Slide item 1

Padi hasil pemuliaan tanaman dengan teknik nuklir mampu menghasilkan produksi tinggi, adaptif pada kondisi iklim Indonesia, umur genjah, kualitas beras bagus, rasa nasi pulen dan enak.

Slide item 2

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide item 3

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Slide item 4

Iradiator Gamma dan Mesin Berkas Elektron untuk berbagai proses iradiasi seperti polimerisasi, grafting, mutasi tanaman, sterilisasi/pengawetan bahan, pelapisan permukaan bahan

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 22/04/2019). Perubahan iklim yang tidak menentu berpengaruh terhadap adaptasi dan produktivitas tanaman. Pemuliaan mutasi tanaman dengan teknologi nuklir mampu membuat tanaman dapat cepat beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, diantaranya kekeringan dan suhu tinggi.  15 peserta dari  6 negara Kawasan Asia Pasifik, yakni Papua New Guinea, Palau, Fiji, Vanuatu, Indonesia, dan Ethiopia mengikuti Regional Training Course on Plant Mutation Breeding to Improve Crop Resilience to Climate Change in the Pacific Islands (RAS5079)  yang diselenggarakan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta. Kegiatan ini akan berlangsung selama satu pekan kedepan, yakni 22 hingga 26 April 2019.

Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN sekaligus sebagai Local Organizer pada kegiatan ini, Soeranto Human mengatakan, tujuan dari pelatihan  ini adalah untuk membantu negara-negara di kawasan Asia Pasifik terutama Kepulauan Pasifik dalam pengembangan pemuliaan mutasi tanaman. “Tujuannya adalah untuk memperkuat pengembangan kapasitas pemuliaan mutasi tanaman bagi generasi-generasi muda di Kawasan Asia Pasifik,”  jelasnya saat diwawancara di sela-sela kegiatan, Senin (22/04).

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan BATAN sebagai IAEA Collaborating Center (CC). Untuk kegiatan kali ini, pelatihan difokuskan pada pemuliaan mutasi tanaman padi dan pisang. Soeranto menambahkan, Indonesia termasuk negara yang unggul dalam hal pemuliaan mutasi tanaman.

“Dampak perubahan iklim yang paling dominan itu kekeringan. Indonesia sudah leading, kami sudah melepas banyak varietas padi, dan beberapa diantaranya tahan terhadap kekeringan,” jelasnya.

Dampak perubahan iklim lainnya adalah suhu tinggi yang dapat mengakibatkan kondisi stres pada tanaman. “Kalau tanaman pisang kami melakukan penelitian yang toleran terhadap suhu tinggi, karena suhu tinggi berakibat kurang baik pada tanaman. Suhu tinggi artinya di atas 34 derajat celcius,” tuturnya.

Selain dikenalkan kegiatan pemuliaan mutasi tanaman di Indonesia dan IAEA CC, peserta akan mendapat materi berkaitan dengan topik pelatihan oleh IAEA Expert dari India, Suprasanna Penna.

Soeranto menambahkan, kegiatan – kegiatan IAEA CC dapat berupa pelatihan, pertemuan para ahli, dan riset. Untuk kegiatan riset, Indonesia telah mengirimkan bibit pemuliaan mutasi tanaman padi, sorgum, dan kedelai ke Laboratorium IAEA di Seibersdorf, Austria agar dapat digunakan oleh negara-negara anggota IAEA.

“Kami menggunakan bibit mutan BATAN, kami lakukan penelitian di Seibersdorf. Kami sudah kirim bibit mutan tanaman padi, sorgum, dan kedelai untuk marker development yang tahan kekeringan. Kalau itu berhasil, marker itu akan digunakan oleh negara - negara Asia Pasifik untuk seleksi tanaman. Jadi Indonesia itu kontribusinya besar ke Seibersdorf,” ucapnya.

Sedangkan untuk kegiatan pelatihan, menurutnya terbagi menjadi dua kelompok, yakni fellowship training dan individual training. Setidaknya dalam satu tahun, kegiatan CC menyelenggarakan tiga kali pelatihan serupa.

“Untuk individual training bulan Juli nanti kami akan menerima 2 orang dari Kongo, 2 orang dari Togo, 6 orang dari Nepal, dan 2 orang dari Malaysia,” tuturnya (tnt).