sucofindo
SDM Nuklir
HUT RI
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
peresmian gedung radiosiotop
korupsi
kedelai
Radiofarmaka

Masalah utama yang dihadapi pemerintah dalam produksi bahan pangan, terutama beras adalah semakin berkurangnya lahan sawah subur. Berkurangnya lahan ini antara lain dipergunakan untuk daerah pemukiman, jalan, kawasan industri, dan lain-lain. Jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat, tercatat lebih dari 50.000 hektar lahan pertanian mengalami alih fungsi menjadi lahan non pertanian.

Di samping itu masalah lainnya kejadian alam seperti pengaruh iklim, banjir dan kekeringan serta adanya serangan hama dan penyakit menyebabkan berkurangnya produktivitas lahan dan tanaman. Selain ketersediaan lahan, upaya peningkatan produksi padi nasional tidak dapat dipisahkan dari inovasi teknologi.

Untuk itu, pemerintah berupaya menghasilkan berbagai terobosan teknologi untuk peningkatan produksi padi, terutama varietas unggul berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap hama penyakit, yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi nasional.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) punya kontribusi penting di bidang penelitian pangan. Melalui implementasi teknik nuklir, lembaga ini berupaya ikut menjawab tantangan masalah krisis pangan yang dihadapi bangsa saat ini.

Salah satu yang dibanggakan oleh Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto adalah beras. Teknik nuklir memang dapat digunakan untuk rekayasa genetika tanaman dan menghasilkan varietas baru bersifat unggul. Misalnya produksi tinggi, adaptif pada kondisi iklim Indonesia, umur genjah, kualitas beras bagus dengan rasa nasi pulen dan enak.

Padi hasil riset iptek nuklir dari BATAN ini terbukti sukses. Varietas padi Bestasi, misalnya. Varietas padi unggul ini terpilih sebagai salah satu karya unggulan anak bangsa dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2013.

”Nasinya pulen. Berasnya juga tahan lama. Tiap hari saya makan itu, jauh lebih enak dari Rojolele dan Pandanwangi,” kata Djarot ketika ditemui di kantornya, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya padi, BATAN juga mengembangkan banyak tanaman pangan lainnya, seperti sorgum, gandum dan kedelai. BATAN menelurkan varietas unggul dari tanaman kedelai melalui proses penelitian sejak tahun 1977. Melalui teknik iradiasi sinar Gamma, telah dihasilkan delapan varietas kedelai unggul.

Para peneliti BATAN sejak tahun 1996 juga melakukan pemuliaan sorgum untuk makanan pengganti tepung terigu. Selama ini produksi dan pasar sorgum di dunia didominasi oleh Amerika Serikat, India, Nigeria, Tiongkok, Meksiko, Sudan dan Argentina.

Sebagai bahan pangan dunia, sorgum memiliki manfaat layaknya gandum, padi hingga jagung. Biji sorgum dapat diolah menjadi beras sorgum yang lalu dapat dimasak menjadi nasi atau bubur sorgum. Tepung sorgum dapat diolah menjadi aneka macam menu masakan seperti mi, penganan atau kue sorgum.

”Kalau kita ke supermarket, kita tidak pernah menemukan tulisan BATAN di kemasan makanan atau minuman. Padahal boleh jadi ada hasil penelitian BATAN di situ. Karena BATAN kan tidak boleh jual-beli. Kalau sudah jadi varietas tersebut, sudah kita serahkan ke pihak swasta untuk komersialkan,” jelas Djarot.

Dia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir dengan hasil penelitian BATAN yang menggunakan radiasi nuklir. Sebab, radiasi terhadap genetik tanaman tidak mengakibatkan tanaman atau produk tanaman menjadi bersifat radioaktif. Semua hasil pemuliaan tanaman dengan radiasi aman dikonsumsi oleh manusia.

”Saya ini makan beras BATAN tiap hari. Kalau saya jadi tidak sehat, berarti beras BATAN itu berbahaya. Tapi ini kan saya sehat-sehat saja. Tidak ada masalah. Karena beras unggul yang dihasilkan BATAN itu memang sehat,” kata Djarot.