hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Bandung, 25/01/2022 – Humas BRIN Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Pusat Riset dan Teknologi Nuklir Terapan (PRTNT) - Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) turut serta dalam Program Indonesia Sehat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, dengan tujuan meningkatkan status kesehatan dan gizi anak.  Dengan riset aplikasi Teknik Analisis Nuklir (TAN) pada real asupan baduta (bawah dua tahun) dan ASI, dihasilkan data nutrient gap untuk assessment kecukupan status gizi pada anak baduta.

Peneliti PRTNT - ORTN, Diah Dwiana Lestiana mengungkapkan kelebihan metode TAN dalam permasalahan gizi di Indonesia. “Kelebihan TAN, yang dapat menganalisis kandungan multiunsur, sehingga prosesnya cepat dan limit deteksi hingga orde nanogram. Sehingga lebih unggul dibandingkan teknik konvensional lainnya.” jelasnya.

PRTNT - ORTN mencoba untuk mengaplikasikan TAN dengan memberikan salah satu solusi yaitu dengan mengidentifikasi penyebab kekurangan zat gizi mikro yang menjadi salah satu penyebab gizi buruk. TAN di PRTNT - ORTN memiliki kemampuan untuk menganalisis kandungan zat gizi mikro, yang direkomendasikan WHO, seperti mineral zat besi (Fe) dan zink (Zn), serta unsur gizi mikro lain seperti selenium (Se) dan zat gizi makro calcium (Ca) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan balita.

“PRTNT berkontribusi melakukan karakterisasi kandungan zat gizi mikro pada berbagai bahan pangan yang ada di pulau Jawa. Salah satu hasil yang kami lakukan, mengkontribusikan database zat gizi mikro, Se, Fe dan Zn pada buku tabel Komposisi Pangan Indonesia yang digunakan sebagai acuan dalam asesmen status gizi, dimana PRTNT bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia. Selain itu, melalui aplikasi TAN ini pula, kita bisa ingin mengetahui nutrient gap yang ada dari real asupan zat gizi mikro pada makanan yang dikonsumsi oleh anak di bawah 2 tahun yang ada di daerah prevalensi stunting, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu di kota Kupang dan Timor Tengah Selatan.” ungkapnya.

Metode yang digunakan oleh peneliti PRTNT - ORTN yaitu dengan pendataan melalui wawancara dan kuisioner, dan juga mengambil makanan yang diasup oleh baduta, yang selanjutnya dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Disamping sampel asupan baduta, juga diambil sampel ASI untuk mengetahui kandungan zat gizi di dalamnya. Terdapat kecenderungan zat gizi mikro seperti Fe dan Zn yang lebih rendah pada asupan baduta stunting jika dibandingkan dengan baduta normal.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah. Tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Diah menjelaskan faktor penyebab gizi buruk yang terjadi di Indonesia. “Kami melihat salah satu penyebab gizi buruk, disamping perekonomian, juga merupakan pola makan, pola asuh, faktor lingkungan, sanitasi dan pendidikan orang tua.” terangnya.

Diah menyampaikan bahwa stunting sendiri dapat dicegah, antara lain melalui memperbaiki pola hidupnya dengan pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan kemudian dilanjutkan dengan MPASI. Orang tua juga diharapkan membawa balitanya secara rutin ke Posyandu, memenuhi kebutuhan air bersih, meningkatkan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Kedepannya, melalui aplikasi TAN ini, Diah beserta rekan-rekan peneliti di PRTNT - ORTN berencana untuk membuat produk pangan kaya gizi yang terbuat dari bahan baku alami yang mengandung kaya Fe dan Zn serta zat gizi mikro dan makro lainnya seperti Ca,  yang berasal dari campuran bahan nabati dan hewani, yang diharapkan bioavilibitas di dalam tubuh lebih baik dan terserap lebih optimal, karena bahan-bahan baku pengayaan zat gizi organik alami. “Kandungan gizi yang terdapat dalam bahan baku yang berasal dari protein hewani dan protein nabati diharapkan tidak berkurang atau berubah karena proses penyiapan bahan melalui pengeringan cepat.” pungkasnya.

Berdasarkan hasil SSGI tahun 2021 angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6 persen per tahun dari 27.7 persen tahun 2019 menjadi 24,4 persen tahun 2021. Hampir sebagian besar dari 34 provinsi menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2019 dan hanya 5 provinsi yang menunjukkan kenaikan. Namun, penurunan angka ini, masih sangat jauh untuk dapat memenuhi target dari RPJMN tahun 2024 sebesar 14%. Masih dibutuhkan kerja keras dari semua pihak terkait dan kerjasama lintas institusional serta koordinasi yang lebih baik untuk mewujudkan target tersebut, agar bisa menurunkan prevalensi stunting di Indonesia.(kvp/ ed.kg/diah)