Extended submitting Leaflet AIBPA 14 November 2014, klik di sini!   |   pemgumunan seleksi administratif cpns sudah dapat dilihat pada cpns.batan.go.id atau info lengkap klik di sini!   |   ATOM INDONESIA invites worldwide scientists to send their papers to the 6th annual competition, entitled ATOM INDONESIA BEST PAPER AWARD 2014 (AIBPA 2014), more click here!   |   Seminar Nasional Geologi Nuklir dan Sumber Daya Tambang Tahun 2014, Jakarta 12 November 2014, info lengkap klik di sini Template download!   |   Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir IX, Jakarta 5 November 2014, info lengkap klik di sini!
INFO BATAN
Menyongsong Pupuk Organik

(Jakarta 17/03/09) Bicara produk pertanian tidaklah mungkin melepaskan diri dari masalah ketersedian pupuk, kesuburan tanah, yang memiliki peranan sangat dominan selain, benih, irigasi dan cara tanam serta kegiatan pasca panen. Demikian Sambutan Ketua Dewan Pupuk Indonesia (DPI) Dr. Soedjais pada acara penandatanganan Nota Kesepahaman antara Dewan Riset Nasional (DRN) dan DPI. Selasa 17 Maret 2009 bertempat di Plaza Pupuk Kaltim Jakarta. Selain penandatangan Kerja Sama diselenggarakan dialog dengan tema "Pengembangan Kebijakan dan Program Ristek Dalam Rangka Peningkatan Pendayagunaan Sumber Daya Alam Sebagai Bahan Baku Pupuk dan Energi Yang Ramah Lingkungan". Menampilkan Dr. Taswanda Taryo Deputi PHLIN-Batan, Prof. Wahono-BPPT, Dr, Ir Y Taryo Adiwidigda-PT Bio Industri Nusantara, Iswandi Ahmad-DPI, Endang Sukara-LIPI dengan moderator Prof. Benyamin Langitan-Sesmen KNRT.

Pemerintah punya kebijakan yang kuat untuk membuat Indonesia kecukupan dalam pangan, ketahanan pangan. Kalau kecukupan pangan maka fokus pada pangan pokok: padi, beras, kedelai, gandum, jagung, gula. Kalau itu semua kita anggap ketahanan pangan sebagai lokomotif maka kita bahas gerbong-gerbongnya adalah penyediaan pupuk: volume cukup,  bisa diakses dan harga terjangkau. Mengenai pupuk jalan pintas yang pernah kita lakukan adalah menyediakan pupuk yang dapat kita produksi secara masal. Urea adalah salah satu contohnya, komposisi dari NPK  bentuk yang lain, namumn demikian harus diperhatikan adalah pelestarian lingkungan. Jika banyak digunakan urea maka salah satu resiko yang harus kita tanggung adalah potensi pencemaran terhadap lingkungan karena tidak semua urea terserap tanaman, ia mempunyai dampak negatif  terhadap biota, hewan dan manusia. Faktor lain adalah bahwa urea sumbernya adalah gas, gas ini merupakan sumber terrbatas dan tak dapat diperbarui masuk dalam kategori non renewable resoursis. Ketiga kita nenggok potensi –potensi  terbarukan yang ramah lingkungan yang begitu banyak ada disekitar kita. Semua hasil pertanian, hutan ternak sumber potensi yang dapat diolah menjadi pupuk. Kerma dua dewan ini sejalan dengan kebijakan besar pemerintah, karena itu kami mendukung. Apalagi DPI adalah semi pemerintah dan DRN akan menggariskan kebijakan indonesia untuk riset, disamping 100 Milyar yang disediakan untu dana riset, kita juga dapat semacam tambahan bahwa anggaran pendidikan adalah 20% dan sebagian dari dana itu untuk riset. Dan akan kita susun secara seksama dari kedua dewan. Hasil penelitian di Perguruan Tinggi dan Badan riset yang berkaitan dengan pupuk akan mendapat mitra yaitu anggota dari DPI yang anggota-anggotanya merupakan produksen pupuk kelas besar seperti Iskandarmuda, pupuk Kaltim, Pusri, Kujang dan Petrokimia dan mereka juga punya UMKM dan ini berpotensi menjadi mitra untuk komersialisasi hasil-hasil riset dari Perguruan Tinggi dan badan riset nasional,  demikian Kusmayanto Kadiman Menteri Negara Riset dan Teknologi, pada konferensi pers sela-sela penandatangan Kerja Sama DRN dan DPI.
Selanjutnya Ketua DPI Dr. Zainal Soedjais mengatakan DPI berkepentingan dengan pertama penggunaan pupuk kimia yang semakin meningkat yang kedua kondisi tanah dan lingkungan yang semakin parah. Ketiga efisiensi yang semakin merosot, karena penyerapan hara dari pupuk kimia semakin besar lostnya, Inefisiensi semakin besar. Urea yang semakin dulu dosisnya masih 150 kg/ha penyerapannya masih 70%. 30% terlepas. Urea misanya sekarang 200-400 kg/ha yang los terbalik 70% yang terserap 30%. Ini hasil riset, kondisi ini berbahaya sudah gas mahal tapi hara  terserapnya semakin sedikit. Dan petani nantinya tidak akan membeli  dengan mudah makin lama negara mengurangi subsidi, petani  akan susah mendapatkan pupuk karena mahal. Oleh karena itu harus dicari terobosan.  Yaitu menuju pupuk organik atau bioorganik dan kerma ini kita arahkan kesana. Inventarisasi potensi  banyak bahan yang mempunyai potensi  bioteknologi, pembuatan dengan berbagai bahan baku tersebut mengakibatkan berbagai macam teknologi  diterapkan, dan ini tidak menimbulkan masalah lingkungan misalnya logam berat ada teknologi untuk menyingkirkan. Kemudian juga teknologi  aplikasi intergarted plan nutrient management  sehingga kita dapat  memanfaatkan nutrisi yang ada dimana-mana, di udara, tanaman bio mkikroorganisme dan dari pupuk  eksternal kita atur, sehingga menjadi efisien.  Pupuk kimia pun sebetulnya masih ada yang bisa diefisienkan melihat konsumsi  gas untuk proses yang baru dengan gasifikasi batubara. Ada teknologi lain yang belum dimanfaatkan misalnya urea bisa dibikin tidak terlalu realese dengan coating (pelapisan) yang kita tidak terdorong untuk itu. Pelepasan dapat di atur sesuai dengan perkiraan kita dalam kurun waktu tertentu serta menempatkan urea di beberapa lobang. 15 th lalu konsumsi urea 2,5 Juta ton sekarang tinggal 300.000 ton saja dan selebihnya diganti NPK atau biofertilizer, yang khusus dari biofertilazer dan pemanfaatan berbagai waste yang dapat dimanfatkan dan penggunaan teknologi untuk menghilangkan logam berat. Mudahan-mudahan dari sedikit diinverisasi dan diimprove  serta membuat action plan dan membuat masalah pupuk menjadi efisien sehinga menguntungkan petani atau pupuk menjadi lebih murah.  Demikian Ketua DPI.
Sedangkan menurut Kepala BATAN Hudi Hastowo para wartawan mungkin kaget Batan terkait dengan masalah pupuk, Badan Tenaga Nuklir Nasional tidak hanya terkait PLTN, tugas kami bagaimana memanfaatkan iptek nuklir untuk maksud damai, sesuai dengan kegiatan Batan yang ada di Agenda Riset Nasional dan RPJM antara lain beberapa fokus Energi, pangan, kesehatan. Masalah pangan Batan, telah menghasilkan varietas padi unggul dengan cara mutasi radiasi. Kaitanya dengan pupuk adalah biofertilizer,  pemanfaatan iptek nuklir untuk itu ada dua yaitu: biofertilizer yaitu membiakkan bakteri yang bisa menangkap nitrogen dsb, bakteri ini perlu  ditangkap dengan media pembawa, dan media ini biasanya tidak steril, untuk itu digunakan radiasi agar, bakteri diiradiasi dengan dosis tertentu, ketika pada saat itu diberi bakteri yang akan menangkap nitrogen, maka bakteri yang dimanfaatkan tidak ada saingan. Pupuk yang bagus adalah kotoran manusia, dan dapat diseterilkan dari bakteri patogen sehingga dapat bermanfaat. Selain itu dapat juga digunakan tracer, untuk mengetahui seberapa sih unsur yang dibutuhkan oleh tanaman, berapa nitrogen dan fosfornya agar tumbuh dengan baik. Dengan teknik nuklir kita dapat menandai dan kita juga dapat medeteksi penyerapan tanaman yang dibutuhkan sehinga dapat mendeteksi, pupuk apa yang dibutuhkan. Melakukan kegiatan itu, kita tidak sendiri melalui Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) dengan forum itu kita tidak jalan sendiri dan saling memperkaya sesama anggotanya. (h-2)

 

bkhh  : 18-03-2009 16:24:56