hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Serpong, 16 Desember 2014). Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto memperkirakan biaya revitalisasi fasilitas PT. INUKI agar mampu memproduksi kembali radioisotop adalah sebesar 40 milyar. “Diperlukan penyertaan modal nasional agar PT. INUKI (Industri Nuklir Indonesia) dapat memproduksi radioisotop lagi yang untuk sementara ini dilarang produksi oleh BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) karena fasilitas yang kurang memadai”, ungkap Djarot saat menerima Kunjungan Kementerian Kesehatan di PRSG Serpong.

Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek menyarankan agar BATAN, PT. INUKI, BAPETEN, Kementerian BUMN, dan Kementerian Kesehatan duduk bersama dalam menyelesaikan kelangkaan radioisotop agar menjadi masukan kepada Presiden, guna mencegah angka kematian akibat kanker yang semakin tinggi.

“BATAN perlu menghitung berapa pasien penderita kanker yang harus antre untuk diradioterapi. Dengan dana segitu, berapa cost-nya yang bisa kita kembalikan dalam jangka panjang. Karena jika kita bisa produksi sendiri, kita bisa ekspor. Harga radioisotop pun lebih murah dibanding impor” katanya.

Kementerian Kesehatan sudah pernah berbicara dengan PT. INUKI terkait kelangkaan radioisotop. Solusi terbaiknya adalah membuka keran impor agar harga radioisotop lebih murah dan bersaing, atau merevitalisasi PT. INUKI agar mampu memproduksi radioisotop kembali.

Nila berharap opsi terakhir yang akan dipilih pemerintah untuk jangka panjang demi kemandirian nasional. “Saya tidak setuju kalau impor, lebih baik kita ‘hidupkan kembali’ PT. INUKI, karena Bapak Presiden juga sangat memikirkan agar kita dapat mandiri secara nasional”, tegasnya.

BATAN perlu membuat business plan paper bersama-sama PT. INUKI, Kementerian BUMN, BAPETEN dan Kementerian Kesehatan terkait berapa jumlah pasien penderita kanker yang perlu diradioterapi dikaitkan dengan dana yang dibutuhkan untuk revitalisasi fasilitas PT. INUKI.

Sekretaris Utama, BATAN, Falconi Margono, menambahkan awal berdirinya PT. INUKI adalah karena founding father BATAN mengharapkan tumbuhnya industri nuklir di Indonesia. “Kalau industri nuklir di Indonesia maju maka kami (BATAN) sebagai lembaga penelitian juga akan semakin kuat”, katanya.

Saat ini, radioisotop yang sangat dibutuhkan oleh pasien adalah teknesium 99 dan iodium 131, yang keduanya di produksi oleh PT. INUKI.

Kunjungan Menkes beserta jajarannya ke PRSG BATAN terkait keingintahuan Menkes tentang peran teknologi nuklir dalam bidang kesehatan, khususnya pertanian dan perikanan dikaitkan dengan masalah gizi di Indonesia, serta membicarakan masalah kelangkaan radioisotop. Kunjungan diakhiri dengan meninjau langsung ke fasilitas reaktor G.A. Siwabessy (tnt).