hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Penerapan solusi energi bersih yang terlalu lambat akan meningkatkan biaya reduksi perubahan iklim, peringatan tersebut disampaikan IEA (International Energy Agency) yang menyebutkan perkiraan harga untuk memenuhi ambisi perubahan iklim dunia pada 1 bilyun dolar.

IEA mengatakan, bahwa sangat penting bagi setiap negara untuk meningkatkan segala daya dan upaya dalam memenuhi tujuan yang ditargetkan pada pertemuan Copenhagen tahun 2009 lalu, walaupun gagal untuk mencapai konsensus. Hasil dari Coppenhagen Accord adalah menetapkan tujuan bersama agar peningkatan suhu global kurang dari 2oC, wlaupun tidak menetapkan pengurangan emisi bagi masing-masing negara agar target ini dapat tercapai atau apakah semua negara mendukung atau tidak.

Berbicara pada Konferensi Perubahan Iklim (UN Climate Change Conference) di Cancun, Mexico, direktur eksekutif IEA, Nobuo Tanaka, menyampaikan bahwa walaupun langkah-langkah positif telah diambil di Copenhagen tahun lalu, namun kita tetap berkewajiban untuk mengambil langkah tepat dalam usaha menurunkan emisi.

Dia mencatat, berbagai janji yang disampaikan oleh negara maju dan berkembang di Copenhagen, menunjukkan bahwa mitigasi iklim bukan lagi hal yang tabu. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan efektif memobilisasi seluruh sektor energi untuk mengurangi emisi global.

Menurut angka IEA, emisi karbon dioksida (CO2) pada sektor energi global pada tahun 2008 mencapai angka 40% lebih tinggi dari tahun 1990. Perlu dicatat bahwa, sementara ada jeda dalam peningkatan emisi CO2 di seluruh dunia pada tahun 2009, namun  pertumbuhan ekonomi di negara berkembang membutuhkan energi yang lebih banyak lagi dan pada akhirnya meningkatkan emisi CO2.

Dalam pernyataannya, IEA mengatakan bahwa, nilai investasi untuk dekarbonisasi energi mix global telah meningkat sebesar 1 bilyun dollar, sejak perkiraan IEA tahun lalu.  Tahun lalu, organisasi menempatkan angka 10,5 bilyun dollar pada transisi global untuk efisiensi, dan sistem energi rendah karbon. pada tahun 2030.

Edisi terbaru dari IEA World Energy Outlook, yang bulan lalu dipublikasikan, menunjukkan bahwa emisi CO2 akan meningkat sebesar 21% lebih tinggi dari tahun 2008 pada tahun 2035, atau terjadi pemanasan global pada suhu 3,5 oC. 450 skenario pada laporan tersebut memperkirakan tindakan yang harus dilakukan untuk membawa dunia kembali ke jalur dimana gas rumah kaca di atmosfer ditekan ke konsentrasi 450 ppm CO2-ekuivalen dan kenaikan suhu pada 2 oC. 450 skenario tersebut mengasumsikan transformasi cepat dari sistem energi global, dengan penghapusan subsidi bahan bakar fosil dan dengan energi terbarukan dan nuklir melipatgandakan kontribusi mereka pada kebutuhan energi dunia hingga sekitar 40% pada tahun 2035, dengan penghitungan bahan bakar rendah karbon (nuklir, energi terbarukan dan PLT Fossil yang telah dilengkapi dengan carbon captur&storage) selama tiga kuartal pada 2035.

Pada pertemuan Cancun, Tanaka mengatakan bahwa selain koordinasi internasional, upaya berkelanjutan dari kebijakan domestik yang mengintegrasikan tujuan mengurangi perubahan iklim dengan prioritas kebijakan energi untuk kesejahteraan ekonomi dan keamanan pasokan energi, mutlak diperlukan.

Lebih lanjut, ia mengatakan, dalam rangka memerangi perubahan iklim, entah kita melihat dari sisi sumber energi maupun teknologi, sudah waktunya kita mengatakan bahwa masa dimana energi murah itu telah usai. Ia juga menambahkan bahwa, kita harus bekerja sama, disemua level, disemua negara dan dengan semua teknologi yang ada untuk menemukan solusi terbaik untuk mengubah sektor energi kita dan membawa misi pengurangan emisi global sepanjang masa.(th.erni/sumber wnn)

Last Modified : 11 January 2012 - 11:51:50 by Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.