sucofindo
SDM Nuklir
HUT RI
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
peresmian gedung radiosiotop
korupsi
kedelai
Radiofarmaka

Reaktor Kartini dibangun mulai akhir 1974 dan beroperasi pada januari 1979, salah satu fasilitas yang dimilki pusat penelitian bahan murni dan instrumentasi (ppbmi) – batan yogyakarta, tipe reaktor kolam dengan daya 100 kwatt, didesain untuk tujuan penelitian, latihan dan pendidikan.

PENGANTAR

Reaktor Kartini berada di Pusat Penelitian Bahan Murni dan Instrumentasi (PPBMI) – BATAN Yogyakarta. Lokasi PPBMI terletak pada Km 7 disebelah timur Yogyakarta, ± 500 meter masuk ke sebelah utara jalan Yogyakarta – Solo. Tempat ini termasuk wilayah Kabupaten Sleman, Kecamatan Depok, Kelurahan Catur Tunggal. Luas komplek PPBMI termasuk pengembangannya sebesar ± 12 ha.

Reaktor Kartini terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu fasilitas yang miliki oleh Pusat Sains dan Teknologi Akselerator-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PSTA-BATAN). Mulai dibangun pada tahun 1974 dan pertama kali beroperasi pada tahun 1979. Reaktor Kartini merupakan reaktor riset jenis TRIGA (Training Research Isotop production/Irradiation General Atomic) dengan disain sebagai reaktor tipe kolam 250 kW dengan daya operasi 100 kW. Reaktor Kartini dimafaatkan untuk tujuan Penelitian, Irradiasi, Pendidikan dan Pelatihan.

Pembangunan reaktor Kartini dimulai pada akhir tahun 1974. Pelaksana pembangunan seluruhnya ditangani oleh tenaga-tenaga ahli Indonesia dalam hal ini BATAN yang didalam pelaksanaannya ditugaskan kepada sebuah kelompok yang disebut Team Pembangunan Reaktor yang dibentuk menurut SK Dirjen BATAN No. 119/DJ/13/XI/1974 tertanggal 13 Nopember 1974. Reaktor Kartini mencapai kondisi kritis untuk pertama kalinya pada hari Kamis 25 Januari 1979 jam 17.40 WIB, diresmikan pada tanggal 1 Maret 1979 oleh Bapak Presiden RI saat itu yakni Bapak Soeharto. Fungsi utama adalah untuk sarana penelitian, irradiasi, pendidikan dan latihan kader-kader dalam bidang reaktor. Operasi reaktor dilakukan pada tingkat daya 100 kWatt.

Reaktor Serba Guna didesain dan dibangun oleh Interatom GMBH dari Republik Federasi jerman. Bangunan sipil dan prasarana fisik dikerjakan oleh kontraktor dalam negeri. Pembangunan reaktor serba guna berlangsung sekitar empat tahun, yaitu sejak tahap ekskavasi gedung pada bulan Mei 1983 sampai dengan reaktor kritis pada bulan Juli 1987. Akhirnya pada bulan Maret 1992 berhasil dicapai operasi reaktor pada daya penuh 30 MW.

Dalam operasionalnya sehari-hari RSG GA Siwabessy dijalankan dengan besar kapasitas 15 Mw untuk efisiensi. kapasitas itu sudah cukup untuk kegiatan penelitian, produksi isotop untuk bidang industri hingga kesehatan, tes maupun uji material, percobaan ilmu pengetahuan, dan lainnya.

Dijalankan sepenuhnya oleh tenaga ahli Indonesia, reaktor- reaktor BATAN telah berfungsi selama puluhan tahun dengan aman dan selamat tanpa mengalami insiden. Proses pengamanan di reaktor memakai sistem keselamatan berlapis untuk meminimalisir dampak kerusakan ke manusia dan lingkungan sekitar.

"Aktivitas nuklir di Indonesia meningkat dengan beroperasinya reaktor riset di Bandung, Yogyakarta dan Serpong."

kondisi kritical dicapai pada tanggal 16 Oktober 1964 jam 18.37. Eksperimen dipimpin oleh Djali Ahimsa dan Soetarjo Soepadi sebagai operator utama dengan bimbingan dan pengawasan Dr wittemore.
Pada Sabtu tanggal 20 Februari 1965 Presiden Soekarno meresmikan berdirinya Pusat Reaktor Bandung (PRAB- BATAN) dengan reaktor Triga Mark II yang beroperasi pada daya 250 kw.