Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Staff bidang pengkajian BAPETEN sangat terkesan dengan pengalaman CSCA/BATAN dalam menerapkan self-assessment nuclear secuity culture ....

Selengkapnya...
BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

koordinasi antara lembaga litbang BATAN dengan Perguruan Tinggi khususnya dalam mempromosikan nuclear security, physical protection , nuclear security culture and its assessment

Selengkapnya...
CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

Sejak didirikan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, tanggal 29 September 2014, Center for Security Culture and Assessment (CSCA) yang bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA) Amerika Serikat

Selengkapnya...

(Jakarta, 02/04/2016) Salah satu Putra Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Khairul berkesempatan mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Industri Nuklir di USA yang waktu penyelenggaraannya bertepatan dengan KTT Keamanan Nuklir. Khairul adalah salah satu pakar bidang proteksi fisik di BATAN di sela-selah keikutsertaannya di KTT Industri Nuklir berkesempatan diwawancarai oleh media VOA, berikut liputannya :

Ancaman Penyalagunaan Nuklir Semakin Besar

(Sumber :VOAIndonesia.com) Para pemimpin dari lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, bertemu dalam KTT Keamanan Nuklir yang berlangsung mulai Kamis. Pertemuan itu diadakan di tengah meningkatnya kekhawatiran penyalahgunaan bahan-bahan nuklir oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Awal bulan Maret, pihak berwenang Irak menuduh ISIS menembakkan roket yang dilapisi bahan kimia di dekat kota Kirkuk, melukai hampir 600 orang. Akibatnya akan lebih gawat lagi apabila teroris memiliki bahan-bahan nuklir.

Michaele Dodge dari Heritage Foundation mengatakan, “Bahan nuklir yang rentan bisa digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir yang terlarang, bisa digunakan untuk membuat bom rakitan, dan menimbulkan serangkaian isu apabila jatuh ke tangan non-negara. Maka, itu adalah ancaman serius.”

Ancaman yang tidak kalah seriusnya, adalah kemungkinan nuklir disalahgunakan oleh orang dalam. Seperti yang disampaikan Khairul, Pakar Teknis Bidang Proteksi Fisik dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dia menyampaikan hal itu kepada VOA hari Kamis (31/3) di sela-sela KTT Industri Nuklir, yang diadakan bersamaan dengan KTT Keamanan Nuklir.

“Dalam keamanan nuklir yang dihadapi bukan hanya musuh dari luar atauexternal threat, yang dikhawatirkan saat ini adalah musuh dari dalam atau insider threat yang bisa berasal dari pegawai yang tidak puas, disgruntled employees, atau orang dalam yang dimanfaatkan oleh ancaman dari pihak luar,” kata Khairul.

Menurut Khairul, pencegahan ancaman dari dalam dapat dilakukan dengan menerapkan pedoman budaya keamanan nuklir dan program kehandalan manusia (trustworthiness).

Pengamanan bahan nuklir agar tidak disalahgunakan menjadi salah satu fokus utama pembicaraan para pemimpin dunia dalam KTT Keamanan Nuklir 2016 yang berlangsung dua hari.

Presiden AS Barack Obama membuka KTT Keamanan Nuklir yang keempat dan terakhir di Washington hari Kamis, mengakui bahwa dunia tetap menghadapi ancaman perkembangan senjata nuklir Korea Utara dan kemungkinan bahwa kelompok militan ISIS bisa meledakkan bom radiaktif.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Berbicara kepada wartawan di Washington Kamis siang, Wapres mengatakan para pemimpin dunia harus bekerja sama dalam mengamankan nuklir.

“Intinya adalah kita ingin menciptakan suatu sistem bagaimana pengamanan dari nuklir itu. Walaupun nuklir itu untuk tujuan damai, tapi bahan-bahannya bisa diselewengkan, dipakai tidak benar. Untuk menjaga keamanannya harus dibicarakan bersama,” katanya.

Kamis malam JK dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden AS Barack Obama sambil membahas soal ancaman keamanan nuklir.[vm/al]