banner hut ri
BATAN HUT RI
POSTER WBS
hari lingkungan
hari pancasila
banner protokol covid
Maklumat Pelayanan
indeks kepuasan masyarakat
banner anti gratifikasi
poster anti narkoba
pdl meuju wbbm
Slide item 6
Slide item 7
Slide item 3
Slide item 4
Slide item 5
Slide item 5

(Jakarta, 01/11/2021). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pengembangan Kompetensi - Deputi Bidang Sumber Daya Manusia  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, menggelar Regional School on Nuclear Security (RSNS) for Asia and the Pacific. RSNS rutin diselenggarakan setiap 2 tahun sekali sejak 2014, yang dirancang untuk memberikan kesempatan para SDM muda profesional dari Kawasan Asia dan Pasifik dengan pengetahuan dasar tentang keamanan nuklir, untuk memahami persyaratan internasional di bidang keamanan nuklir dan langkah-langkah yang harus diambil, dalam rangka memenuhi kewajiban di bawah kerangka hukum keamanan nuklir internasional.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi – BRIN, Edy Giri Rachman Putra, mengatakan, penelitian dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1954. Penelitian dan pemanfaatan tersebut bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Kami menyadari bahwa penelitian dan pemanfaatan nuklir harus dilaksanakan secara aman dan selamat. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk secara aktif memberikan kontribusi dan partisipasi dalam memperkuat keamanan nuklir,” katanya saat memberikan sambutan, secara daring, Senin (01/11).

Salah satu cara dalam penguatan keamanan nuklir, lanjut Edy Giri, adalah melalui program pendidikan dan pelatihan. BRIN memiliki inisiatif untuk berkontribusi dalam peningkatan kapasitas SDM melalui penyelenggaraan pelatihan bagi para pemangku kepentingan di tingkat lokal, regional, dan internasional. RSNS ini merupakan salah satu inisiatif BRIN, dimana RSNS sebelumnya telah diselenggarakan sebanyak 3 kali, yakni pada tahun 2014 dan 2016, oleh Organisasi Riset Tenaga Nuklir (sebelumnya bernama BATAN), dan 2018 oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir.

“RSNS bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi para SDM muda profesional di bidang keamanan nuklir untuk berkontribusi dalam memperkuat keamanan nuklir nasional dan global,” imbuhnya.

Edy Giri menekankan, walaupun saat ini BATAN telah terintegrasi ke dalam BRIN mulai September 2021, namun integrasi ini tidak akan menghentikan pelatihan terkait keamanan nuklir.

“Kami akan tetap melanjutkan program pelatihan keamanan nuklir serta program peningkatan kapasitas nuklir lainnya, dan kami akan melanjutkan kegiatan kerja sama kami dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) di masa depan,” katanya.

Director of the IAEA Nuclear Safety and Security, Elena Buglova menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia melalui BRIN yang telah menyelenggarakan RSNS di tengah pandemi Covid-19.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah Indonesia, karena tahun ini merupakan tahun yang sangat menantang di tengah pandemi Covid-19, namun tidak menghentikan kegiatan kita dalam pembangunan kapasitas manusia, khususnya di bidang keamanan nuklir,” ucapnya.

RSNS diikuti oleh para SDM muda profesional dari negara Asia dan Pasifik, yakni Indonesia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Sri Lanka, dan Thailand. RSNS yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini akan berlangsung pada tanggal 1 hingga 12 November 2021. RSNS dikemas dalam bentuk serangkaian kuliah dan latihan praktis, yang dirancang untuk menggabungkan pengetahuan yang diperoleh kedalam perencanaan dan prosedur nasional untuk melindungi ancaman keamanan nuklir. RSNS ini merupakan bagian dari serangkaian pelatihan internasional dan regional tentang keamanan nuklir yang diterapkan IAEA di banyak wilayah dan dalam berbagai bahasa. (tnt).