hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Jakarta – Humas BRIN, Berdasarkan data yang dikeluarkan Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO) tercatat, total kasus kanker di Indonesia pada 2020 mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebesar 234.511 kasus. Dari angka tersebut, kanker payudara memiliki jumlah tertinggi di Indonesia yakni sebesar 65.858 kasus atau 16,6%, kemudian disusul kanker serviks (leher rahim) menempati urutan kedua dengan jumlah 36.633 kasus atau 9,2% dari total kasus kanker.

Tingginya kasus kanker di Indonesia perlu mendapat perhatian serius dari para pemangku kepentingan khususnya kepada para penderitanya. Dalam kehidupan sehari-hari para penderita ini akan mengalami nyeri yang luar biasa ketika kanker sudah metastasis ke tulang.

Metastasis merupakan proses penyebaran sel kanker dari satu organ atau jaringan tubuh ke organ atau jaringan tubuh lainnya. Kondisi ini dapat terjadi di mana saja, baik di daerah tempat kanker berasal atau jauh dari tempat awal munculnya kanker.

Kini para penyintas kanker dapat bernafas lega, karena rasa nyeri yang selama ini dirasakan dapat dikurangi dengan pemberian Samarium (Sm) 153 EDTMP. Samarium ini merupakan sebuah radiofarmaka hasil inovasi di bidang kedokteran nuklir yang diproduksi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN). 

Plt. Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PRTRR), Rohadi Awaludin mengatakan Samarium 153 ETDMP merupakan produk penelitian yang sangat bermanfaat di dunia kesehatan khususnya sebagai obat terapi paliatif atau penghilang rasa sakit pada penderita kanker. “Untuk mengurangi rasa sakit itu secara konvensional mereka biasanya menggunakan obat-obatan analgesik atau penghilang rasa sakit seperti morfin. Namun hal ini tidak bertahan lama, sedangkan apabila menggunakan Sm 153 EDTMP ini bisa bertahan 1-2 bulan,” kata Rohadi, Jumat (04/02).

Kelebihan lainnya, tambah Rohadi, produk ini tidak menimbulkan efek ketagihan dan fly seperti bila menggunakan morfin, sehingga penderita kanker dapat beraktivitas dengan normal. Dengan pemberian Sm 153 EDTMP ini, para penderita kanker tidak merasakan sakit sehingga tidak mengganggu aktivitas keseharian dan tentunya tidak mengurangi kualitas hidupnya.

Untuk memenuhi kebutuhan radiofarmaka di dalam negeri, Rohadi menjelaskan, pihaknya terus melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan penguasaan teknologi nuklir khususnya dalam memproduksi radiofarmaka. Melalui PT. Kimia Farma, produk ini telah dipasarkan kepada beberapa rumah sakit agar dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.

“Selain Sm 153 EDTMP, PRTRR juga menghasilkan kit radiofarmaka MIBI yang digunakan untuk mendeteksi fungsi jantung, kit radiofarmaka MDP yang difungsikan untuk mengetahui adanya kanker tulang primer maupun metastase tulang, kit radiofarmaka DTPA untuk mengetahui fungsi ginjal dan MIBG bertanda I-131 untuk terapi kanker neuroendokrin,” tambahnya.

Dalam memproduksi radiofarmaka tersebut, tutur Rohadi, beberapa kendala yang dihadapi yakni produk ini mempunyai sifat radioaktif yang memiliki waktu paruh yang pendek. Akibatnya produk harus segera digunakan setelah dibuat dan tidak disimpan dalam waktu yang lama.

“Untuk itulah, diperlukan perencanaan produksi yang sangat cermat dengan memperhatikan sarana pengangkutan yang cepat khususnya untuk daerah luar Jakarta. Saat ini produksi radiofarmaka dilakukan di Jakarta,” jelasnya.

Agar produk radiofarmaka ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkannya, Rohadi berharap, fasilitas kedokteran nuklir di Indonesia diperbanyak, mengingat sampai saat ini baru ada 14 fasilitas kedokteran nuklir. Dari jumlah itupun beberapa diantaranya masih menghadapi kendala pengoperasian yakni Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan.

“Kami berharap pihak Kementerian Kesehatan memberikan perhatian yang lebih terhadap kondisi fasilitas kedokteran nuklir, khususnya dalam pengembangan SDM dan pemenuhan peralatan. Ada gagasan bahwa beberapa rumah sakit akan dijadikan sebagai pusat penanganan kanker (oncology center),” pungkasnya. (pur)