SEMINAR PERKEMBANGAN TEKNOLOGI SORGUM
DARI RISET SAMPAI INDUSTRI, PATIR-BATAN, 2011
         
 

SEMINAR PERKEMBANGAN TEKNOLOGI SORGUM
DARI RISET SAMPAI INDUSTRI
Jakarta, 2 Maret 2011

 

 
Bekerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (RISTEK), Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) - BATAN menyelenggarakan seminar nasional bertema “Sorghum Technology Development from Research to Industry” pada tanggal 2 Maret 2011. Seminar dihadiri oleh sekitar 100 tamu undangan yang terdiri dari berbagai kalangan termasuk para birokrat, peneliti, akademisi, mahasiwa dan pengusaha.
     

Seminar dibuka oleh Kepala BATAN, Dr. Hudi Hastowo, dilanjutkan dengan presentasi fokus pada perkembangan riset dan teknologi sorgum oleh para pakar sorgum. Pembicara tamu pada seminar tersebut adalah Mr. Tesfaye T. Tesso, Ph.D dari Norman Borlaug International Agriculture Science and Technology Fellowship Program, the USA. Beliau adalah pakar sorgum dari Amerika Serikat yang memberikan presentasi berjudul “Sorghum technology development from research to industry in the USA”.

Ketua panitia seminar, Prof. Dr. Soeranto Human dari PATIR-BATAN menjelaskan bahwa yang melatarbelakangi diadakan seminar adalah keprihatinan bersama tentang adanya kemungkinan terjadi krisis pangan dan energi di Indonesia. Seperti telah diketahui umum bahwa kebutuhan akan beras sebagai bahan pangan utama penduduk Indonesia cenderung terus meningkat seiring dengan laju pertambahan jumlah penduduk. Pada tahun 2025 penduduk Indonesia diprediksi mencapai lebih kurang 300 juta jiwa, dan diperkirakan akan membutuhkan beras setara dengan 65,9 juta ton gabah kering giling. Produksi padi nasional pada tahun 2007 mencapai 55,13 juta ton dan perlu terus ditingkatkan  guna mencukupi kebutuhan beras di masa mendatang.

Peningkatan produksi beras nasional sangat tergantung pada padi sawah, sementara luas lahan sawah cenderung terus menyusut akibat alih fungsi penggunaan untuk usaha non-pertanian. Kondisi semacam itu akan mempersulit Indonesia untuk dapat memenuhi kebutuhan beras secara mandiri jika hanya mengandalkan pada produksi padi lahan sawah. Sebagai antisipasi maka alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan produktivitas tanaman penghasil karbohidrat sebagai sumber pangan utama di lahan kering.

Selain pangan, Indonesia juga sudah menghadapi krisis energi, yaitu ditandai dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi yang dimiliki. Puncak produksi minyak bumi Indonesia telah terjadi pada tahun 1977 yaitu pada kapasitas produksi 1,69 juta barrel/hari. Setelah itu, produksi minyak tidak pernah mencapai angka tersebut, bahkan cenderung terus menurun, sementara konsumsi terus meningkat. Pada tahun 2007 misalnya, total produksi minyak bumi Indonesia 347,4 juta barrel dan kebutuhan konsumsi 459,4 juta barrel sehingga impor BBM mencapai 112,0 juta barrel.

Solusi untuk memecahkan krisis energi mungkin dapat ditempuh dengan cara mencari sumber energi alternatif yang dapat terbarukan. Sumber energi alternatif bisa jadi berasal dari tanaman yang dapat dikonversi menjadi biofuel. Salah satu jenis biofuel adalah bioetanol yang dapat diproduksi dari tanaman penghasil karbohidrat atau gula melalui suatu proses fermentasi sederhana.

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk memproduksi karbohidrat atau gula dari tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk sumber bahan pangan maupun energi. Keanekaragaman jenis tanaman yang potensial sebagai sumber pangan dan energi tumbuh subur dan tersebar luas di Indonesia, yaitu berupa tanaman bebijian (serealia) seperti padi, jagung, sorgum dan gandum; tanaman umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, kentang dan garut; serta tanaman penghasil nira seperti tebu, sorgum manis, kelapa, dan aren.
Dari sekian banyak jenis tanaman, sorgum memiliki potensi dan nilai sangat tinggi untuk sumber pangan maupun energi. Melalui program pemuliaan sorgum dengan iptek nuklir yang dilakukan oleh BATAN, diharapkan produksi dan kualitas sorgum meningkat dan dapat diandalkan untuk mendukung ketahanan pangan dan energi di Indonesia.


Seminar sorgum bertujuan untuk lebih menstimulasi penelitian dan pengembangan sorgum di Indonesia. Melalui seminar ini, diharapkan Indonesia dapat menimba ilmu dari pakar sorgum dari Amerika Serikat khususnya dalam bidang riset dan teknologi sorgum. Selain itu, diharapkan pula terjadinya interkasi sinergis antara periset sorgum dengan mitra industri berbasis sorgum di Indonesia. Selanjutnya, pengembangan dan komersialisasi produk-produk sorgum akan mendorong peningkatan produktifitas lahan kering (lahan non-produktif), membuka lapangan kerja, diversifikasi pangan dan energi, dan mendukung pembanguan pertanian berkelanjutan sehingga akan berdampak sangat positif bagi prekonomian Indonesia.

 
Tanaman sorgum yang diseminarkan.   Para pembicara pada seminar sorgum.
     
 
Sorgum untuk pangan.   Sorgum untuk pakan ternak.


 
menu utama | denah lokasi | e-mail BATAN