Jumat, 02 Desember 2011 - 14:35:09 WIBJejaring profesional medis kedaruratan nuklir/radiasi di Indonesia dan InternasionalDiposting oleh : Aeni Muharromah
Kategori: Kesehatan dan Obat-obatan
- Dibaca: 232 kali
Kecelakaan radiasi
jarang terjadi namun dengan semakin meluasnya pemanfaatan sumber radiasi dalam pengobatan /
rumah sakit, penelitian, pertanian, dan industri maka potensi terjadinya
kecelakaan radiasi pun meningkat. Korban dari kecelakaan radiasi mungkin
melibatkan pekerja industri, radiografer, petugas medis, dan bahkan masyarakat.
Hal tersebut merupakan tantangan bagi personil gawat darurat medis baik di
tingkat pra rumah sakit maupun di tingkat rumah sakit, untuk menghadapi situasi
darurat secara efektif melalui kesiapsiagaan yang memadai. Oleh karena itu
tenaga kesehatan perlu dipersiapkan untuk peristiwa semacam itu.
Sejalan
dengan kondisi ini maka IAEA-ANSN Regional Workshop on Medical Emergency
Preparedness and Response diselenggarakan tanggal 17-21 Oktober 2011 di Hotel
Grand Sahid. Jakarta. Sebagai Director of workshop adalah Ir. Ferly Hermana, MM
dan IAEA representative adalah Tetsuo Yamamoto, MD, PhD dari Jepang dan
workshop ini ditujukan bagi profesional medis yang mungkin terlibat dalam
respon terhadap keadaan darurat radiasi. Hal ini merupakan kebutuhan yang
mendesak karena keterbatasan pengetahuan profesional medis dalam penanggulangan
kedaruratan radiasi dalam pendidikan formal kedokteranan.
Regional
dihadiri peserta Internasional sebanyak 16 peserta terdiri dari profesional
medis dari negara Jepang, China, Thailand, Bangladesh, Vietnam, Indonesia.
Sementara itu peserta Nasional sebanyak 30 peserta terdiri dari profesional
medis di pelayanan kesehatan primer, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, Kementrian
Kesehatan RI
Kegiatan ini
dihadiri oleh 13 peserta International dari 5 Negara yaitu China, Thailand,
Vietnam, Bangladesh dan Indonesia serta 30 peserta Nasional, profesional medis
(Dokter Spesialis, Dokter Umum, Perawat, Paramedik, Fisikawan Medis,
Radiografer) dari Pelayanan kesehatan, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, Kementrian
Kesehatan. Dengan Narasumber/ Pembicara yaitu Dr. Makoto Akashi, MD, PhD dan Dr. Marc Benderitter.
Workshop
dibuka secara resmi oleh Dr. Taswanda Taryo Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil
Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir (PHLPN) BATAN, yang dalam sambutannya
menyatakan bahwa “Kegiatan ini sangat penting, karena merupakan bagian dari kesiapan
kita dalam hal ini BATAN dan stakeholder lainnya, apalagi terjadi sesuatu yang
berkaitan dengan kecelakaan nuklir”. (Seperti dikutip oleh INFO BATAN )
Dr. Tetsuo
Yamamoto selaku perwakilan dari IAEA menyampaikan dalam sambutannya bahwa
walaupun kedaruratan radiasi sangat jarang, namun bilamana terjadi menimbulkan
dampak yang signifikan terhadap medis, lingkungan , psikososial dan ekonomi.
Dikemukaan contoh kecelakaan nuklir Chernobyl dan Fukushima, serta Kecelakaan
Radiologi Goiânia. Dr. Yamamoto menekan 3 hal tujuan dari
workshop ini yaitu Knowledge of Radiation Emergency Medicine, Lesson
learned from past accident and Networking.
Dr. Makoto
Akashi, MD, PhD, yang juga merupakan Direktur Eksekutif National Institute Radiological
Science, Jepang menyampaikan materi
dengan topik External and Internal Radioactive Contamination, Medical
Management On-site and at Pre-hospital Levels, Hospital Management of Persons
Accidental Exposed and contaminated. Dr. Marc Benderitter menyampaikan Basic of Biological effects of Ionizing
Radiation, Acute Radiation Syndrome, Cytogenetic Dose Assessments, The
Cutaneous Radiation Syndrome.
Terdapat
“skill station” bagaimana mengenakan dan melepaskan PPE kit serta bagaimana
cara melakukan dekontaminasi luka yang terkontaminasi zat radioaktif yang
disampaikan oleh Dr. Yamamoto PhD. Selain
itu juga
disampaikan pengalaman
dan “lesson learned” dari beberapa kecelakaan radiasi/nuklir seperti Kecelakaan di Goiania, Peru &
Chile Accident, Kecelakaan kritikalitas Tokaimura, serta Kecelakaan PLTN
Fukushima disamping juga disampaikan status kesiapsiagaan medis dalam kedaruratan
nuklir/radiasi dari masing masing negara.
