• BATAN Offers Nuclear Technology to Overcome Silting Problems in Sentani Lake, Papua

    (Jakarta, 08/08/2018) Deputy for Nuclear Technology Utilization, National Nuclear Energy Agency (BATAN), Hendig Winarno, offers the use of nuclear technology to overcome the problem of silting Lake Sentani to the Regional Government of Papua. This was conveyed by Hendig during a joint working visit to Commission VII of the Indonesian House of Representatives in Papua Province, Tuesday (07/31).

    Some of the things that were discussed during the working visit included the preservation of Lake Sentani, which is now being used by the community to raise fish using cages and still have a lot of garbage. This condition according to Hendig, needs to be immediately followed up with various technological innovations so that Lake Sentani looks more beautiful and optimized for its utilization.

  • CLEARING HOUSE TEKNOLOGI NUKLIR

    PSMN yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan standardisasi, jaminan mutu nuklir serta akreditasi dan sertifikasi, bekerja sama dengan BHHK membentuk Clearing House Teknologi Nuklir (CHTN) atas dasar Perka BATAN 11 Tahun 2017 dan CHTN dilatar belakangi oleh:

    CHTN adalah organisasi yang bertugas melakukan kajian dan pemberian rekomendasi terhadap produk dan teknologi nuklir, pemberian sertifikasi personel, proses dan sistem manajemen, penyediaan data / informasi keahlian, produk dan teknologi nuklir. CHTN dibentuk untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat  dan  lingkungan  terkait  pemanfaatan  Produk dan/atau Teknologi  Nuklir.

    Sebagai organisasi yang melakukan kajian dan pemberian rekomendasi terhadap produk dan iptek nuklir, pemenuhan persyaratan perlu dilakukan melalui penilai kesesuaian. Seperti gambar berikut:

    Alur clearing test digambarkan sebagai berikut:
    Keperluan untuk CHTN saat ini:

    Kesimpulannya adalah, CHTN penting untuk dilaksanakan sebagai informasi satu pintu yang dapat menimalisir kebingungan masyarakat akibat dualisme informasi, menyediakan informasi teknologi nuklir yang cepat dan akurat, memudahkan calon konsumen dan/atau investor memilih teknologi juga menyediakan peran konsultasi dalam pemanfaatan teknologi.

    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

    PUSAT STANDARDISASI DAN MUTU NUKLIR (PSMN)
    Kawasan Puspiptek Gedung 71, Serpong
    Telepon: (021) 75791504/ Fax: (021) 75872030
    Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. 
  • Kerjasama PSMN

    CLEARING HOUSE TEKNOLOGI NUKLIR

    PSMN yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan standardisasi, jaminan mutu nuklir serta akreditasi dan sertifikasi, bekerja sama dengan BHHK membentuk Clearing House Teknologi Nuklir (CHTN) atas dasar Perka BATAN 11 Tahun 2017 dan CHTN dilatar belakangi oleh:

    CHTN adalah organisasi yang bertugas melakukan kajian dan pemberian rekomendasi terhadap produk dan teknologi nuklir, pemberian sertifikasi personel, proses dan sistem manajemen, penyediaan data / informasi keahlian, produk dan teknologi nuklir. CHTN dibentuk untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat  dan  lingkungan  terkait  pemanfaatan  Produk dan/atau Teknologi  Nuklir.

    Sebagai organisasi yang melakukan kajian dan pemberian rekomendasi terhadap produk dan iptek nuklir, pemenuhan persyaratan perlu dilakukan melalui penilai kesesuaian. Seperti gambar berikut:

    Alur clearing test digambarkan sebagai berikut:

    Keperluan untuk CHTN saat ini:

    Kesimpulannya adalah, CHTN penting untuk dilaksanakan sebagai informasi satu pintu yang dapat menimalisir kebingungan masyarakat akibat dualisme informasi, menyediakan informasi teknologi nuklir yang cepat dan akurat, memudahkan calon konsumen dan/atau investor memilih teknologi juga menyediakan peran konsultasi dalam pemanfaatan teknologi.

    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

    PUSAT STANDARDISASI DAN MUTU NUKLIR (PSMN)

    Kawasan Puspiptek Gedung 71, Serpong

    Telepon: (021) 75791504/ Fax: (021) 75872030

    Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. 

  • Peluang dan Tantangan BRIN untuk Tingkatkan Pemanfaatan Teknologi Nuklir Bidang Medis di Indonesia

    Serpong – Humas BRIN. Pemanfaatan teknologi nuklir untuk bidang medis di Indonesia masih sangat membutuhkan perhatian. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Deteksi Radiasi dan Analisis Nuklir (PRTDRAN) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Abu Khalid Rivai dalam webinar series Voice of Research episode ke-4 secara daring pada Jumat (1/7) yang mengangkat tema Riset Teknologi Deteksi Radiasi Nuklir untuk Aplikasi Medis, Peluang dan Tantangannya di Indonesia.

    “Indonesia dengan jumlah penduduk 273 juta jiwa sangat membutuhkan penguatan dan percepatan terkait aplikasi teknologi nuklir bidang medis. Di Jepang dengan jumlah penduduk setengah dari Indonesia, memiliki lebih dari 1000 unit Rumah Sakit dengan fasilitas terkait teknik nuklir untuk medis.  Sedangkan di negara kita baru ada sekitar 15 unit. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita,” tuturnya.

    Disampaikan oleh Abu bahwa PRTDRAN bagian dari integrasi BRIN bekerjasama dengan lembaga-lembaga nasional telah melakukan riset terkait aplikasi teknologi nuklir bidang medis, kesehatan dan kedokteran nuklir khususnya terkait dengan metode radiodiagnostik dan radioterapi. “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari kita untuk mengakselerasi ekosistem riset dan inovasi yang baik terkait aplikasi teknologi nuklir bidang medis,” kata Abu.

  • Peserta Rembuk Integritas Nasional kunjungi PTRR

    TangSel 27/11/2019 Tidak kurang dari 15 peserta Rembuk Integritas Nasional ke-5 berkunjung ke fasilitas Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR). Kunjungan yang difasilitasi oleh Puspiptek (Pusat Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sebagai pengelola kawasan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Rembuk Integrasi Nasional ke-5 yang diselenggarakan di Puspiptek Serpong. Kegiatan Rembuk Integritas Nasional ke-5 merupakan kegiatan yang digagas oleh Pemerintah Kota Tangerang selatan dan  Pemerintah Provinsi Banten bekerjasama dengan Kolaborasi Integritas Nasional.

    Sebagian besar peserta merupakan para pelaku litbang (penelitian dan pengembangan) dari berbagai daerah kabupaten/kota di Indonesia. Pada kesempatan itu, peserta diajak untuk menyaksikan video profil PTRR, melihat produk hasil litbang yang telah digunakan oleh masyarakat dan melihat fasilitas yang ada di PTRR. Mereka sangat antusias mengikuti kunjungan ini dan ini merupakan kali pertama mereka mengunjungi fasilitas nuklir.-Ariefimam-

  • Teknologi Nuklir Dukung Pencegahan Stunting di Indonesia

    Serpong – Humas BRIN. Ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir melalui teknik analisis nuklir mampu mendeteksi kandungan nutrisi pada sebuah makanan. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui terjadinya malnutrisi pada anak, sekaligus merupakan salah satu upaya pencegahan stunting di Indonesia.

    Berdasarkan data hasil survei yang dikeluarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), bahwa pada tahun 2022 angka stunting di Indonesia mencapai 24,4%. Angka ini masih berada di atas standar yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO yakni 20%.

    Oleh karenanya, pemerintah memandang stunting saat ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dihadapi oleh anak-anak di Indonesia. Stunting sendiri merupakan suatu kondisi terganggunya tumbuh kembang anak yang biasanya disebabkan oleh kekurangan nutrisi, infeksi berulang, atau stimulasi psikologis yang kurang memadai.

  • Verifikasi PNS Inspiratif 2018 Dilakukan pula terhadap Kegiatan Litbang Kedokteran Nuklir "Renograf"

    Tangerang Selatan (19/11/2018); BATAN melalui stafnya yg masuk sebagai nominasi PNS Inspiratif 2018, saat dilakukan liputan oleh stasiun TVRI Kepala PRFN Dhandhang Purwadi menyampaikan beberapa hal terkait kegiatan litbang yang dilakukan pa Joko Sumanto secara konsisten, diantaranya :

    Renograf di BATAN dikembangkan sejak lama sampai dikeluarkan ijin edar dari kemenkes RI, dan saat ini telah dikembangkan Renograf yang terintegrasi dg Tyroid Uptake.

    Renograf ini banyak diharapkan oleh para spesialis kedokteran nuklir karena biayanya yang lebih murah dibandingkan perangkat dengan fungsi sejenis yang saat ini masih terbatas di rumah sakit.