Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 7/9/21). Pada hari Minggu 29 Agustus 2021, telah dilaksanakan kegiatan silaturahmi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan jajaran Pimpinan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) dan Pusat Sains Teknologi Akselerator (PSTA), sebagai satu Kawasan Nuklir Yogyakarta (KNY).

Busthomi dari Biro Perencanaan (BP) dalam pengantarnya menyampaikan sekilas sejarah STTN yang pada awalnya merupakan perguruan tinggi kedinasan yang berdiri pada tahun 1985 dengan nama Pendidikan Ahli Teknik Nuklir (PATN). Pada tahun 2001 bertransformasi menjadi STTN. STTN sebagai perguruan tinggi vokasi kenukliran di Indonesia memiliki fasilitas pembelajaran yang lengkap, seperti Iradiator, Betatron, menjadi lebih lengkap lagi dengan didukung fasilitas dari PSTA seperti Reaktor, Akselerator, Mesin Berkas Elektron dan juga yang sedang berkembang adalah pembelajaran jarak jauh dengan Internet Reactor Labolatory (IRL).

Edy Giri Rachman Putra, Ph.D yang ditunjuk sebagai koordinator pengembangan KNY berkesempatan menjadi fasilitator pada kegiatan tersebut. Edy Giri menegaskan bahwa ke depan STTN diharapkan akan menjadi pusat pendidikan kenukliran yang tidak hanya dikenal di Yogyakarta, namun juga Nasional bahkan meluas ke regional dikawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, L.T. Handoko selaku Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan, bahwa saat ini adalah masa transisi, yang mana terjadi perubahan kelembagaan dari STTN menuju Politeknik Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir). “BATAN menyatu ke dalam BRIN. Hal ini bukan sesuatu yang tidak disiapkan, sehingga langkah-langkah strategis sudah bisa dilakukan,” ungkapnya. Lebih lanjut Handoko menyampaikan bahwa langkah langkah tersebut antara lain percepatan status mengingat Organisasi Tata Kerja (OTK) secara prinsip sudah selesai. Wisuda pada tahun ini bisa dilaksanakan sebagai wisuda terakhir dari STTN sekaligus meresmikan berdirinya Poltek Nuklir.

Regulasi terkait dengan perguruan tinggi Kementerian lainnya akan segera turun, hal ini agar diikuti. Selain itu pengembangan riset nuklir juga harus diperkuat. Kawasan Nuklir Yogyakarta sebagai pusat Riset mestinya memang menggandeng kampus agar menjadi unggul. Untuk menjadi unggul diperlukan peningkatan kapasitas SDM yang tentu diharapkan unggul, dan revitalisasi dan pengembangan fasilitas yang ada.

STTN dan PSTA ke depan diharapkan akan menjadi center of excellent yang memiliki ke khas an yang tidak dimiliki di tempat lain, sehingga akan menjadikan kawasan ini sebagai pusat pembelajaran yang bisa dimanfaatkan oleh semakin banyak orang, harapannya, fasilitas yang ada akan mampu menghasilkan inovasi teknologi nuklir yang berkesinambungan, dan semakin dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kesejahteraan. (rtm)