Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 14/10/21). Pada hari Senin, 11 Oktober 2021, Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) secara daring menyelenggarakan kuliah umum etika profesi bagi calon wisudawan. Menghadirkan narasumber Dr. Yuli Fajar Susetyo, M. Si, Psikolog, dari Fakultas Psikologi UGM, kegiatan ini berjalan dengan baik dan lancar.

Dr. Sukarman, M. Eng selaku plt. Ketua STTN dalam sambutannya menekankan akan pentingnya etika dalam berprofesi bagi calon wisudawan yang sebentar lagi akan terjun ke dunia kerja. “Seorang lulusan, IPK bukanlah segala-galanya. Hal tersebut harus diimbangi dengan attitude serta kemampuan spiritual yang baik. Hardskill dan soft skill harus dilaksanakan dengan seimbang,” ungkapnya.

Sukarman berharap, penyelenggaraan kuliah etika profesi ini dapat memberikan bekal kepada calon wisudawan yang akan kembali ke masyarakat, masuk ke dunia kerja, sehingga perlu untuk memahami pentingnya sebuah etika.

Sementara itu, Yuli dalam materinya menyampaikan bahwa seorang pekerja akan terikat pada 3 pilihan, yaitu pekerja yang layak dikenang, pekerja yang layak dilupakan atau menjadi seorang pekerja yang wajib dilupakan. Menjadi seorang yang layak dikenang, biasanya karena 3 hal, yaitu karena: (1) melakukan usaha yang luar biasa, sehingga hasilnya adalah capaian besar / berdampak besar, (2) tidak memiliki prestasi yang besar, tetapi perjuangan yang dilakukannya besar, dan (3) tidak begitu hebat, tetapi dirinya memiliki sesuatu yang unik/ spesifik.

“Membangun kesuksesan bisa kita tentukan dari awal, kita mau menjadi seperti apa. Mencari pekerjaan itu merupakan proses yang melelahkan. Kita bisa ditolak beberapa kali dalam mencari kerja, sehingga dibutuhkan sebuah ketangguhan,” jelas Yuli. Menurutnya, tangguh menjadi kata kunci yang harus diingat seseorang saat mencari / menciptakan lowongan kerja serta saat menjalani sebuah pekerjaan. Tangguh bukan sesuatu yang secara tiba-tiba menggebrak tajam, tetapi kemampuan seseorang yang secara konsisten melakukan langkah rutin untuk mencapai suatu tujuan.

Lebih lanjut Yuli menyampaikan bahwa dalam psikologi, tangguh terbagi dalam 4 kategori, yaitu: Pertama, tangguh seperti peer besi. Orang yang akan sukses dalam karir, adalah orang yang sanggup untuk menahan beban derita, tapi tidak patah, dia mampu melenting.

Kedua, tangguh bagaikan bulldozer, bermental baja. Orang tangguh itu, harus kuat menghadapi rintangan, memiliki mental seperti baja, tidak mudah menyerah.

Ketiga, tangguh bagai kura-kura. Tangguh itu jangka panjang, bukan lari marathon. Harus mengatur tempo, tetapi akan sampai pada tujuan.

Keempat, tangguh sang pemimpin. Dia yang harus mampu beradaptasi, bukan menyalahkan orang lain atau lingkungan saat situasi kurang mendukung.

Selain menyampaikan pemaparan tentang ciri orang sukses, Yuli juga menyampaikan tentang strategi menghadapi wawancara serta factor penghancur dalam melaksanakan wawancara. (tek)