat yang kuat agar bisa membantu meringankan beban orang tua, dan menjadi mahasiswa yang bermanfaat menjadi motivasi bagi Ikhsan untuk terus berusaha melakukan yang terbaik.

(Yogyakarta, 7/10/20). Joanne Salres Ramadhani, gadis kelahiran Jakarta ini tidak membayangkan sebelumnya akan menjadi salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN). Berawal dari melaksanakan presentasi mengenai “Gamma Knife” di perguruan tinggi tempat dia belajar sebelumnya, Joanne sangat tertarik untuk belajar nuklir. Bergabung dengan komunitas nuklir telah ia lakukan sebelum dirinya menjadi mahasiswa STTN – BATAN. Kesungguhannya untuk belajar nuklir, dibuktikannya dengan Joanne memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3, 90 yang merupakan IPK tertinggi di Program Studi Teknokimia Nuklir (TKN) dan IPK tertinggi kedua untuk STTN angkatan 2016 dengan judul Tugas Akhir Pengembangan Metode Analisis Logam Tanah Jarang pada Monasit menggunakan ICP-OES.

(Yogyakarta, 7/10/20). Perjalanan seorang Hasna Nurhanifa Rosyadi untuk menjatuhkan pilihan hingga menamatkan kuliah Diploma IV di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) tidak mudah. Lahir di kota Klaten, Hasna merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, sempat ragu untuk melanjutkan pendidikan bidang nuklir karena takut orang tua tidak merestui niatnya. Tidak disangka, ternyata orang tua Hasna sangat mendukung keinginan Hasna tersebut. “Sungguh hal yang tidak saya duga, saat saya bercerita tentang STTN dan nuklir, ternyata orang tua saya jauh lebih melek nuklir dibanding saya,” ungkap Hasna. Berkat dukungan, semangat dan ketekunannya menimba ilmu kenukliran, Hasna yang pada tanggal 7 Oktober 2020 melaksanakan prosesi wisuda, dinyatakan sebagai mahasiswa program studi Elektronika Instrumentasi dengan IPK tertinggi di program studinya. Memiliki IPK 3,84 Hasna sangat bersyukur atas prestasi yang diraihnya.