Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 19/01/2021). Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir - Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN - BATAN), Edy Giri Rachman Putra, Ph.D menyampaikan laporannya terkait dengan perkembangan STTN kepada Sekretaris Utama (Sestama) BATAN, Ir. Agus Sumaryanto, MSM pada hari Kamis, 14 Januari 2021 dalam acara rapat Koordinasi dan Arahan Sestama BATAN. Kegiatan yang dilaksanakan secara berani tersebut, diikuti oleh seluruh pimpinan dan staf STTN BATAN.

Dalam presentasinya, Edy Giri mengawali dengan evaluasi capaian kinerja STTN tahun 2015 - 2019 serta beberapa indikator kinerja STTN yang harus masuk. Edy Giri juga menjelaskan tentang Milestone / Capaian penting STTN dalam kurun 2015 - 2019, yaitu: Pelaksanaan tracer study untuk mendapatkan profil lulusan (2016, 2017, 2019); perluasan jejaring internasional (2016 - 2019); Studi Program Akreditasi Ulang (2017); sistem informasi akademik STTN yang sudah terintegrasi dengan sistem informasi PNBP online: SINAU dengan SIMPONI (2017); terbentuknya ikatan alumni pada tahun 2017; revitalisasi sarana prasarana pendidikan (2017 - 2019); pelaksanaan magang mahasiswa internasional bagi mahasiswa STTN (2017 - 2019); peningkatan anggaran pendidikan (2017 - 2019); pelaksanaan kegiatan bertaraf regional dan internasional yang dilaksanakan di STTN (2017 - 2019); pengalihan aset BATAN Loka Jepara dari PKSEN ke STTN (2018); akreditasi dan sertifikasi oleh Sucofindo (2018); tambahan sertifikasi lulusan (2018 - 2019); penambahan dosen dan tenaga kependidikan PNS dan PPNPN (2017 - 2019); implementasi pelaksanaan kerja sama industri (2019); Dan beberapa dokumen baru untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi. “Capaian tersebut diperjanjikan sebagai capaian kinerja STTN di BATAN, tetapi hal tersebut dapat dicapai oleh STTN,” ungkapnya. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kedepannya untuk perbaikan dan peningkatan, yaitu indeks kepuasan masyarakat (IKM) dan biaya penilaian masyarakat (IKM).

Terkait dengan serapan lulusan STTN, Edy Giri menyampaikan bahwa lebih dari 50% alumni STTN bekerja di industri. Berdasarkan data alumni yang diperoleh, lebih banyak lulusan STTN yang diterima dengan sertifikasi yang dimiliki. Dengan memiliki sertifikasi kompetensi yang lebih, maka semakin banyak industri yang akan mengincar alumni STTN. Hal tersebut sejalan dengan Visi Indonesia Maju 2045 poin 1 yaitu pengembangan SDM, yang salah satunya melalui Pendidikan dan Pelatihan Vokasi . “Menjadi poin penting bagaimana STTN dapat berkontribusi dalam membangun SDM kedepannya menuju Indonesia Maju,” ungkapnya lebih lanjut. Oleh derajat, kedepan STTN untuk bisa menghasilkan SDM berkualitas dalam industri dunia, antara lain memasukkan konsep industri pengajaran dan menguatkan kurikulum yang terintegrasi sebagai Politeknik kedepannya untuk menghasilkan SDM yang terdidik, terlatih dan tersertifikasi.

Ubah paradigma kita menjadi perguruan tinggi vokasi. Sertifikasi kompetensi harus sesuai dengan kebutuhan industri, harus terus dikuatkan dengan terus berkomunikasi dengan industri, bagaimana kebutuhan pemangku kepentingan akan kebutuhan SDM nuklir, ”ungkap Edy Giri. Oleh karena itu, perlu diingatkan berdasarkan kebutuhan industri. STTN juga harus mulai membuka dosen atau memberlakukan (idealnya 50% PT dan 50% Industri), melaksanakan implementasi sistem, pengembangan industri pengajaran , pelatihan dan pemagangan dosen terutama di industri serta meningkatkan kerja sama dengan lembaga.

Adapun untuk mencapai visi STTN tahun 2045 yaitu menjadi perguruan tinggi vokasi teknologi nuklir berdaya saing global, maka yang harus dilakukan adalah pada tahun 2020 - 2025 STTN harus melakukan penguatan penyelenggaraan pendidikan vokasional teknologi nuklir dengan menjadi politeknik nuklir berstandar nasional (Akreditasi / sertifikasi Nasional A) ; tahun 2025 - 2030 adalah pengembangan penyelenggaraan pendidikan teknologi nuklir dengan penguatan menuju politeknik nuklir berdaya saing regional; tahun 2030 - 2035 melakukan penguatan pendidikan teknologi vokasional yaitu tingkat nuklir Asia dengan menjadi politeknik nuklir berdaya saing Regional;

Selain itu, Edy Giri juga menyampaikan terkait dengan lima poin dari rencana strategis (Renstra) STTN tahun 2020 – 2024, yaitu penguatan sebagai institusi pendidikan tinggi, penguatan akademik, pendayagunaan sumber daya dan kompetensi iptek nuklir, penguatan kelembagaan sebagai institusi pemerintah, dan penguatan sarana prasarana.

Di akhir presentasinya, Edy Giri kembali mengutip kalimat dari Wikan Sakarinto, M.Sc., PhD. (Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI) tentang pentingnya link and super match dengan industri, Dr. Vera Verkhuturova (Deputy DirectorEngineering School of Nuclear Science and Technology Tomsk Polytechnic University, Rusia) sehubungan dengan benchmarking terkait kurikulum Nuclear Teaching Industry dan Ir. Ramzy Siddiq Amier, Magister K3 (Direktur PT. Suparco Indonesia), terkait dengan lulusan STTN hendaknya menjadi NDT Technologist.  Pentingnya perubahan mindsetpendidikan vokasional dan industri juga perlunya orientasi pada kebutuhan industri serta pemangku kepentingan menjadi hal yang harus diperhatikan. (tek)