Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Pertemuan Perdana BATAN-CSCA, BAPETEN, Tim Keamanan Nuklir RSO Kementrian Perhubungan-Indonesia

Staff bidang pengkajian BAPETEN sangat terkesan dengan pengalaman CSCA/BATAN dalam menerapkan self-assessment nuclear secuity culture ....

Selengkapnya...
BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

BATAN Kenalkan Budaya Keamanan Nuklir ke Unhan

koordinasi antara lembaga litbang BATAN dengan Perguruan Tinggi khususnya dalam mempromosikan nuclear security, physical protection , nuclear security culture and its assessment

Selengkapnya...
CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

CSCA Sebagai Nara Sumber di BAPETEN

Sejak didirikan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, tanggal 29 September 2014, Center for Security Culture and Assessment (CSCA) yang bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA) Amerika Serikat

Selengkapnya...

Jakarta, 24 Agustus 2015, Sejak didirikan oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, tanggal 29 September 2014, Center for Security Culture and Assessment (CSCA) yang bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Center for International Trade and Security-University of Georgia (CITS-UGA) Amerika Serikat terus berupaya untuk memperkenalkan metodologi IAEA tentang budaya keamanan dan penilaian mandiri kepada para mitranya di dalam dan di luar negeri. Beberapa upaya outreach yang sudah dilakukan oleh CSCA selama ini adalah ke perguruan tinggi dan ke rumah sakit. CSCA juga telah berupaya melakukan internalisasi budaya keamanan dan penilaian mandiri melalui acara sosialisasi budaya keamanan dan hadir sebagai nara sumber pada acara sarasehan budaya keselamatan di lingkungan BATAN.

Salah satu bentuk keberhasilan dari penilaian mandiri budaya keamanan yang dilakukan oleh CSCA/BATAN pada survey budaya keamanan tahap 1 selain adanya security awareness yaitu adalah mampu meyakinkan kesetaraan keberadaan budaya keamanan dengan budaya keselamatan di dalam infrastruktur nuklir dan operasional, karena keselamatan dan keamanan adalah 2 pilar dalam infrastruktur nuklir dan operasionalnya. Diakui bahwa keselamatan dan keamanan penting, maka keduanya akan bergantung kepada “Human Factor”, budaya keamanan menjadikan manusia / human factor sebagai assest dalam keamanan nuklir, ungkap Khairul. Hal ini telah diwujudkan dengan diterimanya undangan kepada CSCA sebagai nara sumber pada acara workshop budaya keselamatan nuklir di Sentul pada bulan Mei 2015.

Pada tanggal 5 Juni 2015, CSCA diundang pertama kali oleh BAPETEN melalui Dr. Syahrir, M.Sc., selaku Kepala Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (P2STPFRZR). Dr. Syahrir, M.Sc., mengatakan bahwa kehadiran CSCA untuk mendapatkan informasi dari pengalamannya saat melakukan penilaian mandiri budaya keamanan di reaktor BATAN. Ditambahkan oleh Syahrir bahwa tujuan kehadiran CSCA adalah untuk mendukung kegiatan di pusatnya yang ingin melakukan kajian penyusunan pedoman self-assessment untuk menumbuh kembangkan budaya keamanan nuklir nasional. Pertemuan lanjutan diadakan kembali pada tanggal 24 Agustus 2015, yang meminta Khairul/CSCA sebagai Nara Sumber untuk mempresentasikan 9 modul Penilaian Mandiri. Modul - modul ini yang selalu digunakan oleh IAEA kepada negara yang akan melakukan penilaian mandiri melalui national workshop penilaian mandiri, seperti: Bulgaria (PLTN) dan Malaysia (Hospital).

Sebelumnya pada tanggal 9 Juni 2015, Dr. Ir. Djoko Hari Nugroho, selaku Kepala Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Pengawasan Instalasi Bahan Nuklir (P2STPIBN) - BAPETEN, secara resmi meminta kepada Khairul / Physical Protection Officer/BATAN sebagai Nara Sumber kaitannya dalam rangka Kajian Teknis Standar Keselamatan dan Keamanan INNR dan juga dalam rangka merevisi Perka BAPETEN No.1 tahun 2009 tentang Ketentuan Sistem Proteksi Fisik Instalasi dan Bahan Nuklir. Khairul telah memberikan hasil observasinya selama ini terhadap penerapan Perka BAPETEN No.1 tahun 2009 kepada P2STPIBN-BAPETEN termasuk hambatan serta beberapa saran yang mengacu kepada rekomendasi international dan best practice. (kh/CSCA).

Gambar: rapat koordinasi P2STPIBN-BAPETEN