PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

(Jakarta, 22/06/2021) Bertempat di sebuah Coffee Shop (Coffee Djoglo) di Desa Sidaharja, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Komunitas Muda Nuklir Nasional (Kommun) memprakarsai acara Ngopi Bareng Kepala BATAN. Acara yang dikemas santai ini bertujuan untuk berdialog antara Kommun, para anggota kelompok tani dengan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Kommun merupakan sebuah komunitas yang beranggotakan generasi muda yang mempunyai ketertarikan dan kepedulian terhadap perkembangan iptek nuklir di Indonesia. Melalui Kommun inilah penduduk desa Sidaharja dikenalkan dengan salah satu pemanfaatan iptek nuklir di bidang pertanian.

Berawal dari pemberian benih oleh Pusat Diseminasi dan kemitraan (PDK) kepada Kommun sebanyak 2 kg varietas padi sidenuk untuk ditanam di lahan percontohan di Desa Sidaharja. “Setelah mengikuti acara webinar sekitar bulan Desember 2020, saya diberi benih varietas unggul Sidenuk oleh PDK,” kata Kepala Departemen Humas Kommun, Fery Wahyu Ramadhan, Kamis (17/06).

Merasa benih yang diberikan PDK kurang untuk lahan di Desa Sidaharja, Fery mengajukan proposal untuk diberikan benih yang cukup untuk luasan lahan 2 hektare. Ternyata proposal tersebut disetujui dan diberikan benih sebanyak 65 Kg.

Menurut Fery, pada mulanya masyarakat tidak terlalu tertarik untuk menanam padi varietas dari BATAN. “Sebelum mengetahui hasilnya, para petani disini kurang tertarik untuk menanam benih dari BATAN, mereka lebih memilih varietas yang sudah biasa ditanam,” tutur Fery.

Pada panen yang pertama, kata Fery, ia bersama anggota Kommun tidak sempat menimbang tonasenya, tapi menurut para petani hasilnya cukup memuaskan bahkan lebih banyak ketimbang varietas lainnya. Dengan melihat hasil yang sangat baik itulah, kemudian para petani lainnya yang semula kurang tertarik untuk menanam padi varietas BATAN akhirnya bersedia menanamnya.

Selain varietas padi hasil litbang BATAN, Kommun juga mengenalkan varietas kacang tanah yakni Kantantan 1 kepada masyarakat di desa Sidaharja. Dengan memanfaatkan lahan miring yang selama ini tidak difungsikan, Kommun bersama beberapa masyarakat setempat memanfaatkannya dengan menanami kacang tanah Kantantan 1.

Meskipun ditanam di lahan miring dan terjal, Fery menuturkan, hasilnya sangat bagus dan sesuai dengan spesifikasinya yakni rata-rata berbiji tiga. “Tidak perlu perawatan khusus yang penting kita tahu kapan harus dialiri air, dan ini hasilnya bagus,” tuturnya.

Sama seperti waktu menanam varietas padi, ungkap Fery, pada mulanya masyarakat enggan untuk menanam kacang tanah varietas Kantantan 1 ini, namun setelah melihat hasilnya justru banyak yang meminta untuk diberikan benihnya dan bersedia menanam di lahannya masing-masing.

Dengan melihat langsung hasil panen baik varietas padi dan kacang tanah dari BATAN, diharapkan masyarakat lebih mengenal pemanfaatan iptek nuklir di bidang pertanian. “Harapannya Kecamatan Lakbok ini bisa dijadikan sebagai laboratorium implementasi iptek nuklir di bidang pertanian,” imbuhnya.

“Kommun dan masyarakat Kecamatan Lakbok akan menjadi agen diseminasi produk litbang BATAN kepada masyarakat,” harapnya.

Varietas Kacang Tanah BATAN

Pemanfaatan iptek nuklir di bidang pertanian oleh BATAN, selama ini didominasi pada pengembangan varietas padi. Hal ini tidak dipungkiri mengingat beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Selain itu, keanekaragaman varietas padi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia juga sangat beragam dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berbagai kekurangan atau kelemahan dari beberapa varietas itulah yang mendorong para peneliti untuk melakukan inovasi berupa perbaikan varietas dengan memanfaatkan iptek nuklir.

Namun demikian, pemuliaan terhadap tanaman pangan yang lain juga dilakukan, tepatnya pada tahun 2017, BATAN telah melepas satu varietas kacang tanah yang diberi nama Katantan 1 yang merupakan singkatan dari Kacang Tanah BATAN. Katantan ini menurut seorang pemulia tanaman dari Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Parno, bahwa Katantan 1 berasal dari varietas Kidang yang sudah dilepas sekitar tahun 1950 an oleh Kementerian Pertanian.

Menurut Parno, pemuliaan terhadap kacang tanah ini dimulai ketika para pemulia tanaman di BATAN menemukan adanya ketidakseragaman warna kulit ari pada kacang varietas Kidang yakni berwarna putih. “Melalui iptek nuklir, kami diminta untuk melakukan perbaikan varietas agar warna kulit ari pada kacang menjadi seragam,” tutur Parno.

Dengan memanfaatkan sinar radiasi gamma, perbaikan terhadap varietas kacang tanah Kidang menghasilkan varietas baru yang lebih baik. Dari segi potensi hasil, Katantan 1 bisa menghasilkan 2,73 ton/ha, ini lebih tinggi dibandingkan varietas Kidang yakni 1,8 ton/ha.

“Keunggulan lainnya terletak pada bijinya, dimana rata-rata biji Katantan 1  perpolong tiga. Selain itu, Katantan 1 tahan terhadap penyakit karat, dan tidak mengandung aflatoxin (carsiogenic) yaitu zat yang menyebabkan kanker,” tambah parno.

Kemandirian masyarakat dalam penyediaan benih varietas BATAN

Kesempatan bisa bertemu dengan komunitas anak muda yang peduli dengan iptek nuklir ini menjadi momentum yang langka bagi Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan. Apalagi pada pertemuan ini juga hadir para petani sebagai stakeholder yang langsung memanfaatkan hasil litbang BATAN.

Mengawali bincang-bincang dengan peserta Ngopi Bareng Kepala BATAN, Anhar menyampaikan rasa bangga kepada Kommun yang telah membantu BATAN dalam mengenalkan produk litbang BATAN kepada masyarakat. “Saya sangat bangga dengan Kommun, sebagai anak muda yang mempunyai kepedulian terhadap para petani dengan mengenalkan aplikasi iptek nuklir di bidang pertanian kepada masyarakat,” ujar Anhar.

Pertemuan ini bagi Anhar, dimanfaatkankan sebaik-baiknya untuk berdialog tentang kendala yang dihadapi para petani di lapangan dalam menanam varietas BATAN. Berbagai pertanyaan tentang penyediaan benih varietas BATAN juga dilontarkan oleh para peserta.

Menanggapi soal penyediaan benih, Anhar menegaskan bahwa BATAN hanya menyediakan benih BS atau disebut sebagai benih penjenis, dan jumlahnya juga terbatas. Untuk itulah, diharapkan masyarakat petani yang sudah mendapatkan bantuan benih dari BATAN agar dapat mengembangbiakkan sendiri dan disebarluaskan kepada para petani lainnya.

“BATAN hanya memproduksi benih penjenis saja, jadi diharapkan masyarakat dapat memperbanyak benih tersebut sehingga terwujud kemandirian dalam penyediaan benih,” tambahnya.

Upaya pengembangan varietas padi oleh BATAN, menurut Anhar, merupakan salah satu bentuk kontribusi iptek nuklir di Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan perekonomian khususnya para petani. (Pur)