Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Staff bidang pengkajian BAPETEN sangat terkesan dengan pengalaman CSCA/BATAN dalam menerapkan self-assessment nuclear secuity culture ....

Selengkapnya...
BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

koordinasi antara lembaga litbang BATAN dengan Perguruan Tinggi khususnya dalam mempromosikan nuclear security, physical protection , nuclear security culture and its assessment

Selengkapnya...
CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

Sejak didirikan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, tanggal 29 September 2014, Center for Security Culture and Assessment (CSCA) yang bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA) Amerika Serikat

Selengkapnya...

(Jakarta, 03/01/2017), Sebagai lembaga pemerintah yang mengelola fasilitas nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus berupaya meningkatkan keamanan nuklir baik tingkat nasional maupun internasional. Salah satu upaya meningkatkan keamanan nuklir, BATAN melakukan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di berbagai negara, diantaranya International Atomic Energy Agency (IAEA), Partnership for Nuclear Security/U.S. DOS, Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA), DECC/King’s College London, ISCN/JAEA-Japan.

Pada acara International Conference on Nuclear Security, di Wina Austria, (5-9 Desember 2016), Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto diundang berbicara pada high level session. Djarot menyampaikan capaian keamanan nuklir khususnya penerapan budaya keamanan serta penilaian mandiri budaya keamanan yang telah dilakukan sebanyak 2 kali di BATAN melalui Center for Security Culture and Assessment (CSCA). CSCA merupakan Pusat yang didirikan pada 29 September 2014 oleh Kepala BATAN mempunyai tugas melakukan promosi budaya keamanan dan penilaian mandiri budaya keamanan.

Djarot menambahkan, Peningkatan budaya keamanan nuklir di Indonesia dipandang sangat perlu mengingat kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri sekitar 13.000 pulau. Hal ini membuat posisi Indonesia menjadi sangat rentan terhadap upaya penyelundupan dan masalah keamanan nuklir, khususnya di daerah perbatasan, fasilitas nuklir dan fasilitas radiasi.

Berbagai ancaman nyata seperti serangan teroris yang pernah terjadi di sekitar fasilitas nuklir Serpong pada April 2011 dan serangan teroris di awal tahun 2016 yang lokasinya tidak jauh dari Istana Negara, menjadi perhatian bagi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan BATAN dalam peningkatan kewaspadaan. Untuk itulah BAPETEN mengeluarkan Peraturan Kepala BAPETEN No. 1 tahun 2009 tentang Ketentuan Proteksi Fisik Bahan dan Fasilitas Nuklir  yang mewajibkan kepada operator untuk mengevaluasi proteksi fisik dan budaya keamanan nuklir secara periodik.

Terkait keamanan bahan nuklir dan sumber radioaktif, Djarot menjelaskan, Indonesia sudah memiliki Peraturan Pemerintah No. 54 tahun 2012 tentang Keselamatan dan Keamanan Instalasi Nuklir. Peraturan ini dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa kegiatan dan pemanfaatan bahan nuklir dan sumber radioaktif dalam pengawasan dan dalam keadaan aman. Untuk memastikan kegiatan dan peraturan ini diterapkan dengan baik, Indonesia melalui BAPETEN telah mengundang 3 kali tim IAEA-International Physical Protection Advisory Services (IPPAS) Mission. BATAN juga telah membentuk Divisi Keamanan dan Proteksi Fisik yang bertugas mengkoordinir kegiatan keamanan dan proteksi fisik di lingkungan BATAN.

Menurut Djarot, upaya mengintegrasikan budaya keamanan dalam kegiatan terkait keamanan agar dilakukan secara berkelanjutan. Promosi budaya keamanan adalah proses yang berkelanjutan dan memerlukan multi-disiplin. Proses keberlanjutan peningkatan budaya keamanan nuklir ini dapat difasilitasi dengan pembentukan kelompok multi-disiplin ditingkat nasional maupun regional. (kh/CSCA).