hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Serpong – Humas BRIN. Warisan budaya atau Cultural Heritage adalah peninggalan kebudayaan yang mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian yang penting untuk dijaga dan dilestarikan. Salah satu metode untuk melakukan riset dan perawatan sekaligus tetap menjaga keutuhan dan keaslian dari suatu benda warisan budaya adalah dengan memanfaatkan teknologi radiasi dan teknik nuklir.

Deputi Direktur Thailand Institute of Nuclear Technology (TINT), Thawatchai Onjun dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar para periset dapat saling berbagi ilmu pengetahuan untuk kepentingan cagar budaya, “dalam kesempatan ini mari kita saling berbagi pengetahuan, informasi juga mempromosikan pemanfaatan teknologi nuklir untuk pelestarian cagar budaya,” ujar Thawatchai Onjun.

Peneliti Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN)- Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bharoto menjelaskan bahwa Indonesia saat ini telah memiliki dan memaanfaatkan teknologi radiasi dalam melakukan riset termasuk untuk penelitian peninggalan budaya nusantara. “Reaktor riset digunakan untuk berbagai keperluan penelitian, dimana beberapa instrumennya ada di Laboratorium Hamburan Neutron, ada pula fasilitas radiografi neutron, dimana kita menggunakan sumber neutron dari reactor G.A. Siwabessy, ” jelas Bharoto.

Bharoto juga mempersilakan bagi para peneliti untuk bekerja sama sekaligus memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh BRIN. “Kami ingin memanfaatkan fasilitas neutron untuk riset arkeologi, selain memiliki fasilitas hamburan neutron, kami juga memiliki Gamma & X-Ray Computed Tomography dan Nuclear Analitycal Techniques(NAT), jika anda tertarik untuk menggunakan fasilitas ini, bisa menghubungi kami secara langsung”, ungkap Bharoto dalam paparanya dengan judul Riset Arkeologi menggunakan Reaktor Riset Nuklir di Indonesia.

“Kami berharap untuk bisa berkolaborasi dengan para periset, dan kita juga memiliki rencana untuk mengundang periset untuk bisa bergabung dengan grup riset kami dalam program doktoral ataupun professor riset,” tambahnya.

Teknik Nuklir Bantu Arkeolog Restorasi dan Konservasi Cagar Budaya ASEAN

Manajer Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Nuklir – TINT, Kanokporn Boonsirichai mengungkapkan bahwa pihaknya juga memanfaatkan teknologi nuklir untuk preservasi cagar budaya. “Thailand sendiri, khususnya TINT telah menggunakan beberapa teknik nuklir untuk melakukan preservasi terhadap cagar budaya kami. Teknik nuklir yang kami gunakan seperti dengan menggunakan Radiocarbon untuk mengetahui umur fosil purbakala juga dengan Uji Tak Rusak (Non Destructive Test) untuk mengungkap teknologi yang dipakai di masa lalu ataupun untuk untuk mengungkapkan sejarah yang tersembunyi pada suatu artefak, ” ungkapnya.

“Institut Teknologi Nuklir Thailand kedepan juga sedang mempersiapkan untuk mempergunakan teknik Particle-induced X-ray emission (PIXE) yaitu teknik analisis unsur menggunakan berkas partikel berenergi tinggi sebagai probe dan sinar-X karakteristik dari unsur-unsur sebagai sinyal analitis,” tambah Kanokporn.

Pakar analis struktur Xray, dari Departemen Kimia, Universitas Antwerp, Belgia, Koen Janssens, menceritakan bahwa Belgia menggunakan teknik X – Ray untuk menganalisa lukisan kuno. Dengan metode X – Ray radiografi, lukisan kuno yang sudah usang bisa mendekonstruksi rakitan cat yang kompleks pada suatu karya lukis secara horizontal dan vertikal kemudian memberikan analisis tentang proses produksi karya tersebut secara mengenai teknik melukis serta gaya lukis pembuatnya.

Teknik ini juga dilakukan oleh Museum Louvre di Perancis, mereka merestorasi karya lukis kuno yang sudah usang dengan teknik X – Ray, X – Ray Imaging, Radiografi, Emissiografi dan Tomografi. C2RMF menggunakan Tomografi untuk melakukan rekonstruksi struktur, restorasi pada bagian tertentu, fabrikasi ataupun ukuran suatu benda.

Pembahasan pemanfaatan teknologi nuklir untuk preservasi cagar budaya dilakukan pada acara simposium yang dilakukan secara virtual dengan tema “Application of Radiation Techniques for Cultural Heritage Research”, pada 22-23 Maret 2022 , di Bangkok, Thailand. Simposium ini diselenggarakan oleh ASEAN Large Nuclear and Synchrotron Facility Network (LNSN). Acara ini seharusnya diselengaraakan tahun 2019, tetapi tertunda selama dua tahun karena pandemi Covid-19.

LNSN sendiri merupakan wadah bagi para civitas bidang nuklir untuk saling berbagi informasi dan promosi mengenai sumber daya manusia atau teknologi nuklir yang dikembangkan di negaranya. Tujuan dari kegiatan simposium ini diantaranya adalah sebagai wadah bagi para periset ditingkat regional ASEAN untuk mendapatkan fasilitas untuk keperluan riset warisan budaya. Selain itu juga untuk menguatkan kolaborasi secara teknis dan meningkatkan kontribusi penelitian terhadap warisan budaya terutama di kawasan ASEAN. (yrt, SET/ed:pur)