Slide item 1

Padi hasil pemuliaan tanaman dengan teknik nuklir mampu menghasilkan produksi tinggi, adaptif pada kondisi iklim Indonesia, umur genjah, kualitas beras bagus, rasa nasi pulen dan enak.

Slide item 2

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide item 3

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Slide item 4

Iradiator Gamma dan Mesin Berkas Elektron untuk berbagai proses iradiasi seperti polimerisasi, grafting, mutasi tanaman, sterilisasi/pengawetan bahan, pelapisan permukaan bahan

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Serang, 20/03/2019). Varietas mutasi radiasi Banten atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mustaban telah dilepas oleh Kementerian Pertanian pada Desember 2017 lalu. Director of the Joint FAO/IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture (NAFA), Mr. Qu Liang, dalam rangkaian kunjungan kerjanya berkesempatan menemui dan berdiskusi langsung dengan para penangkar benih dan petani di Desa Kasemen, Serang, Banten. Kedatangan Liang ini bertujuan untuk mendengarkan pengalaman dari penangkar benih dan petani yang menggunakan varietas benih padi unggul BATAN yang ke – 22 tersebut.

Menurut data Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Dinas Pertanian, Provinsi Banten, benih pokok tanaman varietas Mustaban yang merupakan perbaikan dari varietas padi lokal asal Banten, yakni Kewal , kini telah ditanam di lahan seluas 36.5 hektar di Provinsi Banten, antara lain di Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kepala Seksi Perbenihan Tanaman, BPTPH, KMS Ismail mengatakan, Mustaban memiliki panjang malai, dan bulir padi yang bagus, Namun ketika hendak panen, hampir 50 persen rebah. “Harapan kami,  Mustaban ini, kan, perbaikan varietas lokal asli Banten, kedepan bisa diperbaiki kembali sehingga tanamannya jadi lebih pendek, dengan tetap mempertahankan bentuk malai yang lebih panjang dan bulirnya lebih banyak”, sarannya saat berdiskusi dengan Liang dan perwakilan dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), di Kantor BPTPH, Serang (20/03).

Senada dengan  Ismail, salah satu penangkar benih di Desa Kasemen, Serang, Tatang, berbagi pengalamannya bahwa selama menanam benih Mustaban, ia tidak menggunakan insektisida, namun mudah rebah. “Kami tidak melakukan aplikasi dengan insektisida, jumlah anakan juga di atas 40 persen yang produktif, begitu keluar malai, walang sangit tidak ditemukan, namun tingginya membuat rebah. Saran kami ini (Mustaban) perlu diradasi kembali supaya lebih pendek” ungkap Tatang.

Penangkar benih lainnya, Hamid juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, daerah Pontang, Serang, merupakan endemis hama wereng. Namun ketika ia menanam Mustaban, hal itu tidak terjadi. “Saya masih optimis menanam Mustaban, mungkin karena musim hujan jadi mudah rebah, tapi kalau lihat tanamannya bagus, apalagi di daerah saya endemis hama wereng, alhamduillah tidak terkena dengan Mustaban, hanya tingginya saja yang perlu diperbaiki, ungkapnya.”

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Aplikasi dan Isotop Radiasi (PAIR) BATAN mengajak Dinas Pertanian Serang, para penangkar benih dan  BATAN untuk mengevaluasi bersama hal ini, mengingat, Mustaban merupakan perbaikan varietas lokal Kewal dengan spesifikasi tinggi tanaman 106 cm, yang semula tingginya mencapai  180 cm. Selain itu, rata-rata produksi mencapai 6,59 ton per hektar yang semula hanya 2.4 ton per hektar. Presentase beras kepala mencapai 92.48 persen dengan kandungan kadar amilosa 13,3 persen.

Ia mengatakan bahwa evaluasi perlu mencakup tidak hanya dari sisi benihnya saja,tetapi bagaimana sistem pemupukan dan keadaan tanah yang disesuaikan dengan kondisi tanaman. Terlebih, masalah yang dihadapi di daerah Serang dan sekitarnya ini tidak ditemukan di daerah lain di luar Serang ketika menanam Mustaban. “Bapak-Bapak yang perlu dipahami, bahwa radiasi itu bukan obat dari segala-galanya, bukan berarti sekarang mudah rebah lantas perlu diradiasi kembali. Menurut saya, kita perlu mengevaluasi bersama, apakah dari sistem pemupukannya yang kurang tepat atau kondisi tanah yang perlu disesuaikan dengan varietas Mutaban, karena untuk daerah di luar Serang, hal itu tidak dialami,” jelasnya.

Kunjungan kerja Liang kemudian dilanjutkan dengan meninjau langsung area lahan produksi penanaman benih pokok tanaman varietas Mustaban. Liang kemudian dijadwalkan akan bertemu dengan Dinas Pertanian Kabupaten Klaten dan meninjau Kawasan Agro Techno Park (ATP), Klaten, Jawa Tengah esok hari, Kamis (21/03) (tnt).