hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Serpong – Humas BRIN. Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTDBBNLR) melakukan pengembangan teknologi bahan bakar nuklir dan pengelolaan limbah radioaktif. Pengembangan teknologi bahan bakar nuklir meliputi penelitian dan pengembangan desain, teknologi fabrikasi, iradiasi, uji pasca iradiasi, dan prototipe bahan bakar reaktor daya.

Suryantoro, Pranata Nuklir Ahli Utama - ORTN menyampaikan dalam Webinar Ikatan Ahli Teknik Ketenagalistrikan Indonesi (IATKI) Enginering Lecture pada Sabtu (12/3) bahwa Indonesia secara mandiri sudah bisa melakukan fabrikasi bahan bakar Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy yang berada di Kawasan Nuklir Serpong. “PT. INUKI (PT. Industri Nuklir Indonesia, red.) sudah bisa membuat bahan bakar sendiri sejak tahun 1990-an. Artinya secara kemampuan untuk fabrikasi bahan bakar, Indonesia sudah sangat mampu,” ungkap Suryantoro.

“Bahkan dalam pengoperasian Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy selama 30 tahun lebih, belum pernah terjadi kecelakaan dan tidak ada masalah, selamat sampai saat ini. Hal tersebut dapat diartikan bahwa bahan bakar yang dibuat oleh anak bangsa itu jelas sudah sangat sesuai dengan standar,” lanjutnya.

Menurut Suryantoro pemanfaatan energi nuklir di Indonesia saat ini sudah cukup optimal, khususnya pemanfaatan energi nuklir di bidang non energi, yaitu di bidang kesehatan, industri, pertanian serta akselerator untuk energi listrik.

“Dapat kita lihat pemanfaatan di bidang kesehatan yaitu untuk terapi dan diagnosis penyakit kanker yang sudah dimanfaatkan di rumah sakit.  Di bidang pertanian terkait dengan pangan, sudah banyak dilakukan penelitian yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Di bidang industri yaitu dalam penggunaan zat radioaktif,” jelas Suryantoro.

Disampaikan juga oleh Suryantoro bahwa selain pengembangan bahan bakar nuklir, ORTN sebagai pelaksana mempunyai tanggung jawab dalam pengelolaan limbah radioaktif dari seluruh wilayah Indonesia. “Limbah radioaktif tersebut antara lain berasal dari kegiatan industri yang menggunakan zat radioaktif, seperti Cobalt 60, Caesium-137, Crypton-85 dan lain-lain serta limbah yang berasal dari penggunaan zat radioaktif di Rumah Sakit, khususnya dari bidang kkedokteran nuklir,” paparnya.

“Selain itu tentunya juga limbah radioaktif yang berasal dari kegiatan pengoperasian tiga reaktor yang ada di Indonesia, yaitu Reaktor Kartini Yogyakarta, Reaktor Triga Mark Bandung dan Reaktor G.A. Siwabessy Serpong,” lanjutnya.

Webinar IATKI Enginering Lecture dengan tema “Teknologi PLTN, Penyiapan Bahan Bakar & Penanganan Limbah” juga menampilkan narasumber lainnya yaitu anggota Dewan Pakar Masyarakat Kelistrikan Indonesia, Arnold Soetrisnanto yang menyampaikan bahwa saat ini Dewan Energi Nasional (DEN) sedang melakukan kajian untuk merevisi Kebijakan Energi Nasional (KEN).

“Kalau di dalam KEN yang ada saat ini nuklir menjadi opsi terakhir. Kemungkinan besar nanti pada KEN yang baru, nuklir tidak lagi menjadi opsi yang terakhir,” ungkap Arnold.

Menurut Arnold, dengan sudah terbitnya Keputusan Menteri ESDM Nomor 250 Tahun 2021 tentang Tim Persiapan Pembangunan PLTN artinya sudah ada persiapan untuk PLTN. “Saya kira nantinya Dewan Energi Nasional yang akan membidani terbitnya Peraturan Presiden mengenai Go Nuclear. Diharapkan Perpres Go Nuclear tahun ini akan segera terbit,” tambah Arnold.

Pengelolaan Energi Nuklir di Indonesia memiliki tiga prinsip dasar yaitu yang pertama hanya untuk tujuan damai, kedua adalah keselamatan dan keamanan harus selalu diutamakan, dan yang ketiga adalah manfaatnya harus memenuhi kebutuhan atau kepentingan masyarakat. (SET,yrt/ed: my)