Peristiwa

Imlek Di Kota Amoy Singkawang

IMLEK

Di Kota Amoy Singkawang

S ejarah penyebaran suku bangsa etnis keturunan Cina di Indonesia hampir ada di kota-kota besar dan kota-kota kecil di Indonesia, namun kedatangan suku bangsa Cina dizamannya sangat berbeda-beda pada setiap kota/daerah, harus kita akui bahwa budaya dan ilmu pengetahuan etnis Cina lebih tua dibandingkan bangsa kita pada umumnya. Ditilik dari umur kalender Cina (Tahun Imlek) saat ini sudah berumur 2557, sedang tahun Masehi 2006, tahun Hijriah (Tahun Islam) 1427.H dan tahun Jawa 1939, dapat kita lihat juga dari pengetahuan pengobatan tradisional Cina (Shinse) yang sudah terkenal. Namun di negeri Cina sendiri pada waktu itu banyak permasalahan kependudukan yang padat, hinga mendorong sebagian mereka berkelana mencari penghidupan dengan merantau keseluruh penjuru di dunia termasuk di Indonesia .

Dalam perekembangannya mereka terus meyebar ke seluruh pelosok dan kota-kota besar di seluruh negeri ini. Di daerah-daerah tersebut mereka berbaur dengan penduduk pribumi. Di tempat itulah mereka ada yang berdagang, bertani, berternak, bahkan ada juga yang menjadi buruh pada perusahaan perusahaan yang ada, atau pekerja pada tambang-tambang galian. Seperti di Medan disana mereka banyak yang menjadi pedagang, dan petani perkebunan. Di Palembang lebih banyak sebagai pedagang, Bahkan di Bangka Belitung mereka kebanyakan datang dibawa oleh Belanda yang pada waktu itu berkuasa/menjajah Indonesia untuk dipekerjakan sebagai pekerja pertambangan Timah. Sedangkan kaum wanitanya berprofesi sebagai pedagang yang tekun dan ulet. Sejak saat mereka terus menetap dan membaur dengan penduduk pribumi. Selain daerah-daerah tersebut, sebagian mereka lagi berusaha dan menetap menjadi penduduk di daerah-daerah lain, dan salah satunya ada di Singkawang.

Kedatangan etnis Cina, di Singkawang semula untuk berdagang, namun seiring perkembangan jaman kini diantara mereka ada yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), pedagang, petani, nelayan, tukang dlsb. Mereka pun telah banyak berbaur dalam perkawinan dengan suku asli. Agama yang mereka anut ada yang Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Sedangkan bahasa sehari-hari yang dipakai adalah Bahasa Kek.

Kota Singkawang masih termasuk wilayah Pontinak Kalimantan Barat. K ota kecil ini termasuk kota yang cukup sibuk dan ramai. Untuk menuju ke kota Singkawang perjalanan ditempuh kurang lebih tiga jam dari kota Pontianak melalui jalan darat. Jika ingin ke sana anda harus berhitung karena jarang kendaraan umum, jadi haruslah menggunakan kendaraan carteran yang biayanya cukup tinggi, rata-rata tiga ratus ribu rupiah per orang. Di kota Singkawang banyak peninggalan kota lama zaman Belanda seperti Bangunan Gedung pemerintah, pasar, pertokoan termasuk Klenteng-klenteng bertebaran diseluruh peloosok kota tidak salah kalau orang menyebutnya Singkawang kota Seribu Klenteng.

Penduduk Singkawang memang multi etnis. Dari keturunan Cina sangat terkenal banyak Amoy-amoy yang berparas cantik, berkulit putih, mata agak sipit. Kecantikan mereka mengingatkan kita pada kisah-kisah kuno dari putri-putri Istana kerajaan Cina. Mereka berdampingan dengan damai satu dengan yang lain. Mungkin oleh sebab itu pula orang menyebutnya Singkawang kota Amoy .

Letak Kota Amoy yang dipinggir pantai dekat kathulistiwa ini, jarang turun hujan. Jangan kaget kalau disana suhu udaranya cukup panas, dan di rumah-rumah penduduk disana selalu tersedia gentong-gentong besar yang terbuat dari batu untuk menampung air hujan dan digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Seperti juga di tempat-tempat lainnya, etnis Cina di Singkawang selalu melakukan acara-cara tradisi yang diturunkan dari para leluhurnya. Salah satu tradisi yang dirayakan setiap tahunnya adalah, tradisi perayaan tahun baru Imlek yang dirayakan mulai hari pertama tahun Imlek sampai dengan hari ke lima belas (tanggal 1 s/d 15) diakhiri dengan Cap Go Meh (hari ke lima belas). Pada hari pertama seluruh penduduk saling berkunjung kesanak famili silaturahim baik yang beragama Hindu, Buda, Kristen, Protestan dan Islam dengan mengucapkan GONG CI FA CAY dan budaya membagi Ang Pao bagi keluarga-keluarga yang mampu dan peduli. Acara yang satu ini sangat disenangi dan dinantikan oleh anak-anak.