|
Setiap manajer harus dapat membimbing bawahannya, agar bawahan
menjadi lebih memiliki motivasi kerja, terampil dan mampu
melaksanakan tugas dengan baik. Manajer harus dapat menjadi
seorang pembina atau instruktur yang baik. Oleh karena itu
prinsip-prinsip pembinaan bawahan wajib diketahui, misalnya
manajer ingin memberikan tugas kepada seorang atau lebih bawahan,
maka manajer harus mampu membimbing dan mengajari mereka tentang
langkah-langkah kerja yang harus dilakukan serta hal-hal pokok
yang perlu mendapat perhatian khusus pada produk atau pekerjaan
yang akan dikerjakan. (Jika Anda ingin mendapatkan slide
powerpoint presentasi bagus tentang management skills dan
leadership, silakan
klik
DISINI).
Demikian juga bila melihat seorang bawahan yang termenung —
kurang gairah kerja atau seorang bawahan yang bersikap acuh tak
acuh terhadap manajer dan pekerjaannya, maka manajer wajib;
menumbuhkan semangat dan gairah kerjanya kembali. Pekerjaan ini
disebut “memotivasi bawahan”.
KARAKTERISTIK PEKERJA
Kecakapan dan pengetahuan yang dibawa oleh pekerja ke perusahaan,
sering tidak menjamin bahwa ia akan bekerja dengan baik, efektif
dan produktip. Mungkin manajer masih perlu memberikan bimbingan
atau dorongan kerja yang lebih banyak lagi, agar timbul
kesediaannya untuk melayani pekerjaan dengan tekun, rajin dan
gairah tidak bermalas-masalan, dan membuang-buang waktu dengan
percuma.
Setiap pekerja mempunyai sifat, sikap dan tingkah laku yang
berbeda-beda dan ini dipertemukan dalam organisasi perusahaan,
dalam suasana kerja sama. Itu harus dipadu dan dijadikan suatu
kekuatan kerja yang ampuh dan tangguh, berjalan searah, seirama
menuju tercapainya tujuan kelompok kerja. Mereka berbeda-beda
pemikiran dan pendapat. Tidak ada manusia yang sama, itulah
landasannya. Bila di kelompok anda ada karyawan 30 orang, maka
ada 30 pendapat Jan pemikiran yang harus dipadukan menjadi satu.
Harus dapat ditemukan persamaan mereka. Sudahkah anda temukan
itu? Jika belum, kami ingin menunjukannya.
Manajer telah merasakan berbuat baik dan ramah terhadap
bawahan, tetapi mereka masih malas bekerja. Salah satu sebabnya,
karena belum menemukan obatnya itu tadi. Namun demikian, obat
tidak semuanya menjamin kesembuhan, bilamana perawatannya tidak
diperhatikan. Oleh karena itu, setelah diberikan obat rawatlah
ia dengan baik, maka ia akan segera sembuh. (Jika Anda ingin
mendapatkan slide powerpoint presentasi bagus tentang management
skills dan leadership, silakan
klik
DISINI).
HARAPAN PEKERJA
Telah disebutkan bahwa setiap orang berbeda pemikiran, sikap dan
tingkah laku, daya kerja dan keterampilannya. Tetapi di balik
semua itu, ada satu persamaan di antara mereka bila dilihat dari
segi “harapannya”. Harapan ini tidaklah berbeda di antara mereka,
termasuk kita sebagai manajer. Kita ingin merasakannya, orang
lainpun demikian juga. Harapan itu berkisar pada
kebutuhan-kebutuhan pokok, keamanan dan kesehatan, penghargaan,
saling mencintai dan keberhasilan atau sukses.
Kebutuhan-kebutuhan, kira-nya sudah menjadi kodrat manusiawi.
Dengan berpedoman kepada kebutuhan itu, dapat memberikan
dorongan-dorongan (motivasi) kepada bawahan, sehingga timbul
kesadaran dan keinginan kerja yang lebih efektip dan produktip.
KEINGINAN PEKERJA
Sedangkan keinginan pekerja, berdasarkan motivasi. Motivasi
adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang pimpinan untuk
mempengaruhi sifat, tingkah laku dan keinginan dari para bawahan
agar timbul suatu kesediaan kerja dalam dirinya. Secara
bersama-sama melakukan kegiatan usaha untuk mencapai tujuan
kelompok serta setiap pekerja merasa senang dan puas dalam
melaksanakan tugas. Motivasi tidak bisa terlepas dari inisiatip
dan kemampuan kerja.
Dilihat dari sifat pekerja terhadap pekerjaan, menurut Me
Gregor ada dua, terkenal dengan teori X dan X - nya. Teori ini
menyatakan sebagai berikut.
Teori X:
memandang, bahwa manusia itu pada dasarnya insan yang malas dan
tidak bisa dipercaya, sehingga diperlukan organisasi dan
kepemimpinan berdasarkan kuasa yang dipaksakan.
Teori Y:
memandang, bahwa manusia itu dapat mengendalikan diri sendiri
dan adalah kreatif dalam pekerjaannya, asal saja dia dimotivasi
dengan tepat.
Sekarang orang berpendapat, bahwa manusia secara psikologis
mampu untuk turut dalam kegiatan kerja sama dan dalam kondisi
tertentu bisa memotivasi dan mengendalikan diri sendiri.
Persoalannya, Tergantung kepada pimpinan dalam menciptakan
suasana yang sesuai dengan situasi setiap orang pekerja.
Sedangkan keinginan pekerja, berdasarkan penyelidikan,
menunjukan bahwa pekerja itu mempunyai keinginan-keinginan pokok
tertentu. Keinginan-keinginan inilah yang mendorong mereka untuk
mau bekerja sama dan sebagai cambuk atau alasan baginya untuk
melaksanakan pekerjaan dengan tekun dan baik. Setiap orang
berbeda keinginan dalam tingkatannya, walaupun begitu, keinginan
tersebut meliputi:
• Penghargaan
Mereka ingin dihargai oleh keluarga, teman-teman sekerja dan
atasannya. Ingin bahwa apa yang dikerjakan mendapat penghargaan
dari atasannya. la merasa pantas untuk menerima penghargaan
atas-hasil yang ditunjukkannya, apalagi ia merasakan bahwa hasil
kerjanya itu baik. la ingin diberikan kesempatan untuk
menyatakan pendapatnya dan mendapat sambutan dari atasan. la
ingin mendapat penghasilan atas jerih payah yang dicurahkannya
secara wajar.
• Kesempatan
Ingin ada kesempatan-kesempatan lain, disamping kemajuan yang
dicapainya di dalam kelompok ingin memperbaiki posisi atau
kedudukannya menjadi lebih baik. la ingin diberikan kesempatan
untuk:
- Melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
- Berkembang lebih lanjut dalam pekerjaan dan jabatan.
- Menggunakan kecakapan dengan sebaik-baiknya.
• Jaminan
Pada umumnya pekerja ingin mendapatkan suatu jaminan dari
perusahaan tentang dirinya dan keluarganya, baik mengenai
kesehatan, keselamatan, uang, kepercayaan dan jaminan tentang
masa depannya.
• Pengakuan
Mereka ingin diterima dengan baik oleh atasan dan teman-teman
sekerja. Mereka ingin dapat bergabung atau berkumpul secara
bersama-sama. Ingin mendapatkan perhatian dan kedudukan atau
posisi yang pasti.
Memang, setiap pekerja akan dapat mempertimbangkan,
memperkirakan dan menilai hasil kerja serta dapat menghitung
berapa sepatutnya ia dibayar. Dengan hasil kerja yang
ditunjukannya, ia mengharapkan dari atasannya dan dari
perusahaan tempat ia bekerja. Bilamana semua ini tidak ia
peroleh, boleh jadi ia menjadi malas bekerja, tidak mau
berinisiatip dan bersikap acuh tak acuh.
Dari contoh tersebut, semakin jelaslah bahwa pekerja bawahan
dapat bekerja dengan efektip dan produktip tidak semata-mata
karena pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki saja.
Lebih dari pada itu, kepandaian setiap orang pimpinan untuk
memotivasi bawahan, juga sangat menentukan tingkat efektivitas
dan produktivitas kerja bawahan.
Untuk ini, pimpinan harus banyak menguasai pengetahuan
tentang kemanusiaan. Motivasi merupakan pendekatan secara
psikologis. Dengan pendekatan tersebut, pekerja dipengaruhi,
diarahkan, diberi pengharapan, penghargaan dan lain sebagainya,
sehingga bawahan menjadi sadar akan tugas, kewajiban dan
tanggung jawabnya sebagai pekerja pelaksana.
Telah disebutkan, tidak ada individu (orang) yang sama. Ini
menunjukkan bahwa tiap bawahan berbeda satu sama lainnya. Mereka
mempunyai ide yang berlainan. Saudara tidak dapat membedakan
antara yang satu dengan yang lain. Mungkin semuanya kurang baik
menurut pandangan kita atau mungkin juga sebagian saja yang baik.
Kemudian, terhadap yang baik menurut pandangan kita tersebut,
diberikan suatu penghasilan tambahan, yang lainnya tidak.
De¬ngan cara demikian kita beranggapan, bawahan akan bertambah
giat bekerja. Secara perorangan itu betul, tetapi sebagai
pimpinan juga bertugas untuk memelihara iklim kerja yang
harmonis, kompak dan secara bersama-sama giat melaksanakan
pekerjaan.
Bayangkan kini, satu di antara tiap-tiap 10 orang bawahan
dipilih sebagai orang yang terajin, mempunyai disiplin kerja
yang loyal terhadap saudara. Kepadanya diberikan, tunjangan
pendapatan tambahan. Saudara berpikir dengan cara itu 9 orang
lainnya akan berbuat lebih baik dan mengikuti perbuatan orang
yang diberi pendapatan tambah¬an tersebut. Tidak jarang pula
saudara menjadi pengeluh atas hasilnya, sebab ternyata 9 orang
lainnya tidak melakukan seperti apa yang diharapkan, justru
mereka bertambah malas bekerja. (Jika Anda ingin mendapatkan
slide powerpoint presentasi bagus tentang management skills dan
leadership, silakan
klik
DISINI).
PENTINGNYA MENGENALI BAWAHAN
Berarti dengan cara yang ditempuh itu, satu orang bertambah
tinggi prestasi kerjanya, tetapi 9 orang bertambah malas.
Efektipkah tindakan itu? Berhasilkah cara yang ditempuh itu?
Semua orang akan mengatakan tidak. Oleh karena itu, akan lebih
tepat bilamana kita segera dan lebih sering memberikan
penghargaan dengan moril kepada setiap orang yang berprestasi
dalam menjalankan tugasnya. “Saya senang sekali atas hasil kerja
saudara!” Suatu kata-kata yang mudah diucapkan dan tidak perlu
menambah biaya, tetapi hasilnya akan efektip.
Bawahan merasa puas, ia merasa bahwa atasannya menghargai
prestasi atau hasil kerjanya. Anda telah meninggalkan suatu
kesan yang amat berharga pada dirinya, Anda telah membuat ia
bahagia dan ini akan dikenangnya seumur hidupnya. la akan
mencatat dalam sejarah hidupnya, bahwa ia pernah mendapat
penghargaan dari seorang atasannya. Penghargaan dari seorang
atasan kepada bawahan dirasakan tinggi nilainya.
KESIMPULAN
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu
kesimpulan, bahwa setiap orang ingin dipenuhi kebutuhan pokoknya.
Setiap orang ingin selamat dan bahagia dalam menjalankan
tugasnya. Setiap orang ingin bergaul, ingin dicintai dan ingin
sukses.
Hal yang logis, bilamana bawahan menjadi malas bekerja,
dikarenakan hasil yang diperoleh tidak mencukupi, paling tidak
kebutuhan pokoknya. Tidak juga aneh, bilamana bawahan merasa
enggan bekerja, sebab tidak ada jaminan keselamatan dan
kesehatan yang diberikan terhadap dirinya. Bawahan menjadi malas
dan bersikap acuh tak acuh, karena perlakuan yang kurang wajar
dari atasannya. la menjadi tidak berinisiatip dan lesu, karena
tidak pernah ada penghargaan yang diberikan kepadanya. (Jika
Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi bagus tentang
management skills dan leadership, silakan
klik
DISINI).
Sumber:
Andrea Ginting Munthe. Majalah Manajer. Edisi Januari 1986
|