hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Serpong – Humas BRIN. Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Energi Nasional (DEN) membahas kegiatan terkait bauran energi, kesiapan energi yang stabil dan handal untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. Salah satu energi yang stabil dan handal tersebut adalah energi nuklir, dimana energi nuklir dimungkinkan untuk mendorong perkembangan industri, terutama industri yang memerlukan energi yang stabil dan kuat. Pembahasan tersebut dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Gd. 71 Kawasan Nuklir Serpong, Kamis (10/03).

Anggota DEN Agus Puji Prasetyono saat memimpin pembahasan menyampaikan bahwa telah dibuat konsep awal pembentukan organisasi pelaksana program energi nuklir, serta rencana kedepan dalam percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia yang rencananya dimulai tahun 2025.

“Tahun 2025 adalah tahun dimana kita harus mulai pembangunan PLTN. Konsep pembentukan organisasi pelaksana program energi nuklir telah disusun sesuai SK Menteri ESDM dan juga telah dilakukan pembahasan untuk membuat kajian akademis serta rancangan Perpres tentang NEPIO (Nuclear Energy Programme Implementing Organization, red.),” ungkap Agus.

Selanjutnya Agus menginformasikan bahwa dalam waktu dekat akan diselenggarakan sidang anggota DEN dimana salah satu agendanya adalah membahas naskah akademis dan rancangan Perpres NEPIO.

“Sekitar bulan Mei-Juni-Juli ini diharapkan akan ada sidang anggota DEN. Kita berharap pada Oktober saat Presidensi G-20, Presiden mendeklarasikan tentang NEPIO dan pernyataan membangun PLTN,” harapnya. “Maka dengan pembangunan PLTN tersebut Indonesia bisa Net-Zero Emission di tahun 2060,” ujar Agus.

Dalam kesempatan ini Peneliti Ahli Utama ORTN, Djarot Sulistio Wisnubroto menyampaikan dukungannya dengan dibentuknya NEPIO dan berpendapat agar NEPIO berada dalam naungan lembaga atau organisasi yang sudah ada.

“Lembaga yang menjadi semacam induknya, tempat NEPIO bernaung. Selain itu juga dengan disertai syarat NEPIO terdiri dari banyak stakeholder, karena filosofi NEPIO terkait keselamatan nuklir yang terjamin, bahkan secara transparan oleh banyak pihak,” ujar Djarot.

Menurut Djarot Indonesia sudah siap untuk membangun PLTN. “Kita sudah punya modal semuanya, tinggal bagaimana kita menyatakan Go Nuclear serta bagaimana kita merawat modal tersebut, misalnya hasil studi tapak di Bangka, Jepara dan Kalimantan. Itu menjadi modal kita untuk mempercepat atau mengakselerasi program PLTN karena lokasinya sudah disiapkan oleh pemerintah,” katanya.

“Selain itu termasuk juga kita tetap memegang beberapa modal lain, yaitu tentang pemanfaatan reaktor riset dan SDM,” pungkas Djarot.

Sementara itu, Peneliti Ahli Utama ORTN, Anhar Riza Antariksawan sependapat dengan Djarot mengenai pembentukan NEPIO. “Tidak perlu dibentuk organisasi baru khusus nuklir di Kementerian ESDM, jadi NEPIO cukup memanfaatkan organisasi yang sudah ada, yang terpenting NEPIO melibatkan semua pemangku kepentingan,” ujar Anhar.

“Aturan-aturan mengenai keselamatan, keamanan dan sebagainya, BAPETEN sudah lama menyiapkan itu dan ada beberapa peraturan lagi yang perlu ditambahkan. Regulasi di Indonesia sudah cukup untuk membangun PLTN”, tambahnya

Pembahasan pembentukan NEPIO untuk percepatan rencana pembangunan PLTN ini dihadiri oleh anggota DEN, diantaranya adalah Agus Puji Prasetyono, Musri, Yusra Khan dan As Natio Lasman. Selain itu dihadiri juga oleh Kepala Biro Fasilitasi Kebijakan Energi dan Persidangan - Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak serta perwakilan dari ORTN - BRIN, diantaranya Djarot Sulistio Wisnubroto (Peneliti Ahli Utama/Ka. BATAN periode 2012 - 2018), Anhar Riza Antariksawan (Peneliti Ahli Utama/Ka. BATAN periode 2019 - 2021), Plt. Kepala PRTDBBNLR Syaiful Bakhri, Plt. Kepala PRTRN Topan Setiadipura dan beberapa peneliti ORTN lainnya. (yrt,la/ed: my)