Selamat datang di Situs Resmi Korps Pegawai Republik Indonesia Sub Unit Nasional Badan Tenaga Nuklir Serpong









 

 

 

  RENUNGAN JUM'AT

 

SUDAHKAN KITA EFISIEN?
Djoharly Chaniago
(
Karyawan PTLR- BATAN Serpong).

           Kata “efisien” sering kita dengar dalam ucapan keseharian banyak orang saat ini, setidak-tidaknya pada kalangan berpendidikan, lingkungan perkantoran atau yang berdomisili di perkotaan pada umumnya.  Karena frekuensi pengucapannya yang cukup tinggi di kalangan elit tersebut, sehingga lambat laun kata “efisien” terasa semakin familiar di telinga kita dan akrab dalam kegiatan keseharian.

           Persoalan mendasarnya adalah bukan pada sekedar paham atau mengerti makna ungkapan kata tersebut, tetapi adalah bagaimana kita dengan sadar, terpanggil dan bertanggungjawab dalam mengaplikasikan makna kata tersebut dalam kehidupan keseharian, terutama ketika kita sebagai bangsa apalagi sebagai umat Islam yang hingga saat ini masih bergelut dengan berbagai krisis. Harga BBM yang relatif tinggi untuk ukuran kemampuan bangsa Indonesia akan mengundang konsekuensi lain secara beruntun, bukan saja dalam bidang ekonomi, tetapi juga pada aspek politik, sosial, keamanan dan budaya.  Bentuk nyatanya adalah kriminalitas dan kesemrawutan dari segala sisi kehidupan.

          Menurut Prof. Yus Badudu dan Moh. Zain dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996), efisien” bermakna berdaya guna, memberikan hasil yang baik dalam bekerja dengan tidak menghambur-hamburkan uang, waktu, tenaga dan sebagainya.

Sebaliknya efisien dalam bahasa ekonomi bermakna bahwa dalam suatu proses produksi, ketika input (masukan)  dikurangi, maka output (keluaran) nya akan tetap saja. Misalnya dalam contoh yang sederhana kalau biasanya seorang pengusaha garment (pakaian) bila memiliki 1 bal pahan pakaian (input) bisa menghasilkan 100 potong celana panjang (output). Bila sang pengusaha melakukan tindakan efisiensi, maka  dengan 0,9 bal bahan pakaian bisa tetap menghasilkan 100 potong celana panjang. Pertanyaannya lho kok bisa? . Karena sang pengusaha menjawabnya dengan perilaku efisien. Tentu disini bermain banyak aspek:  perilaku hemat, kreatif, keterampilan,  kesadaran, kemampuan, tidak gengsi  dan sudah pasti yang lebih penting adalah kemauan.

Seorang ibu rumah tangga  memiliki perilaku efisien kalau bisa menghemat uang untuk membeli susu bayinya dengan mengkompensasinya dengan panganan lain yang lebih murah namun bergizi, sehingga kesehatan sang anak masih bisa dipertahankan. Yang penting outputnya adalah anak tetap sehat dan cerdas kendatipun rupiah yang dikeluarkan lebih hemat.

Seorang ayah berperilaku sangat efisien sekaligus amat bertanggung jawab kepada anak-anaknya  dalam membekali masa depan mereka manakala bisa menahan diri dari godaan rokok. Bayangkan saja seseorang yang mengisap rokok satu bungkus sehari katakanlah harga per bungkus Rp. 7.000,-, maka satu bulan bulan sang ayah akan merogoh koceknya sebesar Rp. 210.000,-  . Na’udzubillahi min dzalika!. Rasanya dengan jumlah itu sangat berarti dalam menanggulangi biaya pendidikan anak-anak mereka. Belum lagi bisa menghindarkan diri dari kerugian bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan hidup.

 

Perilaku boros

Perhatian Islam terhadap perilaku efisien sangat ditekankan oleh Allah SWT  dalam Surat Al-Isra’ ayat 27 : “ Sesunguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara Syaithan dan Syaithan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”

Tidak usah jauh-jauh, perilaku boros kerap sekali kita jumpai di banyak tempat, termasuk di arena pesta, di kantor, di pasar, di restoran, di kampus, di sekolah bahkan di rumah kita sendiripun. Dalam sebuah resepsi pernikahan, kita bisa menyaksikan seseorang mengambil porsi makannya dalam takaran lebih. Sebelum dia melahap habis makanannya (masih bersisa banyak) dia telah beralih ke makanan lainnya. Belum habis juga makanan yang dia ambil, ia sudah mengambil piring baru untuk mencicipi yang lain lagi. Begitu seterusnya. Kalau kita tidak menyadari bahwa kita harus tetap efisien di tengah godaan makanan yang beraneka ragam, tidak mustahil bisa terjerumus untuk berperilaku seperti demikian.

            Mestinya sebagai kaum muslim kita bijak bertindak. Kalau ingin mencicipi variasi makanan yang dihidangkan, mestinya ambil saja sesuai dengan kemampuan kita untuk menikmatinya, tidak berlebihan. Mestinya kita tidak mengambil hak (jatah) undangan lain melalui perilaku boros yang kita lakukan. Bukan itu saja kelebihan porsi yang dipaksakan masuk ke dalam perut akan berdampak tidak baik terhadap pencernaan dan kesehatan pada umumnya.

            Kalau hanya untuk membuat suatu konsep (draft) suatu surat atau proposal bagi kepentingan dinas di kantor tidak perlu menggunakan kertas kop atau kertas baru. Sikap efisien bisa dilakukan dengan memanfaatkan kertas-kertas bekas pakai, namun masih terdapat sisi yang kosong. Kadang-kadang kita berpikir : tidak apa-apalah toh hanya beberapa lembar saja.

            Tidak jarang pula kita temukan sisa rokok yang masih panjang di atas asbak  rokok di kampus-kampus, di arena pesta, di restoran dan sebagainya. Bukankah rokok itu mereka beli dengan uang yang harganya juga tidak murah? Secara pribadipun penulis sering mengingatkan anggota keluarga di rumah agar tidak merendam sisa nasi yang terlalu banyak di dalam wadah pemasak nasi (panci). Bukankah gumpalan-gumpalan nasi yang kita makan itu adalah hasil ikhtiar para petani dengan cucuran keringat ketika menyemaikan bibit padi butir demi butir di areal persawahan. Sementara kita untuk menghargai jasanya saja tidak peduli?.

            Bahkan yang sangat memprihatinkan saat ini adalah perilaku sebagian orang yang  membuang “pecahan uang kecil” di jalanan. Terlepas dari uang pecahan tersebut sudah sulit dibelanjakan karena terhimpit oleh harga barang yang semakin melambung . Perilaku membuang –buang uang adalah sikap yang tak terpuji dan tak bersyukur karena tidak menghargai sesuatu yang “berharga” dari yang kita miliki.  Allah SWT mengancam orang yang tidak bersyukur ( Surat Ibrahim ayat 7) ;” Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Citra umat Islam harus kita bangun (bangkitkan) dengan membuang jauh-jauh perilaku demikian termasuk yang sejenis dengan itu. Tujuannya tidak lain agar rahmat Allah tetap mengalir ketika  kebuntuan-kebuntuan hidup senantiasa menghadang kita. Kesadaran ini harus kita tularkan kepada generasi muda, dimulai dari rumah masing-masing.

Gerakan hemat

Bagi kaum muslim yang sadar akan fungsinya di dunia ini sebagai khalifah Allah, berperilaku efisien atau hemat  seharusnya sudah menjadi budaya kesehariannya. Mengapa? Karena Islam datang dengan kedamaian. Damai terhadap alam dan segala mahluk (organisme) yang hidup di dalamnya: manusia, hewan dan tumbuhan. Walaupun penilaian dalam kaca mata manusia ada mahluk yang merugikan atau membahayakan bagi mereka. Tetapi orang yang sadar akan keagungan Sang Maha Pencipta pasti berucap: “ Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

(Surat Ali Imran : 191). Dengan adanya nyamuk, sudah berapa orang ilmuwan yang tampil untuk meneliti nyamuk. Sudah tidak terhitung pula dokter yang pakar dalam pengobatan pasien pengidap malaria. Berapa orang pula telah menggantungkan hidup melalui pabrik obat nyamuk di seluruh dunia. Berapa orang pula ahli sanitasi lingkungan yang telah menerbitkan makalah mereka. Menghantarkan mereka menjadi Profesor, Doktor, APU dan sebagainya. Mereka bisa bepergian ke berbagai tempat di dunia untuk meneliti atau untuk melakukan seminar ilmiah tentang nyamuk. Maa khalaqta hadza baathilan (tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia). Tak terbantahkan Firman-Mu ya Allah.

            Karena semua itu adalah ni’mat Allah SWT untuk manusia itu sendiri. Allah SWT  juga menekankan dalam Al-Qur’an (Surat Ibrahim :32) : “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan hujan dari langit , kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai  buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan  Dia  telah  menundukkan bahtera  bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan    kehendak-Nya, dan    Dia    telah  menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”.

           Tetapi dengan perilaku manusia : keserakahan, kebodohan, ketidakpedulian, kemalasan, perilaku merusak alam, kurang atau tidak bertanggung jawab terhadap generasi yang akan lahir kemudian,  maka bentangan alam ini serta segala yang ada di atasnya menjadi rusak. Semua menjadi berkurang. Bukan saja berkurang secara kuantitas tetapi juga kualitas. Kendatipun 6 milyar lebih penduduk bumi atau 220 juta jiwa rakyat Indonesia tetap membutuhkan alam dengan segala kandungan yang dimilikinya.

            Tentu saja gerakan hemat dapat dilakukan dalam skala besar, misalnya instruksi Pemerintah untuk menghemat penggunaan listrik hingga 20% bagi instansi Pemerintah. Namun demikian gerakan hemat tersebut tidak akan berhasil kalau tidak disikapi dengan bijak dan penuh kesadaran oleh seluruh karyawan atau pekerja dalam tindakan nyata. Misalnya mematikan lampu yang tidak perlu. Cermat penggunaan air, menghemat bahan bakar dsb. Yang lebih penting lagi adalah ketauladanan oleh para pemimpin di suatu instansi. Termasuk tidak mengizinkan pengusaha-pengusaha properti yang merusak alam demi meraup keuntungan besar,  dengan dalih untuk pembangunan pemukiman.

          Teknik mencuci piringpun adalah langkah yang efisien di rumah tangga, bila piring kotor yang akan dicuci disusun secara bertingkat, sehingga bilasan air  di atas membantu membilas deretan piring kotor kedua ketika keran air  dialirkan dari atas. Begitu seterusnya. Dengan demikian kita bisa menghemat air melalui perilaku yang efisien. Tentu begitu banyak kegiatan lain yang harus diterapkan dalam kehidupan ini, agar kita tidak senantiasa berteriak ketika suatu krisis melanda. Barangkali perlu kita renungkan sebuah pepatah China  “ jangan memboroskan kayu api, kendatipun Engkau tinggal di pinggir hutan sekalipun”. Sebuah filosofi lain perlu pula kita camkan: “alam yang kita tempati ini bukanlah warisan dari nenek moyang kita, tetapi adalah pinjaman  dari anak cucu kita yang akan lahir kemudian”.  Mencermati kedua filosofi ini sudah terangkum secara lengkap  pada Surat Al-Isra’ Ayat 27 yang kita nukil di atas.

         Segala kebenaran datang dari Allah SWT, dan kalau ada kekeliruan datang dari diri Penulis yang dhaif. Wassalam.

 

---har---

 

Created by Yatno | Mei 2009