Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Jakarta, 05/12/2020). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menghasilkan lulusan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap bekerja di industri. Namun belajar di STTN, bukan berarti belajar membuat bom nuklir, melainkan aplikasi teknologi nuklir untuk kesejahteraan. “Jangankan orang awam, orang tua dari mahasiswa baru saja terkadang kaget ketika mendengar anaknya akan sekolah di STTN. Bukan untuk buat bom, teknologi nuklir memiliki banyak sekali manfaat yang bisa diaplikasikan,” ujar Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN, Edy Giri Rachman Putra, pada webinar seri – 2 bertajuk Strategi Penyiapan SDM Nuklir dalam Memenuhi Kebutuhan Industri Nasional, yang disiarkan live melalui konferensi video Zoom dan YouTube Humas BATAN, Sabtu (05/12).

Ia menuturkan, jika Universitas Gadjah Mada (UGM) mencetak lulusan SDM nuklir yang lebih banyak dibekali dari sisi keilmuan atau teori, STTN merupakan perguruan tinggi vokasi yang lebih banyak menerapkan kurikulum aplikatif atau praktik, sehingga lulusan STTN dapat siap kerja di berbagai bidang. “Alumni kita memang didesain langsung untuk siap bekerja di industri,” tuturnya.

Ia menguraikan, pada rentang tahun 2015 hingga 2019, lebih dari 50 persen lulusan STTN bekerja di industri, selebihnya menjadi PNS, wirausaha, ataupun melanjutkan studi.

“Keunggulan mahasiswa kami adalah dibekali dengan sertifikasi kompetensi bidang kenukliran, sehingga lulusan kami dapat dengan cepat terserap di dunia kerja,” imbuhnya.

Untuk mewujudkan visi STTN, yakni mewujudkan STTN menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing global, mahasiswa STTN juga dibekali dengan berbagai training dan magang dengan menjalin kerja sama dengan pemangku kepentingan baik di dalam maupun luar negeri.

“Misalnya mahasiswa kami melakukan magang di Synchrotron Light Research Institute (SLRI) Thailand sebagai fasilitas akselerator terbesar di Asia Tenggara. Ini tidak hanya membuka wawasan mereka, tapi juga mengasah soft skill bagaimana mereka beradaptasi di tempat baru. Sehingga nantinya mereka siap kerja tidak hanya di Indonesia, tapi juga mancanegara,” tambahnya.

Edy menambahkan, jika dibandingkan dengan bidang lain, dunia kerja nuklir mungkin tidak besar. Namun menurut data Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), saat ini terdapat 14.000 pemanfaatan izin penggunaan radiasi pengion ataupun zat radioaktif dari 4.000 institusi ataupun lembaga. “Artinya apa? Membutuhkan SDM juga bagaimana mengelola pemanfaatan radiasi pengion ataupun zat radioaktif, untuk menjaga keselamatan dan keamanan pekerja, masyarakat, dan lingkungan dari bahaya radiasi yang mungkin bisa terjadi dan tentu tidak kita inginkan,” katanya.

I Wayan Adi Chandra, dari PT. Gamma Mitra Lestari mengatakan tren kedepan, pemanfaatan teknologi nuklir akan semakin meningkat di bidang kesehatan.

“Di bidang industri sudah cukup banyak, kedepan juga di bidang kesehatan akan cukup berkembang. Lulusan STTN  sangat siap bekerja dengan bekal pengetahuan dan sertifikasi yang dimiliki, namun perlu terus membuka wawasan dengan teknologi yang semakin berkembang,“ tuturnya (tnt).