Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 13/10/21). Retnaning Setyorini, gadis kelahiran Nganjuk Jawa Timur ini mengawali langkahnya di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN-BATAN) karena kesukaannya dengan mata pelajaran Kimia pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Berhasil memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87 yang merupakan IPK tertinggi sebagai wisudawan Sarjana Terapan Teknik (S.Tr.T) STTN tahun 2021, bukan merupakan perjalanan yang mudah bagi Retna, panggilan dari Retnaning.

Tahun 2017 setelah lulus dari SMAN 1 Nganjuk, STTN menjadi pilihan utama bagi Retna, disaat harus memilih diantara beberapa Perguruan Tinggi lain yang menerimanya. Saat itu restu kedua orang tua belum sepenuhnya diberikan saat Retna menyampaikan ingin melanjutkan pendidikan di STTN. Hal tersebut disebabkan oleh ketakutan orang tua akan bahaya nuklir yang selama ini sering didengarnya.  Berkat kegigihan dalam meyakinkan orang tua, pada akhirnya justru sangat mendukung perjalanan Retna dalam menuntut ilmu kenukliran yang selama ini sangat diimpikannya.

Retna mengawali perjuangan di STTN BATAN dengan mendaftar melalui jalur Prestasi Non Akademik dengan melampirkan piagam pencak silat dari tingkat Kabupaten hingga Nasional yang didapatkan semasa SMA. Bekal Prestasi Non Akademik ini kemudian diimbangi dengan keaktifan Retna dalam kompetisi akademik selama kuliah di STTN.

Retna tercatat sering menyumbangkan medali melalui cabang olahraga pencak silat. Dimulai dari tahun 2017 mendapatkan Silver Medal (Juara 2) Pencak Silat Yogyakarta Championship kategori tanding kelas D putri. Kemudian pada tahun 2018, Retnaning mendapatkan Silver Medal (Juara 2) Pencak Silat Olimpiade Perguruan Tinggi Kedinasan (OPTK) kategori tanding kelas E putri. Berlanjut pada tahun 2019 Retnaning mendapatkan 2 medali, yang pertama Bronze Medal (Juara 3) Pencak Silat Olimpiade Perguruan Tinggi Kedinasan (OPTK) kategori tanding kelas D putri dan Silver Medal (Juara 2) Yogyakarta Championship kategori tanding kelas D putri.

Catatan prestasi akademik Retna antara lain mengikuti lomba karya tulis ilmiah di bawah bimbingan Fifi Nurfiana, M. Si (dosen TKN STTN). Bersama dengan anggota tim lainnya (M. Abduttawab dan Ilhami Ariyanti), tim berhasil menempati posisi semifinal dengan judul karya tulis Teknologi Gudeg Radiasi sebagai Solusi Ketahanan Pangan untuk Menuju Revolusi Industri 4.0 yang di selenggarakan oleh UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada April 2019, dan menempati posisi finalis dengan judul karya tulis ilmiah Teknologi Iradiasi Gamma sebagai Solusi Menjaga Ketahanan Pangan di Era Pandemi COVID-19 yang diselenggarakan oleh Universitas Sriwijaya pada Agustus 2021.

Retna juga aktif untuk mengasah softskill dengan mengikuti banyak organisasi baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Retna bergabung bersama DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) menjabat sebagai sekretaris pada saat masih tahun pertama kuliah. Pada tahun kedua Retna bergabung bersama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebagai anggota departemen internal, HIMA (Himpunan Mahasiswa) Teknokimia Nuklir sebagai kepala departemen internal, juga aktif dalam organisasi diluar kampus dimana menjadi wakil ketua dari IMAKARA (Ikatan Mahasiswa Kedinasan Nganjuk Raya) yang merupakan organisasi perkumpulan mahasiswa putra/putri daerah Nganjuk yang berkuliah di STAN, STIS, IPDN dan Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya.

Pada tahun kedua pula, Retna bergabung dengan organisasi KEMANGI (Keluarga Mahasiswa Nganjuk Se-Indonesia) yang merupakan perkumpulan dari mahasiswa asli Nganjuk yang berkuliah di ITS, UB, UI, dan banyak kampus besar di Indonesia dan Retna menjabat sebagai kepala departemen PSDM. Retna juga aktif terlibat pada banyak kegiatan kepanitiaan di kampus salah satunya Indonesia Nuclear Expo (INEXPO) yang merupakan event Internasional dan mengajarkan banyak hal bagi Retna.

Retnaning menyampaikan, “Saya selalu percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kuncinya cuma yakin, Imposibble is Nothing, tidak ada yang bisa menghalangi mimpi kita kecuali pikiran kita sendiri”, ungkapnya. Retna berharap dengan segala ilmu dan pengalaman yang sudah didapatkan, baik akademik maupun non akademik yang diperolehnya, dapat membantu menyiapkan dirinya saat terjun di dunia kerja. “Saya selalu bersyukur atas segala perjalanan yang telah saya lalui. Terima kasih untuk bapak/ibu dosen yang hebat dan seluruh civitas akademika yang sangat berbaik hati. Jayalah almamaterku,” tutupnya. (tek/rs)