hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Serpong – Humas BRIN.  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), terus melakukan pengembangan teknologi energi nuklir, untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.

Pengembang Teknologi Nuklir Ahli Utama ORTN - BRIN, Suparman, menjelaskan, ada 3 tahapan dalam pendirian PLTN di Indonesia. Tahap pertama adalah pertimbangan menuju penetapan pelaksanaan proyek. Kemudian tahap kedua adalah persiapan pelaksanaan konstruksi, dan tahap ketiga adalah implementasi pembangunan dan pengoperasian PLTN.

Saat ini, Indonesia masih berjalan di tahapan pertama karena ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, salah satunya yaitu pembentukan Nuclear Energy Program Implementation organization (NEPIO), sebagai organisasi yang bertugas mempersiapkan pembangunan PLTN.

“Kita baru di tahapan pertama, salah satu hal yang masih kurang adalah organisasi, karena untuk melaksanakan atau mengimplementasikan energi nuklir ini perlu organisasi. Saat ini NEPIO belum terbentuk, termasuk owner atau operator PLTN,” kata Suparman, pada Webinar Ikatan Ahli Teknik Kelistrikan Indonesia (IATKI) Engineering Lecture (IEL32), dengan tema Pengembangan PLTN di Indonesia dan Tinjauan Keekonomiannya, Sabtu (19/3).

Walau hanya rekomendasi, lanjut Suparman, kenyataannya memang tidak ada negara yang akan membangun PLTN jika tidak mempunyai NEPIO.

“Jika tidak ada NEPIO, berarti tidak siap dari sisi infrastruktur, dan tidak ada koordinasi penyelenggaraan,” imbuhnya.

Suparman berharap, pemerintah segera mengambil komitmen untuk Go Nuclear dengan pembentukan NEPIO sebagai tahap awal.

“Keberhasilan NEPIO juga tergantung seberapa kuat komitmen pemerintah, jika tidak ada komitmen nanti tidak akan berlanjut dan akan berhenti lagi, pembentukan NEPIO harus diputuskan pada level tertinggi di pemerintahan, sehingga komitmennya menjadi jelas,” tandasnya.

Dikatakan Suparman, nuklir merupakan salah satu Energi Baru Terbarukan (EBT) yang telah terbukti dapat menghasilkan energi listrik dengan lebih efisien, dan beremisi lebih rendah dibandingkan dengan sumber energi fosil. 

Sejak tahun 1991, ORTN BRIN telah melakukan studi kelayakan dan studi tapak PLTN di beberapa lokasi, antara lain wilayah Muria - Jawa Tengah, Bangka, Banten, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat.

ORTN BRIN sudah melakukan penelitian tapak yang potensial, yang bisa memenuhi persyaratan keselamatan sesuai ketentuan dari BAPETEN maupun IAEA.

“Hasil dari studi tapak Muria dan Bangka sudah dinyatakan layak, kemudian Banten sudah dilakukan tetapi belum dievaluasi, Batam dan Kalimantan sudah dilakukan pra-survei, dan NTB masih tahap pra-survei”, ungkap Suparman.

Investasi Besar, Biaya Bahan Bakar dan Perawatan Kecil

Anggota Dewan Pakar Masyarakat Kelistrikan Indonesia, Arnold Soetrisnanto, menambahkan, dari segi ekonomi, ada 3 hal utama dalam pembiayaan suatu pembangunan pembangkit listrik, yaitu investment atau investasi, operational & maintenance (O&M), dan fuel atau bahan bakar, serta secara garis besar memiliki keungulan dalam hal biaya.

“Untuk nuklir, biaya investasi sekitar 70 persen, O&M hanya sekitar 20 persen, dan bahan bakarnya sekitar 10 persen. Nuklir keunggulannya yaitu biaya bahan bakar dan perawatannya lebih kecil dibandingkan dengan investasi, berbeda dengan coal dan gas,” jelas Arnold.

Masing-masing negara, menurut Arnold, memiliki situasi dan karakteristik yang berbeda-beda, sehingga mempunyai hasil hitungan biaya yang juga berbeda.

“Di Indonesia, biaya pembangkitan listrik dari PLTN akan bervariasi, antara 5 sampai 10 cent $ per kWh,” tambahnya.

Arnold menambahkan, ada 3 prinsip dasar pengelolaan energi nuklir di Indonesia. Pertama adalah energi nuklir hanya untuk tujuan damai. Kedua, keselamatan dan keamanan harus selalu diutamakan, dan ketiga, yaitu harus memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. (yrt,SET/ ed: tnt)