hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Kebutuhan energi semakin besar, termasuk untuk memenuhi pasokan listrik. Dengan nuklir bisa didapatkan solusi energi yang mampu menghasilkan listrik masif dan konstan. Aplikasi teknologi Nuklir untuk kehidupan manusia banyak macamnya, antara  lain untuk keperluan di bidang energi. terutama di saat kebutuhan akan energi sedang melonjak seperti sekarang.

Eksplorasi energi 
Isotop alam maupun isotop buatan misalnya dapat digunakan sebagai  alat eksplorasi dan  eksploitasi geothermal.  posisi geografi indonesia memang menguntungkan dari sisi potensi energi.  terletak  pada  daerah  interaksi antara  lempengan Euroasia, india-Australia dan pasifik menjadikannya sebagai daerah vulkanik dengan potensi panas bumi cukup besar.

Berdasarkan penelitian eksplorasi, indonesia mempunyai potensi  panas  bumi  sebesar   28.500  MegaWatt. Namun sayangnya potensi energi panas  bumi di indonesia hingga kini memang belum dimanfaatkan optimal. Baru sekitar 4% yang dimanfaatkan dari total potensi yang ada atau sekitar 1,2 GigaWatt. Sementara negara lain seperti Filipina sudah mampu memanfaatkan tenaga panas bumi hingga 70%. isotop  alam seperti O-18 dan D, maupun isotop radioaktif buatan misalnya I-125, berfungsi sebagai tracer atau perunut dalam meneliti asal-usul cairan di dalam sistem panas bumi, isotop  alam  juga  dapat  dimanfaatkan untuk  menentukan atau mengestimasi suhu reservoir atau penampung panas.

"Isotop alam juga dapat dimanfaatkan untuk menentukan atau mengestimasi suhu reservoir atau penampung panas bumi."

Sebagai tracer atau perunut, isotop dipakai untuk mengetahui interkoneksi atau hubungan antara sumur injeksi dan sumur produksi.   tujuan   lainnya  mempelajari   sistem   hidrologi yang  lebih mendalam  selama  eksploitasi  dan  mendeteksi perubahan  fisik yang  mungkin  terjadi di reservoir karena pengaruh air reinjeksi. Hasil penelitian dengan isotop selanjutnya digunakan untuk menentukan eksplorasi panas bumi dapat dilanjutkan atau tidak.  Pada  saat  ini indonesia  sendiri  telah  memiliki beberapa pembangkit  listrik tenaga  panas  bumi  seperti  Kamojang dengan kapasitas 200 MW, Dieng berkapasitas 60 MW, salak berkapasitas 350  MW, dan Wayang Windu berkapasitas 300 MW. Selain itu ada pembangkit lahendong berkapasitas 60 MW, sibayang berkapasitas 10 MW dan Darajat berkapasitas 110  MW.

BATAN  sendiri telah bekerja sama dengan pertamina sejak awal tahun 1990-an dalam penggunaan  isotop di kawasan eksplorasi panas bumi lahendong, sulawesi utara. Kegiatan eksplorasi  panas  bumi di area  lahendong  tersebut  telah dilakukan oleh pertamina sejak tahun 1982.

Manfaat yang  diperoleh  pertamina dengan  adanya  teknik perunut dari BATAN yaitu adanya dukungan untuk manajemen produksi sumber panas bumi. isotop sebagai perunut membantu menentukan dimana lokasi sumur reinjeksi yang tepat dan sumur produksi berikutnya.

Energi untuk listrik
Kebutuhan energi di indonesia yang terus  meningkat sampai sekarang  terkait dengan  pertumbuhan  ekonomi dan  ledakan jumlah penduduk.  Di sisi lain, jumlah cadangan  energi  fosil seperti minyak bumi dan batu bara sangat terbatas. untuk batu bara  misalnya diperkirakan jumlah cadangannya  di  indonesia sekitar 28 miliar ton dan akan habis dalam kurun waktu 71 tahun. 

"Kebutuhan energi yang terus meningkat tidak diimbangi dengan jumlah cadangan minyak bumi dan batu bara yang sangat terbatas." 

Peningkatan kebutuhan listrik dari berbagai sektor mengalami peningkatan rata-rata yaitu sekitar 9% per tahun akan sulit apabila hanya mengandalkan pada sumber energi fosil.  tuntutan  pemenuhan  kebutuhan  listrik dan  kualitas lingkungan  yang  bersih  juga  menjadi  persyaratan  yang harus dipenuhi dalam pembangkitan listrik di masa depan.

Berbagai  cara  ditempuh  untuk mendapat  pasokan  energi dari sumber  lain, termasuk dari energi alternatif baru dan terbarukan seperti uranium atau nuklir. Energi nuklir antara lain dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik yang bersih. Disebut  bersih  karena  sedikit sekali jumlah gas  buangan yang  ditimbulkan oleh  pembangkit  listrik  tenaga  Nuklir (PLTN). Sebagai perbandingan, menurut iAEA, pembangkit listrik berkapasitas  1.000 MWe yang memakai batu bara, tapi tanpa teknologi pengolahan limbah, akan menghasilkan sekitar 320  ribu ton abu  yang mengandung  logam berat seperti merkuri dan lainnya. Belum lagi materi sulphur oxides dan nitrous oxide yang dilepas ke udara.

Limbah radioaktif yang dihasilkan dari pengoperasian  PLTN juga  berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen bakar bekas  ini untuk sementara  bisa disimpan di lokasi PLTN sebelum dilakukan penyimpanan secara lestari. Harga  bahan  bakar  uranium  juga  relatif lebih  kompetitif. Menurut World Nuclear Association, total biaya bahan bakar untuk PLTN biasanya hanya sepertiga dari biaya pembangkit berbahan bakar batu bara.

Jumlah limbah radioaktif dari PLTN juga relatif sedikit. sebagai contoh, satu unit PLTN dengan jenis PWR berdaya 1000 MWe dengan  masa operasi selama 40  tahun hanya akan membutuhkan tempat penyimpanan limbah radioaktif berukuran 3x4x10  m3    atau 120  m3.  Pemanfaatan teknik nuklir dalam bentuk PLTN sendiri mulai dikembangkan  secara  komersial sejak  tahun  1954. pada waktu itu, di uni  soviet  dibangun  dan  dioperasikan  satu unit PLTN air ringan bertekanan tinggi (VVER/PWR)  yang setahun kemudian mencapai daya 5 MWe.Di Amerika serikat juga telah dioperasikan jenis reaktor yang sama  dengan  daya 60  MWe. Pada  tahun 1956 di inggris dikembangkan jenis reaktor berpendingin gas (GCR) dengan daya 100  MWe.

Kelebihan teknologi nuklir karena reaksi nuklir menghasilkan energi lebih besar dibanding dengan energi lainnya. Dari 1 gram uranium misalnya dapat diperoleh energi yang setara dari sekitar 112  kg batu bara. Efisiensi juga dapat dilihat dari tempo siklus daur bahan bakar nuklir yang berkisar antara 1,5 tahun. Artinya penggantian bahan  bakar dapat  dilakukan setiap  1,5  tahun. Kemudian pembangkit  energi  listrik nuklir juga  irit secara  ekonomi. Menurut studi  di tahun  2012, terendah  di antara  semua jenis pembangkit. Biaya untuk membangkitkan 1 KWh listrik  adalah Rp. 350, jauh lebih murah daripada biaya pembangkit listrik konvensional yang paling murah yaitu dengan bahan bakar batu bara sebesar Rp. 600.

Selain itu PLTN bersifat fleksibel. Dengan  konsep reaktor   mini  portabel   maka   situs   PLTN   dapat menjangkau lokasi manapun. Hal ini tentu saja akan membantu peningkatan indeks distribusi daya listrik terutama di luar daerah Jawa-Bali.  ini sangat sesuai diaplikasikan di negara kepulauan seperti indonesia.  Kelebihan lainnya yaitu PLTN dapat membangkitkan energi listrik yang begitu  masif dan  konstan sepanjang  tahun tanpa  tergantung  kepada  musim. Iini berbeda dengan kemampuan pembangkitan-pembangkit yang memanfaatkan sumber energi terbarukan   yang   lain  seperti  angin,   surya,   air maupun  gelombang.  Semuanya begitu  tergantung kepada musim. Segala  kelebihan PLTN  itu  juga  sudah   terbukti secara  teknologi  atau  tidak  hanya  berupa  studi di atas  kertas.  Pembangkit  energi  berbasis  nuklir ini sudah  digunakan dan  bermanfaat bagi banyak negara di berbagai benua. Itu   sebabnya  mengapa  tokoh   aktivis   lingkungan luar   negeri   seperti  patrick   Moore   misalnya   kini mendukung   pemanfaatan   nuklir   sebagai  sumber energi   alternatif.   Moore    menyebut  energi    nuklir   adalah   satu-satunya  sumber   listrik   yang    efektif    dalam menggantikan bahan bakar  fosil dan  tidak menghasilkan gas  rumah  kaca.

Moore  awalnya  adalah  salah  satu  musuh  industri  nuklir  yang paling  berani.  Namun  dewasa  ini dia  melakukan  pembelaan terhadap reputasi energi nuklir pasca krisis nuklir di Fukushima. Moore   menyadari,  berbeda   dengan  senjata   nuklir,   energi  nuklir   (PLTN)   adalah    sasaran  protes  yang   salah.    PLTN relatif  aman  dan  memiliki  standar  keselamatan yang  tinggi, ramah  lingkungan  dan  dapat  dikatakan  lebih  kondusif   untuk perdamaian daripada minyak yang dibeli dari rezim berbahaya. Menurut   Moore,   manfaat-manfaat  nuklir   jauh   lebih   besar daripada  risiko.   Sekarang   ada   banyak   data   ilmiah   yang menunjukkan  tenaga   nuklir  menjadi  pilihan   yang  ramah lingkungan dan aman.

Di Amerika serikat  contohnya,  saat  ini negara  tersebut dihadapkan dengan situasi di mana energi nuklir memasok 20%   kebutuhan  energi.   Namun  permintaan  energi  terus meningkat  dan  dalam  dekade  mendatang  permintaan  ini akan meningkat pula sekitar 50%  di atas  level sekarang. Jika tidak ada upaya untuk merevitalisasi industri nuklir maka kontribusi industri untuk memenuhi  kebutuhan  energi  Amerika Serikat  bisa turun drastis dari 20% menjadi 9%. Lalu semakin banyak negara yang mengakui bahwa energi nuklir yang  bersih,  hemat  biaya,  dapat  diandalkan  dan aman. Menurut data  yang dikeluarkan oleh World Nuclear Association  pada   tahun   2007,  ada   436    PLTN  yang beroperasi di seluruh dunia secara global dan menghindari pelepasan   hampir  tiga  miliar ton  emisi  Co2  per  tahun, setara dengan knalpot dari lebih dari 428  juta mobil, lebih dari setengah  mobil di dunia saat ini. PLTN  itu tersebar  di 33  negara di seluruh dunia dan dapat menghasilkan listrik sebanyak 16% dari kebutuhan listrik dunia.

Indonesia memang memerlukan banyak pembangkit listrik. Diperkirakan kebutuhan energi listrik pada 2025 mendatang sudah  mencapai  115   GW.  Sementara  energi  listrik yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit konvensional pada awal 2013 baru sebesar  3 GW.
 
Tabel Mitos Tentang nuklir ala moore:

No. Mitos Fakta
1 Energi nuklir itu mahal Energi nuklir adalah satu di antara sumber energi yang tidak mahal. Di tahun 2004 misalnya, rata-rata ongkos produksi listrik di AS dari PLTN adalah kurang dari dua sen per kilowatt-jam, setingkat dengan ongkos batu bara dan listrik hidro. Kemajuan dalam teknologi akan menurunkan lagi ongkos itu di masa datang.
2 PLTN itu tidak aman Terkait kecelakaan di Chernobyl, forum multi lembaga di PBB melaporkan hanya 56 kematian yang terkait dan sebagian besar adalah akibat radiasi atau luka bakar sewaktu memadamkan api. Bandingkan dengan kecelakaan di tambang batu bara sebanyak lima ribu jiwa di seluruh dunia tiap tahun.
3 Sampah nuklir akan berbahaya selama ribuan tahun Dalam 40 tahun, bahan bakar yang digunakan hanya akan memancarkan seper-seribu radioaktivitas dibandingkan pada waktu bahan bakar itu dikeluarkan dari reaktor. Juga tidak benar itu dikatakan sampah karena 95% potensi energinya masih tersimpan di dalam bahan bakar bekas pada siklus pertama
4 Reaktor nuklir rawan terhadap serangan teroris  Isi bangunan penyimpanan nuklir biasanya dilindungi beton bertulang yang tebalnya 1,5 meter dari luar maupun dalam sehingga reaktor tidak mudah meledak. 
5 Bahan nuklir dapat dialihkan untuk membuat senjata nuklir  Senjata nuklir sudah tidak lagi harus ‘tak terpisahkan’ dengan PLTN. Teknologi centrifuge atau teknologi pengayaan uranium-235  kini memungkinkan suatu negara memperkaya uranium tanpa harus membangun reaktor nuklir. Satu-satunya pendekatan pada isu senjata nuklir menggunakan diplomasi dan bila perlu kekuatan untuk menghalangi pemakaian bahan nuklir untuk tujuan perusakan 


"Pemilihan lokasi PLTN akan ditinjau dari berbagai segi yaitu dari hasil penilaian kelistrikan, prasarana transportasi dan lainnya."

Berdasarkan Perpres  No 5  tahun 2006 tentang  Kebijakan Energi Nasional dibutuhkan setidaknya empat PLTN di indonesia pada 2025 mendatang. Tujuannya, meminimalkan penggunaan gas, minyak bumi, dan batu bara. Namun idealnya indonesia harus memiliki minimal 40 PLTN pada 2050  nanti. Itu perlu guna mengantisipasi kebutuhan listrik  yang   tinggi   seiring   dengan   laju   pertumbuhan penduduk   dan   pertumbuhan   ekonomi  yang  mencapai 6,5% per tahun. Perencanaan  secara  serius  soal pembangunan  PLTN sendiri telah  dilakukan sejak  awal  1970an  dengan  pembentukan Komisi persiapan   pembangunan   PLTN  (KP2PLTN).  Tugas komisi ini adalah melakukan kajian tentang hal-hal yang terkait dengan kemungkinan pembangunan PLTN di indonesia. Hasil kerja komisi di antaranya adalah menetapkan sekitar 14 lokasi yang diusulkan kepada pemerintah untuk dilakukan studi lebih lanjut sebagai  calon tapak PLTN. Usulan  itu kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan studi kelayakan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (sekarang menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional) bekerjasama dengan pemerintah Italia, Amerika serikat, Perancis dan badan nuklir dunia IAEA, yang dilakukan pada tahun 1986.

Kegiatan   studi   tentang   kelayakan   introduksi   PLTN   di indonesia dari berbagai aspek dilaksanakan pada awal tahun 1991 hingga 1996 bekerjasama dengan konsultan New JEC inc dari Jepang. Secara  keseluruhan   pemilihan  lokasi  PLTN  akan  ditinjau dari berbagai segi yaitu dari hasil penilaian kelistrikan, prasarana transportasi, tersedianya air, kegempaan, hidrologi, kependudukan,  lingkungan dan  lain-lain. Hasil studi  adalah berupa  rekomendasi  lokasi terbaik untuk PLTN  pada  waktu itu yaitu Ujung Lemah Abang, Ujung Grenggengan dan Ujung Watu.

Ketiga lokasi tersebut  berada  di wilayah Kabupaten Jepara, Jawa tengah. Apabila seluruh kegiatan mulai dari persiapan dan pembangunan dapat dilaksanakan dengan lancar maka PLTN unit pertama sudah dapat mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 2005. Akan  tetapi  adanya  krisis  moneter   pada   tahun  1997 yang  diikuti  krisis  politik  mengakibatkan   keterpurukan di  semua  sektor  termasuk  sektor  kelistrikan. Akibatnya banyak industri yang berhenti beroperasi dan menurunnya konsumsi terhadap  listrik. Akibat lainnya dari kejadian itu adalah pembangunan PLTN menjadi dianggap tidak relevan lagi. Tapi kemudian terjadi hal mengejutkan yaitu setelah  krisis moneter  berlalu maka permintaan terhadap  listrik kembali meningkat bahkan cenderung  tinggi. Sementara hasil studi menyimpulkan bahwa dari cadangan sumber-sumber energi yang ada terutama bahan fosil tidak akan dapat mencukupi kebutuhan listrik secara nasional hingga tahun 2025.

Konsekuensinya adalah harus diupayakan penggunaan sumber  energi  lain termasuk  penggunaan  sumber  energi baru dan terbarukan (EBT) untuk menutupi kekurangan tersebut. Yang termasuk energi baru dan terbarukan di antaranya  adalah  energi  matahari, angin, panas  bumi, air, biodiesel dan tenaga nuklir. Karena itulah kemudian ditetapkan kebijakan baru di bidang energi. Selain PP No 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), ada  undang-undang  No 17  tahun  2007 tentang  Rencana  Pembangunan   Jangka Panjang  Nasional (RPJPN).

Lalu melalui Perpres  No 5  tahun 2006 ditetapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga tahun  2025 dibutuhkan  kontribusi sumber  energi  terbarukan,  masing- masing biofuel dengan besar porsi di atas 5%, panas bumi di atas 5%, nuklir, surya, angin dan biomassa di atas 5% dan batu bara yang dicairkan di atas 2%.  

"Makin banyak negara mengakui bahwa energi nuklir itu bersih, hemat biaya, dapat diandalkan dan aman."

Sehubungan dengan rencana pembangunan  PLTN pertama di indonesia dan hasil studi awal yang menunjukkan bahwa daerah Semenanjung Muria, Jepara, Jawa tengah, merupakan salah  satu  calon lokasi yang  sesuai,  maka BATAN  sudah membangun   dan   mengoperasikan   stasiun   pengamatan gempa  mikro dan meteorologi di Ujung Watu, Jepara sejak tahun 1982.

Stasiun pengamatan gempa mikro digunakan untuk mencatat kejadian gempa  mikro, baik yang ditimbulkan oleh gempa vulkanik maupun  tektonik. sedangkan  stasiun  meteorologi digunakan   untuk   mencatat   tekanan   udara,   arah   dan kecepatan  angin, suhu, kelembaban, dan radiasi matahari. Selain  di  Jepara,  peralatan  seperti  itu  juga  dipasang  di Bangka Barat, kepulauan Bangka Belitung.

BATAN yang bertugas dalam bidang penelitian pemanfaatan energi nuklir kini telah melakukan studi penyiapan tempat atau tapak PLTN di Pulau Bangka. Calon tapak Bangka Barat diperkirakan  memiliki kapasitas   maksimum  10   GigaWatt sedangkan  kapasitas  di Bangka selatan maksimum 6  ribu MegaWatt. Sebelumnya telah dilakukan penandatangan  MoU perjanjian kerjasama BATAN dengan pemerintah propinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 15 Juni 2009 tentang pemanfaatan  ilmu pengetahuan  dan teknologi nuklir untuk kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung. Ruang lingkup kerjasama tadi meliputi penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfataan ilmu pengetahuan dan teknologi  nuklir di  bidang   pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kesehatan, industri, energi, sumber daya alam serta bidang lingkungan.

Selain  itu dilakukan inventarisasi sumber  daya  mineral dan radioaktif serta survei tapak pembangunan pembangkit listrik tenaga Nuklir. Tidak lupa tujuan lain berupa pemasyarakatan dan diseminasi ilmu pengetahuan  dan teknologi nuklir serta hasil penelitian, pengembangan dan perekayasaan. Dalam studi  penyiapan  tapak  di  Bangka Belitung tersebut, dilakukan survei  dan  pemantauan  gempa  dan  pemantauan meteorologi. Hasil studi lainnya adalah pembuatan peta kontur, peta geologi sampai pola pasang surut laut. BATAN juga meneliti aspek  vulkanologi yang  menunjukkan  bahwa  tidak  terjadi aktivitas vulkanik di Bangka dan Belitung. Dengan demikian lokasi tapak aman dari kemungkinan ancaman bahaya gempa.

Selain itu pulau Bangka berpotensi  untuk dibangun PLTN karena dekat dengan sumatera dan tidak jauh dari Jawa sehingga memungkinkan untuk penyaluran energi ke wilayah-wilayah tersebut.

Kegiatan  studi tapak yang ada di pulau Bangka tidak lepas dari peran pemerintah propinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemerintah daerah telah menyediakan data-data terkini yang memuat soal kebutuhan dan pasokan listrik, jumlah penduduk, cadangan sumber daya alam, analisis kondisi air laut di lokasi calon tapak, peta sistem kelistrikan, biaya operasional, hingga pembebasan lahan tapak terpilih. selain data-data tersebut, pemda propinsi Bangka Belitung juga telah berdialog secara informal dengan pihak legislatif, mahasiswa dan lainnya. selain rapat koordinasi juga telah dilakukan sosialisasi kepada  masyarakat secara  langsung antara lain melalui bakti sosial dan lainnya.

Pemerintah propinsi Bangka Belitung bersama pemerintah kabupaten bekerjasama dengan BATAN juga melaksanakan kegiatan diseminasi seperti kegiatan pemberian  ceramah iptek  nuklir bagi  pejabat  pemda,  guru,  petugas  layanan informasi pemda setempat dan mahasiwa. Bentuk sosialisasi lain berupa  pemberian beasiswa  kepada siswa-siswa di wilayah propinsi Bangka Belitung. BATAN juga sudah mendirikan Nuclear Corner di SMAN 2 pangkal pinang dengan  tujuan  memberikan  informasi kepada  masyarakat umum khususnya kalangan pelajar.

Selain di pulau Bangka, BATAN juga melakukan studi penyiapan tapak di dua lokasi lain yaitu Muria, Jawa tengah, dengan kapasitas 7.000 MegaWatt dan studi awal di Banten dengan kemungkinan kapasitas 4.000 MegaWatt.

Untuk tapak Muria, telah disusun dokumen monitoring kegempaan,  meteorologi dan  lingkungan yang berisi data gempa mikro dari delapan stasiun gempa mikro di sekeliling gunung Muria. Selain itu, bekerjasama dengan ITB, dimonitor deformasi di Muria menggunakan  GPS geodetik.  Studi ini dilakukan untuk mengetahui  posisi  koordinat suatu  lokasi yang mungkin terjadi akibat aktivitas vulkanik. 

GPS digunakan untuk mengamati perubahan posisi koordinat pertahun  dalam rentang  waktu lima tahun  hingga 2014. Pada akhirnya semua data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan gunung Muria aktif kembali. Informasi tentang gunung ini sangat penting terkait dengan keselamatan tapak PLTN. Selain sudah melengkapi dokumen studi tapak PLTN dan penyusunan spesifikasi teknisnya, BATAN juga sudah menyusun   dokumen   studi  partisipasi  industri  nasional, membuat dokumen studi infrastruktur sistem kelistrikan opsi nuklir dan dokumen lainnya.

Terkait  risiko terhadap  lingkungan, teknologi yang  dipilih BATAN untuk pembangunan PLTN di indonesia kelak adalah teknologi pressurized water reactor (PWR) atau reaktor air tekan. Sebelumnya teknologi tersebut diterapkan antara lain di Amerika serikat,  Jepang,  Korea dan China hingga Eropa sejak 1950 dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi.

PWR memang merupakan salah satu tipe reaktor yang paling banyak dipakai di dunia saat ini. Pada reaktor tersebut, air di dalam bejana reaktor ditekan dengan tekanan yang cukup tinggi untuk menjaga agar air di dalamnya tidak mendidih.

BATAN juga telah mengkaji penerapan teknologi pengolahan limbah nuklir. Misalnya teknologi yang mampu meningkatkan pembakaran  sehingga  nantinya  limbah  nuklir dari  PLTN menjadi kecil. BATAN memperkirakan saat ini terdapat cadangan sekitar 70 ribu ton uranium di indonesia yang bisa digunakan sebagai energi alternatif di masa depan. Eksplorasi potensi tambang uranium misalnya dilakukan di wilayah Gunung Kalan, Kalimantan Barat.

Dari pemantauan  dampak  lingkungan, disimpulkan bahwa kadar  logam  berat  di kawasan  bahan  galian nuklir Kalan berada   jauh   di   bawah   ambang   batas   yang   diizinkan sehingga  kegiatan penelitian eksplorasi tidak berpengaruh pada kondisi lingkungan. BATAN beberapa waktu lalu juga telah meneliti potensi sumber daya uranium di Kabupaten Nduga, Papua. Dari hasil analisis kadar uranium total batuan, pola sebaran dan lainnya maka didapatkan daerah prospek uranium seluas 360 km2.  

"BATAN kini telah melakukan studi penyiapan tempat atau tapak PLTN di sejumlah lokasi di Indonesia."
 
"Calon tapak di wilayah Bangka diperkirakan berpotensi kapasitas maksimum ribuan MegaWatt."

Potensi mineral lain yang diselidiki adalah thorium untuk bahan bakar reaktor karena dapat dikonversi menjadi uranium-233 dan jumlahnya lebih berlimpah. Diperkirakan ada potensi 120 ribu ton thorium dengan berbagai kategori di indonesia. BATAN telah menginventarisir potensi sumber daya thorium di Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Ketapang. Estimasi untuk potensi sumber daya thorium di Bangka adalah sebesar 2.520  ton dan uranium sebesar 540 ton kategori spekulatif.

Kapabilitas pengelolaan energi nuklir oleh BATAN juga ditunjukkan melalui gempa di Yogyakarta pada 2006 lalu. Meski gempa meluluhlantakkan sebagian besar area, konstruksi reaktor nuklir BATAN  yang berlokasi di Babarsari, Yogyakarta,  tidak mengalami kerusakan  apa  pun.  padahal, konstruksi reaktor tersebut dibuat oleh orang indonesia sendiri.

BATAN juga telah mengembangkan rekayasa perangkat instalasi nuklir. Misalnya berupa prototipe Sistem Instrumentasi dan Kendali (SIK) reaktor riset dan reaktor daya. SIK memiliki peran  utama  dalam menjamin tingkat keselamatan  sebuah reaktor nuklir yang memang cukup kompleks dan membutuhkan tingkat keselamatan tinggi dalam pengoperasiannya.

Kegiatan perekayasaan  SIK reaktor nuklir ini dilangsungkan bertahap, dengan setiap tahunnya menghasilkan prototipe berupa sub-sub sistem yang pada akhirnya akan diintegrasikan dalam sebuah sistem yang lengkap.

"Untuk bahan bakar nuklir, diperkirakan terdapat  cadangan sekitar 70 ribu ton uranium di Indonesia yang tersebar di sejumlah daerah." 

Kegiatan BATAN di tahun 2012 merupakan kelanjutan dari kegiatan di tahun 2010 yaitu perekayasaan instrumentasi dan kendali untuk simulator mekanik batang kendali, serta kegiatan di 2011 yaitu perekayasaan tingkat local controller. Pada tahun 2014 rencananya akan dilakukan perekayasaan tingkat Management Information System. Sementara tahun ini berlangsung di tingkat Safety System.

Terkait desain pabrik elemen bakar nuklir, pada periode 2007-.2009 BATAN sudah melakukan studi  pendahuluan  berupa pra studi kelayakan pabrik elemen bakar nuklir tipe PWR di Indonesia. Kesimpulan awal pra studi itu adalah pabrik sangat layak dan sangat strategis untuk segera dibangun bila PLTN dioperasikan di Indonesia.

Dari aspek  pasar  elemen  bakar  nuklir di dunia  juga  telah disajikan bahwa gambaran prospek pemasaran keluar negeri sangat  bagus,  di  samping  untuk  memenuhi  pasar  dalam negeri untuk pengisian bahan bakar PLTN di indonesia

Di sisi lain, BATAN telah menyiapkan dokumen desain konseptual Reaktor Riset Inovatif (RRI) yaitu reaktor riset baru sebagai calon pengganti reaktor riset yang akan habis umur pakainya. Desain konseptual rri diharapkan dapat menjadi kegiatan litbang yang sinergis dalam bidang teknologi reaktor.

Keberhasilan program ini dapat menjadi rekam jejak di bidang teknologi reaktor dan menunjukkan kemampuan bangsa indonesia dalam rekayasa reaktor nuklir. Desain konseptual teras RRI sendiri  telah  mengerucut  pada  tiga  konfigurasi yang masing-masing telah dihitung dari aspek  keselamatan termohidrolika dan aspek perhitungan suku sumber.
 
TEKNOLOGI BAHAN BAKAR NUKLIR
Masih terkait aspek  kemandirian dalam persiapan  reaktor daya,  BAtAN  telah   meresmikan   beroperasinya   instalasi pilot Conversion plant (PCP)  pada  17  Oktober 2013. ini merupakan capaian luar biasa setelah 20  tahun penantian. Instalasi  tersebut  berfungsi  mengubah  bahan  baku yellow cake  menjadi  serbuk UO2 yang  akan  dibuat  pelet   dan selanjutnya dirakit menjadi elemen bakar nuklir. sebelumnya sudah ada instalasi fabrikasi selongsong untuk wadah serbuk tersebut.

instalasi  percobaan   itu  memiliki kapasitas  produksi  100 kilogram serbuk UO2  per hari. selain untuk bahan bakar reaktor daya kelak, kehadiran serbuk UO2 yang telah memenuhi derajat nuklir dan  derajat  keramik itu  akan  menjadikan  indonesia sebagai salah satu pemasok uo2    di dunia. PCP  dari BATAN sendiri telah mendapat izin komisioning selama setahun dari Badan pengawas tenaga Nuklir.

Sementara untuk reaktor daya yang berpendingin air (lWR), bahan struktur atau kelongsong pada elemen bakar nuklirnya memakai paduan zirkonium atau zircaalloy. Kelongsong bahan bakar merupakan bagian yang penting dalam pembuatan elemen bakar, karena di samping berfungsi sebagai pembungkus bahan bakar uranium juga sebagai pengungkung  gas  hasil fisi selama  operasi  dalam reaktor nuklir.

Muncul keinginan untuk meningkatkan unjuk kerja paduan zirkonium  yang  lebih  baik  sebagai  bahan  struktur  bahan bakar  yang telah  ada.  Ini  dipicu oleh  tren  pengembangan peningkatan burn-up bahan bakar yang lebih tinggi. Bekerja sama dengan PT. Pindad, BATAN juga telah melakukan pengujian  bahan  umpan  lalu peleburan  rod  Zirlo-Mo dan karakterisasi rod Zirlo-Mo hasil leburan.