PEMULIAAN TANAMAN PADI DI PATIR
   
     
     
 
Upaya peningkatan produksi padi dapat dilakukan melalui perbaikan varietas dengan teknik pemuliaan mutasi atau perakitan varitas unggul yang telah ada melalui persilangan dan bioteknologi. Kegiatan penelitian tanaman padi sawah dengan teknik mutasi telah banyak dilakukan, institusi BATAN sendiri telah berhasil menciptakan varietas baru melalui pemuliaan dengan teknik mutasi ini. Contoh keberhasilan tersebut adalah dilepaskannya beberapa varietas padi diantaranya adalah; Atomita 1, Atomita 2, Atomita 3, Atomita 4, Situgintung, Cilosari, Woyla, Meraoke, Kahayan, Winongo, Diah Suci, Yuwono dan Mayang. Beberapa varietas unggul tersebut telah dimanfaatkan dalam program persilangan padi. Pada penelitian padi sawahuntuk mendapatkan galur-galur mutan yang homogen perlu dilakukan seleksi serta pemurnian, dan untuk mendapatkan informasi mengenai sifat agronomi galur mutan daya hasil, galur-galur tersebut perlu ditanam lagi sebagai tanaman obsevasi dan uji daya hasil.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 2006 dengan bahan penelitian galur F2 dari persilangan Diah Suci/Ar-10k, galur mutan M6 Gilirang dan galur mutan M8 Cimelati. Pemuliaan dengan teknik mutasi ini dapat diterapkan juga untuk meningkatkan potensi  unggulan daerah dibidang pertanian terutama dalam perbaikan varietas padi lokal. Hal ini senada dengan Undang-undang No. 22 dan 25 Tahun 1999 mengenai otonomi daerah yang telah mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2001. Ini berarti bahwa setiap daerah di Indonesia, dalam pengertian daerah terkecil adalah Kabupaten, harus mampu mandiri. Oleh sebab itu setiap potensi unggulan daerah perlu dikembangkan agar dapat memberikan sumbangan terhadap pendapatan asli daerah yang nyata dan besar.

Didasari dari keberhasilan BATAN dalam melepaskan varietas-varietas padi baru, telah mendorong Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan untuk memperbaiki varietas padi lokal mereka yaitu Siam Datu, yang memiliki sifat yaitu berumur dalam, tanaman tinggi dan produksi  rendah. Tinggi dan umur varietas padi sangat mungkin diubah dengan teknik mutasi. Berdasarkan laporan Maluszynski dkk (1995), dari 322 varietas padi mutan yang dilepas secara resmi, 128 varietas dilepas karena batangnya menjadi lebih pendek (semi dwarfness), dabn 111 varietas karena umurnya menjadi lebih genjah. Oleh karena itu, permintaan dari Pemda Kalimantan Selatan tersebut sangat mungkin diwujudkan oleh BATAN. Kegiatan Uspen ini telah dimulai pada tahun 2005. Benih padi dari Kalimantan Selatan diiradiasi pada dosis 0,2 dan 0,3 kGy dan ditanam di Kebun  Percobaan Pasar Jum’at.

Dalam perakitan varietas unggul nasional ada beberapa pendekatan yang lazim digunakan, diantaranya pendekatan secara inbred lines, mutasi buatan, bioteknologi dan hibrida. Perakitan varietas secara inbred lines dan secara mutasi buatan sudah banyak menghasilkan varietas unggul dan telah ditanam di hampir semua areal pertanaman padi di dunia, secara bioteknologi yang dikenal dengan varietas trans-genic belum begitu lazim sedangkan varietas unggul hibrida lebih populer di daratan China dengan luas pertanaman pada tahun 1995 lebih dari 18 juta hektar atau sekitar 58 % dari areal pertanaman padinya. Pada penelitian ini dilakukan perakitan varietas melalui tiga pendekatan sekaligus, yaitu pendekatan secara inbred lines, mutasi buatan dan hibrida. Ketiga pendekatan ini dilakukan secara simultan dan saling mendukung.

Selain peningkatan produksi padi, juga ditujukan untuk perbaikan kualitas seperti peningkatan kandungan Fe, Zn dan menurunkan kandungan phytic acid yang merupakan anti  nutrisi bagi tubuh. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, penurunan phytic acid ini baru bisa dengan menggunakan pemuliaan dengan teknik mutasi. Rendahnya kandungan phytic Acid dalam biji padi, akan menyebabkan peningkatan penyerapan unsur-unsur essensial yang dibutuhkan tubuh seperti Fe, Zn, dan vitamin-vitamin.

 
Tanaman padi bersegregasi   Percobaan tanaman padi di lapangan



   
menu utama | denah lokasi | e-mail BATAN