Extended submitting Leaflet AIBPA 14 November 2014, klik di sini!   |   pemgumunan seleksi administratif cpns sudah dapat dilihat pada cpns.batan.go.id atau info lengkap klik di sini!   |   ATOM INDONESIA invites worldwide scientists to send their papers to the 6th annual competition, entitled ATOM INDONESIA BEST PAPER AWARD 2014 (AIBPA 2014), more click here!   |   Seminar Nasional Geologi Nuklir dan Sumber Daya Tambang Tahun 2014, Jakarta 12 November 2014, info lengkap klik di sini Template download!   |   Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir IX, Jakarta 5 November 2014, info lengkap klik di sini!
INFO BATAN
Pengharapan dan Penerimaan terhadap PLTN

It is not an exaggeration to say that we have entered a new era. Some 60 countries are considering introducing nuclear energy. We expect between 10 and 25 new countries to bring their first nuclear power plants on line by 2030. Many of the countries which already have nuclear power are planning or building new reactors or extending the operational life of existing reactors. (Yukia Amano, Dirjen IAEA, Sept 2010).

Laporan Direktur Jenderal IAEA Yukio Amano pada Konferensi Umum IAEA ke 54 di Vienna akhir September 2010, menyatakan bahwa pada 21 Juli 2010 ada 61 unit PLTN yang sedang dalam tahapan konstruksi di seluruh dunia. Pada tahun 2008 telah dimulai pembangunan 10 PLTN baru, dan pada tahun 2009, 12 PLTN baru, semuanya terletak di Asia (China, India dan Korea Selatan). Laporan ini juga menyebutkan bahwa per 10 September 2010, terdapat  441 unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang beroperasi di 29 negara dan menyumbang sekitar 14% listrik dunia.
Krisis finansial global yang dimulai di AS pada 2008 tampak hanya berpengaruh secara terbatas di Eropa dan Amerika saja berupa penundaan rencana pembangunan PLTN.  Sementara di Asia krisis itu seakan tidak berpengaruh signifikan.  Uni Emirat Arab menerima penawaran konsorsium yang dipimpin perusahaan utilitas Korea (KEPCO) untuk menyuplai listrik sebesar 1400 MWe menjelang tahun 2020. Deal ini menandai kali pertama sebuah negara nuklir baru memenangkan kontrak pembangunan PLTN, dan munculnya Korea Selatan sebagai negara pengekspor PLTN. Sementara itu, Vietnam belum lama ini menandatangani kesepakatan dengan Rusia untuk menuju ke penggunaan PLTN dengan teknologi negeri beruang merah itu. Vietnam sendiri di berbagai forum sudah mengklaim akan menjadi negara Asean pertama yang menggunakan listrik nuklir.   
Harapan PLTN
Apa yang mendorong negara-negara itu menoleh ke PLTN? Kombinasi pertumbuhan penduduk dan industri ditengarai akan mengakibatkan meningkatnya konsumsi listrik dunia menjadi dua kali lipat pada tahuan 2030. Padahal di sisi lain sejumlah pembangkit yang ada harus diremajakan.  Sementara itu, meningkatnya kebutuhan akan air bersih menghendaki adanya pabrik desalinasi yang intensif-energi; kendaraan yang ramah-lingkungan akan meningkatkan permintaan listrik baseload; dan dalam jangka panjang produksi hidrogen untuk transportasi akan membutuhkan listrik dan panas industri dalam jumlah yang sangat besar. Energi nuklir yang bersih dan mampu menyuplai energi dalam skala besar dinilai paling pas untuk memenuhi keperluan itu. Sementara semakin mahal dan rentannya harga bahan bakar fosil (migas dan batubara) telah semakin meningkatkan keekonomian nuklir. 
Banyak hasil studi menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi yang paling efektif-biaya (cost-effective) di antara teknologi base-load yang ada. Selain itu, digalakkannya reduksi emisi karbon melalui berbagai bentuk insentif dan skema perdagangan karbon, pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan ekonomis nuklir.  Kelebihan uranium terhadap bahan bakar fosil adalah rasio komponen biaya bahan bakar terhadap biaya produksi yang sangat kecil, hal ini akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang, karena sebagian besar biaya itu adalah untuk biaya modal. Hal ini dapat membantu stabilitas TDL dalam pasar yang sudah dideregulasi.
Penguasaan teknologi PLTN modern yang semakin canggih, selamat dan damai telah berakibat positif terhadap daya saing bangsa. Korea Selatan membuktikan hal ini. Dalam sebuah publikasi Badan Tenaga Atom Internaional IAEA tahun 2009 diuraikan bagaimana introduksi PLTN telah memicu peningkatan pendapatan perkapita Korea Selatan dari 1600 USD pada tahun 1980 ketika PLTN baru diperkenalkan, menjadi 16000 USD pada tahun 2005. Hal itu tak terlepas dari peningkatan daya saing yang terikut dengan PLTN seperti pada industri semikonduktor, teknologi informasi dan otomotif.  Bayangkan seandainya Indonesia yang melakukan itu pada tahun yang sama, mengingat pada thun 1972 kita sudah menyiapkan pembangunan PLTN. Untuk diketahui, pendapatan perkapita RI pada 1980 adalah sekitar 500 USD, dan pada 2005 adalah sekitar 1500 USD, alias naik hanya 3 kali lipat, padahal Korea Selatan dalam rentang waktu yang sama naik 10 kali lipat.
Penerimaan Masyarakat
Berhasilnya suatu program energi nuklir tentu didukung oleh penerimaan masyarakat yang baik. Dewasa ini, lebih dari 66% masyarakat dunia meyakini bahwa negaranya harus mulai atau meningkatkan penggunaan PLTN. Hal ini dilaporkan oleh lembaga konsultasi manajemen SDM global Accenture yang melakukan survey terhadap 10.000 responden di 20 negara, tahun lalu. Sekitar 29% responden menyatakan dukungan mereka itu muncul atau meningkat dibandingkan 3 tahun lalu. Di sisi lain, 19% responden mengatakan sebaliknya. 
Dari mereka yang disurvey, 88% mengatakan penting bagi negara mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Sekitar 43% meyakini bahwa energi terbarukan saja tidak akan dapat mengisi gap  yang ditinggalkan bahan fosil, sedangkan 39% mengatakan sebaliknya. Nuklir dianggap oleh 43% responden sebagai jalan terbaik untuk menggapai masa depan rendah-karbon. Kenaikan penerimaan terhadap nuklir itu akibat kekhawatiran akan masalah ketahanan energi, kerentanan harga bahan bakar fosil (migas dan batubara), dan ancaman pemanasan global.  
Accenture menambahkan transparansi informasi adalah penting bagi masyarakat, dan pandangan mereka dapat berubah cepat dengan informasi yang diperoleh.  Secara geografis, dukungan terbanyak terhadap PLTN sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, baik secara sendiri maupun dibaurkan dengan energi terbarukan,  dijumpai di India (67%), China (62%), Amerika Serikat (57%), and Afrika Selatan (55%).   
Khusus di Amerika Serikat, lembaga survey Gallup pada bulan Maret 2010 menemukan dukungan terhadap nuklir sebesar 62%, meningkat dari 59% tahun lalu. Inilah kali pertama dukungan terhadap PLTN di AS melampaui angka 60% sejak pertamakali dilakukan survey oleh Gallup tahun 1994.
Hasil survey di luar negeri itu, sedikit-banyaknya mirip dengan hasil survey yang diperoleh  tim independen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pakar komunikasi UI Ibnu Hamad yang bertindak sebagai konsultan tim memaparkan bahwa 57,6 persen responden menerima rencana pembangunan PLTN di Indonesia dengan alasan mampu menjaga kestabilan pasokan energi. Jajak pendapat dilakukan pada pertengahan 2010 di Jawa dan Bali dengan 3.000 responden terdiri atas anggota DPRD, tokoh masyarakat, pendidik dan LSM.
Namun begitu, Ibnu memandang sosialisasi masih kurang dan pemberitaan yang berimbang mengenai PLTN masih belum terjadi. Sajian yang keliru dan simpang-siur dapat mengakibatkan persepsi yang salah mengenai nuklir.  Menurut Ibnu, hasil ini memang di luar dugaan, bahkan di daerah yang dikabarkan menolak PLTN tingkat penerimaannya cukup besar. Ia yakin seandainya sosialisasi dilakukan lebih luas maka tingkat penerimaan nuklir akan lebih baik. Dari yang disurvey itu, 24,6 persen menolak PLTN dan 17,8 persen menjawab tidak tahu.  
Kesimpulan
Meningkatnya pemahaman akan perlunya memenuhi kebutuhan energi yang besar secara berkelanjutan di negara maju dan industri baru, telah mendorong para pengambil keputusan dan tokoh masyarakat untuk lebih menerima energi nuklir.  Hal ini semakin diperkuat oleh tumbuhnya kesadaran bahwa nuklir merupakan sumber energi alternatif yang aman dan handal, dan bahwa bahaya pemanasan global akibat eksploitasi bahan bakar fosil itu nyata. 
Tingkat penerimaan nuklir di Indonesia sebagai negara yang belum memiliki PLTN sejatinya sejajar, dan bahkan kadang lebih baik, diripada masyarakat di negara lain yang sudah mengoperasikannya.  Hendaknya kita memandang pro-kontra itu sebagai suatu yang wajar yang bahkan justeru memacu semakin membaiknya tingkat keselamatan dan keekonomian PLTN. Dengan jumlah penduduk yang besar dan ekonomi yang cukup kuat sebagai anggota G-20, sudah selayaknya kita memutuskan energi nuklir sebagai cara terbaik dan logis untuk melangkah ke depan. **

Ferhat Aziz  (Biro Kerja Sama, Hukum dan Hubungan Masyarakat-BATAN)

bkhh  : 15-11-2010 14:19:51