Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 24/05/2017) – “Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Yogyakarta (STTN) adalah perguruan tinggi kedinasan yang menghasilkan tenaga profesional di bidang iptek nuklir,” demikian  disampaikan Ketua STTN, Edy Giri Rachman Putra, Ph.D. pada acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Dormitory dan Gedung Irradiator di Yogyakarta, Rabu (24/05).

“Irradiator itu nantinya tidak semata-mata untuk praktikum mahasiswa saja, namun yang lebih penting adalah untuk meningkatkan kemampuan dan memberikan sesuatu yang berharga kepada masyarakat,” kata Edy Giri.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto dalam kesempatan tersebut menyampaikan, selain fokus pada pendidikan, kedepannya nanti, kawasan nuklir Yogyakarta akan lebih mendunia, tidak hanya nasional saja. “Cita-citanya adalah bagaimana ada STTN, ada Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA), dan banyak fasilitasnya, sehingga bisa memberikan sesuatu baik untuk masyarakat sekitar, masyarakat Yogyakarta sendiri, dan juga untuk nasional dan internasional,” kata Djarot.

Menurut Djarot , Kawasan Nuklir Yogyakarta ada semacam education center yang cukup lengkap, seperti ada reaktor, akselerator, irradiator, ada pula proses logam tanah jarang, zirkon, dan banyak lagi.  Untuk mewujudkan itu, tantangan terberat adalah  Sumber Daya Manusia (SDM) yang mulai menua. Djarot optimis, dengan dididiknya dara muda di STTN, maka masa depan teknologi nuklir itu makin cerah dan baik di Indonesia.

Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, Suprapto, ST disela-sela acara mengatakan bahwa irradiator ini, dibeli dari perusahaan Izotop Hongaria. Model yang akan dipakai adalah Servo Ignis, dengan kapasitas 12.000 currie. Saat ini pembangunannya dikerjakan oleh mitra lokal perusahaan Gamma Mitra Lestari yang direktur utamanya adalah Riyanto, juga alumni mahasiswa STTN Yogyakarta.

Iradiator ini nantinya akan digunakan untuk penelitian misalnya pengawetan makanan, sayur mayur dan buah-buahan. Selain itu juga untuk penelitian mikrobiologi, material, medis, dan lingkungan hidup. Irradiator dibangun dengan luasan 18 X 6 meter, yang direncanakan  selesai di bulan Oktober 2017 ini.

Dengan adanya irradiator, STTN Yogyakarta membuka diri bagi perguruan tinggi lain untuk melakukan kerja sama penelitian di bidang yang terkait pada pemanfaatan irradiator tersebut. Selain dibangun fasilitas iradiator, dibangun juga dormitory dengan luasan 1.700 meter persegi yang terdiri dari 3 lantai. (bw)