Slide item 1

Faktor keselamatan terhadap para pekerjanya selalu menjadi prioritas utama sehingga setiap pekerja wajib menggunakan dosimeter film atau dosimeter termoluminisensi (TLD) saat bertugas

Slide item 2

Faktor manusia serta budaya keamanan adalah faktor yang sangat penting dalam menjamin keamanan di fasilitas, infrastruktur, transportasi bahan nuklir dan keselamatan personil itu sendiri.

 

Jakarta, 29 April 2015. Audit Jaminan Mutu Nuklir di PTKMR. PTKMR mempunyai misi melaksanakan litbang keselamatan dan metrologi radiasi serta aplikasi teknologi nuklir bidang kesehatan dan lingkungan, melaksanakan layanan di bidang keselamatan dan metrologi radiasi, dan menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai prioritas utama dalam pemanfaatan iptek nuklir. PTKMR saat ini sudah menerapkan sistem manajemen terintegrasi yang terdiri dari sistem manajemen mutu berdasarkan Standar BATAN SB 001 SNI 9001:2012 (tersertifikasi Komisi Standarisasi BATAN), sistem manajemen laboratorium berdasarkan SNI ISO/IEC 17025:2008 (terakreditasi KAN),  sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berdasarkan Standar BATAN SB 006-OHSAS 18001-2008,  sistem manajemen kegiatan dan fasilitas BATAN berdasarkan Dokumen Teknis No 001/DT/SJM 4/2008, sistem manajemen Litbang berdasarkan Pedoman Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP) 02:2007 (tersertifikasi KNAPPP – Kemenristek), peraturan  Kepala BAPETEN No. 9 tahun 2011 (penunjukan dari BAPETEN untuk lab uji kesesuaian pesawat sinar-x) dan SNI ISO/IEC 17020:2012.

(Jakarta, 14/04/2015). Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menggelar Temu Pelanggan 2015 pada tanggal 14 April 2015 di Gedung Utama, Pusata Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Jl. Lebak Bulus Raya No. 49, Jakarta Selatan. Temu Pelanggan yang mengusung tema Motto Litbang dan Layanan Prima untuk Keselamatan Pekerja, Masyarakat dan Lingkungan merupakan kegiatan yang keenam kalinya.

Sejalan dengan program reformasi birokrasi yang telah dilaksanakan pemerintah, yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014, sejak tahun 2009 BATAN telah menetapkan program reformasi birokrasi sebagai salah satu program prioritas.

(Bandung, 12-13/12/2014). “Sejarah telah mencatat adanya keterkaitan erat BATAN dengan Kementerian Kesehatan, yaitu ketika Presiden Sukarno meresmikan berdirinya Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) pada tahun 1962, mengangkat Gerrit A. Siwabessy (seorang dokter ahli radiologi & radioterapi) sebagai Direktur Jenderal BATAN pertama. Selanjutnya, Presiden Sukarno mengangkat sebagai Menteri Badan Tenaga Atom Nasional pada tahun 1965 dan sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1966.  Pada era tersebut, telah disadari bahwa peran tenaga nuklir di bidang pengobatan sangat penting. Atensi G.A.Siwabessy terhadap hal ini sangat besar, terbukti dengan didirikannya Lembaga Radiologi di Departemen Kesehatan, dirintisnya layanan pengobatan berbasis tenaga nuklir di RSUP. Cipto Mangunkusumo dan di  RSPAD. Gatot Subroto.