Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Staff bidang pengkajian BAPETEN sangat terkesan dengan pengalaman CSCA/BATAN dalam menerapkan self-assessment nuclear secuity culture ....

Selengkapnya...
BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

koordinasi antara lembaga litbang BATAN dengan Perguruan Tinggi khususnya dalam mempromosikan nuclear security, physical protection , nuclear security culture and its assessment

Selengkapnya...
CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

Sejak didirikan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, tanggal 29 September 2014, Center for Security Culture and Assessment (CSCA) yang bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA) Amerika Serikat

Selengkapnya...

(Serpong, 11/04/17).  Selama lebih dari 50 tahun, The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP) telah menjadi kekuatan pendorong di belakang upaya global untuk memajukan keahlian ilmiah di negara berkembang. Didirikan pada tahun 1964 oleh almarhum Nobel Laureate Abdus Salam, ICTP berusaha untuk mencapai mandatnya dengan menyediakan ilmuwan dari negara-negara berkembang dengan pendidikan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menikmati karir yang panjang dan terus produktif.

Presiden Italia dalam pidatonya  pada acara Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Nuklir, Washington DC, April 2010 mengatakan,  Pemerintah Italia akan berkomitmen mendukung program keamanan nuklir dunia melalui program pengembangan kapasitas manusia dengan menggelar berbagai pelatihan di ICTP-Trieste.  Pada bulan April 2011 ICTP bekerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) dan Kementerian Luar Negeri Itali , menggelar “1st International School on Nuclear Security”, yang bertempat di ICTP, Trieste, Itali.

International School on Nuclear Security yang berada di bawah koordinasi International Nuclear Security Education Network (INSEN)-Division of Nuclear Security digelar IAEA rutin setiap tahun. Sejak 2011, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah mengirimkan pegawainya sebanyak 3 personil untuk menjadi peserta pada acara ini. Pada tahun 2017, merupakan suatu kebanggaan bagi BATAN karena dapat berkontribusi sebagai Pengajar Tamu (Guest Lecture) pada International School on Nuclear Security yang ke-7. Indonesia merupakan negara pertama di Regional Asia and the Pacific dan negara non-nuclear power yang diundang untuk menyampaikan materi pelatihan IAEA dan berbagi pengalaman dalam penerapan proteksi fisik serta pelaksanaan diseminasi budaya keamanan, penilaian mandiri budaya keamanan nuklir kepada para peserta.

Senior Nuclear Security Officer BATAN, Khairul berkesempatan diundang sebagai Pengajar Tamu mengatakan bahwa acara ini diadakan selama dua minggu yang ditujukan untuk profesional dari negara-negara berkembang, dengan pengalaman kerja idealnya selama 1-3 tahun, yang bekerja pada lembaga / instansi yang relevan di negara asalnya dengan tanggung jawab yang meliputi beberapa aspek keamanan nuklir. Kandidat harus memiliki minat karir tertentu dalam pengetahuan tentang keamanan nuklir, meskipun latar belakang akademis mereka mungkin berbeda. Calon dengan disiplin ilmu atau teknis yang relevan dengan keamanan nuklir, seperti fisika nuklir, teknik nuklir atau ilmu politik, dan / atau di bidang terkait, secara khusus didorong untuk mendaftar.

Menurut Khairul, ICTP telah menjadi kekuatan utama dalam membendung brain drain ilmiah dari negara berkembang. “Walaupun tujuan utama dari ICTP-Trieste adalah untuk membantu peneliti dari negara-negara berkembang, melalui program kegiatan pelatihan dalam kerangka kerja sama internasional, sejumlah mahasiswa dan ilmuwan Post-Doktoral dari negara-negara maju juga dipersilahkan untuk hadir di ICTP,” ujar Khairul.

 

Mengingat kondisi jarak usia antara pegawai BATAN Senior dan Junior cukup jauh, maka menurut Khairul kesempatan ini sebaiknya ditawarkan kepada pegawai junior untuk mengetahui keamanan nuklir dari konteks internasional maupun nasional sejak dari awal. Dengan pemahaman tentang keamanan nuklir sejak dini, diharapkan akan dapat menumbuhkembangkan budaya keamanan khususnya di fasilitas nuklir BATAN.

Keamanan nuklir adalah menjadi perhatian setiap negara, oleh karena itu penting bagi masing-masing negara untuk memastikan bahwa bahan nuklir tidak dicuri dan digunakan untuk tujuan jahat, serta untuk mencegah sabotase di fasilitas nuklir, atau potensial ancaman lainnya.

BATAN melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan juga merupakan “Nuclear Security Support Center (NSSC) telah menjadi tuan rumah Regional  School on Nuclear Security, mulai tahun 2014 dan 2016. Rencananya IAEA akan mengadakan Regional School on Nuclear Security pada bulan Oktober 2018 di Pusdiklat/NSSC.  “Sekolah akan meningkatkan kesadaran keamanan nuklir dan meningkatkan infrastruktur keamanan di tingkat regional, baik untuk negara-negara Asia dan Pacific,” tambahnya.  (kh/CSCA).