Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Staff bidang pengkajian BAPETEN sangat terkesan dengan pengalaman CSCA/BATAN dalam menerapkan self-assessment nuclear secuity culture ....

Selengkapnya...
BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

koordinasi antara lembaga litbang BATAN dengan Perguruan Tinggi khususnya dalam mempromosikan nuclear security, physical protection , nuclear security culture and its assessment

Selengkapnya...
CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

Sejak didirikan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, tanggal 29 September 2014, Center for Security Culture and Assessment (CSCA) yang bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA) Amerika Serikat

Selengkapnya...

(Serpong, 3/08/16). Hasil Penilaian Mandiri Budaya Keamanan Nuklir Tahap ke-2 yang telah dilaporkan kepada Kepala BATAN, dan juga kepada para Kepala Pusat di Kawasan Nuklir Serpong dengan sejumlah rekomendasi yang disusun oleh Tim Pelaksana Penilaian Mandiri Budaya Keamanan telah disampaikan pada tanggal 29 Juni 2016. Agenda ini masih terus dilanjutkan oleh tim Center for Security Culture and Assessment (CSCA) kepada pegawai di Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG).

Menurut Khairul, sebagai wakil CSCA bahwa penyampaian laporan Penilaian Mandiri Budaya Keamanan Nuklir Tahap ke-2 kepada pegawai sangat diperlukan agar para pegawai/responden memahami hasil dan juga capaian serta kendala dalam penerapan budaya keamanan terutama temuan pada indikator budaya yang lemah “weakness” serta yang kuat “strongest”. Khairul, selaku nara sumber yang mewakili CSCA diundang oleh Kepala Pusat Reaktor Serba Guna untuk menyampaikan materi tersebut pada acara sosialisasi di hadapan sejumlah pegawai di PRSG pada tanggal 21 Juli 2016, Khairul mengatakan bahwa acara ini perlu dilakukan secara bertahap di tiga satuan unit kerja yang menjadi responden di PRSG, PTBBN dan PTLR. Responden yang mengikuti proses penilaian mandiri dari ketiga pusat tersebut berjumlah 277 pegawai.

Kepala PRSG telah menginisiasi untuk mengundang naras umber dari CSCA agar dapat menyampaikan laporan pekerjaan yang telah dilakukan oleh tim CSCA. Diharapkan oleh CSCA agar kegiatan penyampaian laporan penilaian mandiri budaya keamanan kepada seluruh pegawai/responden dapat dilakukan secara bertahap di PRSG dan satuan kerja lainnya. Penyampaian laporan penilaian mandiri budaya keamanan dapat dilakukan oleh tim CSCA, apabila ada permintaan dari masing-masing satuan kerja, tambah Khairul.

Empat perangkat penilaian mandiri yang bertemakan “Kepatuhan terhadap Prosedur” tersebut meliputi survei, wawancara, kajian dokumen, dan observasi. Penilaian mandiri tersebut telah dilakukan sepanjang tahun 2015 hingga penyelesaian laporan akhir pada bulan Juni 2016, dengan responden para pegawai BATAN di Kawasan Nuklir Serpong. Pegawai tersebut mencakup petugas pengamanan, pejabat struktural dan pegawai non struktural.

Dari hasil penilaian mandiri tersebut, diperoleh kesimpulan umum bahwa sikap pegawai menunjukkan sikap positif terhadap kepatuhan prosedur, yang artinya secara pikiran (kognitif) dan perasaan (afektif) para pegawai telah memiliki kecenderungan bersikap bahwa kepatuhan pada prosedur itu penting. Namun dalam tataran perilaku (konasi) menunjukkan masih ada pegawai yang belum melaksanakan kepatuhan pada prosedur.

Karena itu, prosedur tidak hanya sekedar sebagai dokumen namun perlu disosialisasikan kepada pegawai secara terus menerus dan perlu dikaji ulang. Pegawai BATAN di lingkungan KNS sudah memiliki sikap positif terhadap kepatuhan pada prosedur namun juga harus dibuktikan dengan perilaku nyata.

Yusi dalam sambutannya menyampaikan, acara sosialisasi ini untuk dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para pegawai sehingga kita dapat menambah wawasan mengenai Budaya Keamanan Nuklir, apa yang bisa kita terapkan di PRSG maka kita terapkan sehingga PRSG akan menjadi lebih baik khususnya mengenai Budaya Keamanan Nuklir. Manajemen PRSG berharap, kita saling bekerjasama semua bidang di PRSG untuk mewujudkan Budaya Keamanan Nuklir semakin lebih baik. Keamanan Nuklir menjadi bagian penting karena Nuklir itu sendiri perlu diamankan. Keamanan menjadi tanggung jawab kita bersama, tambah Yusi.

Khairul, menyampaikan bahwa terdapat 5 perilaku pegawai (pejabat dan staf) yang perlu dipahami serta diterapkan yaitu: 1) berperilaku professional dalam setiap tindakan, 2) punya sikap tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaannya, 3) punya jiwa yang senantiasa selalu patuh kepada prosedur, 4) membangun kerjasama dalam tim, 5) punya sikap selalu waspada dan budaya bertanya (questioning attitude). Kelima sikap inilah yang menjadi tujuan utama dalam pelaksanaan penilaian mandiri dengan menggunakan indikator budaya yang berasal dari perilaku kepemimpinan serta sistem manajemen yang semuanya berkontribusi kepada perilaku para pegawai. Sebab sistem manajemen yang dibangun oleh pemimpin keberhasilan dalam penerapannya hingga tercipta sistem keamanan yang efektif akan sangat bergantung dari dukungan para pegawai yang telah menjiwai kelima sikap tersebut.

Pelaksanaan penilaian mandiri budaya keamanan bukan bertujuan untuk mengubah budaya seketika, tapi ini merupakan proses pembelajaran yang harus dilakukan secara berkelanjutan,” tambahnya (kh/CSCA).