hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Serpong, 16 Desember 2014). Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek berharap teknologi nuklir di Indonesia banyak membantu bidang ketahanan pangan (food security). Hal ini terkait masalah kesehatan masyarakat Indonesia dengan populasi penduduk yang meningkat 4,5 - 5 juta/tahun.

“Populasi kita terus meningkat pesat. Kalau kita lihat permasalahan kesehatan dimulai dari bayi, anak-anak dan remaja, serta lansia”, ungkap Nila saat mengunjungi Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) BATAN.

Menurut Nila, ibu hamil kurang gizi akan melahirkan anak yang kurang gizi dengan aspek kognitif (IQ) rendah. 37% anak Indonesia lahir dengan kekurangan gizi yang menyebabkan stunting (pertumbuhan berat badan dan tinggi badan tidak sesuai). “Ibu hamil berkorelasi dengan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, atau kanker paru-paru. Karena ibu tidak sehat, akan melahirkan anak yang tidak sehat. Mayoritas anak kita adalah IQ yang tidak cukup”, katanya.

Usia dewasa muda banyak yang tidak produktif karena Indonesia masih perang dengan kemiskinan. “Sekarang banyak berita tentang miras oplosan. Bagaimana kita perang dengan kemiskinan dan bisa mengubah mindset mereka, apakah ini karena efek psikologis”, tambahnya.

Selain itu angka kematian usia muda utamanya perempuan sangat tinggi karena kanker serviks. “Usia 14 tahun sudah menikah, yang menyebabkan organ fisik dan psikologis belum siap”, imbuhnya.

Sedangkan usia lansia yang semakin bertambah diharapkan tidak menjadi beban negara dimana hari tua mereka diupayakan adanya jaminan sosial.

Semua permasalahan tersebut berawal dari food security. Nila berharap teknologi nuklir mampu membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut. “Bisakah nuklir itu berpindah ke pertanian dan perikanan. Protein sangat diperlukan masyarakat Indonesia. Dengan gizi yang cukup, akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan berkualitas”, harapnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan BATAN sudah berkontribusi dalam bidang pertanian dengan menghasilkan 21 varietas unggulan, salah satunya adalah varietas unggulan Sidenuk (Si dedikasi Nuklir). “Paling populer Sidenuk karena produktivitas tinggi dengan capaian 8 s.d 9 ton/ha, tahan hama, rasanya enak dan aman dikonsumsi”, jelasnya.

BATAN telah berkontribusi dalam bidang perikanan dengan tekonologi penjantanan ikan yang menghasilkan ikan yang lebih besar.

BATAN juga berkontribusi dalam penyinaran iradiasi untuk radioisotop untuk keperluan rumah sakit, namun saat ini terkendala masalah larangan produksi di PT. INUKI (Inudstri Nuklir Indonesia) oleh BAPETEN (Badan Pengawasan Tenaga Nulir). “Radioisotop kini harus impor dari Australia dengan harga yang relatif mahal”, kata Djarot.

BATAN sudah mengembangkan renograf sejak tahun 1980an namun masih terkendala dengan uji klinis. “Uji klinis masih menjadi tantangan bagi kami untuk pemanfaatan renograf secara optimal”, katanya.

Menanggapi kelangkaan radioisotop, Nila menyararankan agar BATAN, BAPETEN, PT. INUKI, Kementerian BUMN, dan Kementerian Kesehatan duduk bersama dalam menyelesaikan kelangkaan radioisotop agar menjadi masukan kepada Presiden untuk mengupayakan penyertaan modal nasional dengan merevitalisasi fasilitas di PT. INUKI. “Upaya revitalisasi PT. INUKI sangat penting mengingat jumlah penderita kanker yang harus diradioterapi semakin tinggi sementara terjadi kelangkaan radioisotop di dalam negeri”, tegas Nila. (tnt).