HUT RI tahun 2020
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Serpong, 24/03/2021) Produk radiofarmaka Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yakni TB-Scan atau kit radiofarmaka etambutol mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini disampaikan oleh Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan pada acara launching produk TB-Scan di Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (24/03).

Anhar mengatakan, produk ini diharapkan menjadi solusi terhadap penderita penyakit TB yang jumlahnya terus meningkat. TB-Scan ini mempunyai fungsi untuk mendeteksi infeksi penyakit tuberkulosis (TB) di paru dan di luar paru seperti tulang, sistem gastrointestinal, dan sistem syaraf.

"Pada tahun 2020 Indonesia menduduki urutan ke-3 dari jumlah penderita TB di dunia, kehadiran radiofarmaka etambutol TB-scan ini akan sangat membantu pemerintah dalam menangani penyakit TB di Indonesia dengan menyediakan cara diagnosis yang sangat efektif," kata Anhar.

(Jakarta, 13/01/2021) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) telah menghasilkan 2 varietas kedelai unggul yang diberi nama Sugentan 1 dan Sugentan 2. Sugentan kependekan dari Super Genjah BATAN adalah varietas kedelai hasil perbaikan dari varietas Argomulyo diharapkan mampu menjadi salah satu upaya mengatasi kelangkaan kedelai di Indonesia.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Rabu (13/01) mengatakan, kurangnya pasokan kedelai akan memicu pada naiknya harga kedelai di pasaran sehingga berdampak pada produksi makanan berbahan baku kedelai. "Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, apalagi kedelai terkait erat dengan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu tempe, tahu, dan kecap," ujarnya.

(Jakarta, 22/10/2020) Pemanfaatan iptek nuklir dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) berkomitmen terus mengembangkan penelitiannya di kedua bidang ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini disampaikan Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan pada jumpa pers di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta, Kamis (22/10). Di kedua bidang ini, BATAN telah ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional/ International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai collaborating center untuk wilayah Asia Pasifik.

"IAEA telah menunjuk BATAN sebagai collaborating center di bidang pemuliaan tanaman dan uji tak merusak. Ini artinya BATAN sudah diakui oleh internasional dalam penguasaan dan pemanfaatan iptek nuklir," kata Anhar.

(Jakarta, 20/10/2020) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk kesehatan. Hal ini disampaikan Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan pada jumpa pers di Kawasan Nuklir Serpong, Tangsel, Selasa (20/10).

Anhar mengatakan, saat ini BATAN mendapat penugasan dari pemerintah sebagai koordinator untuk kegiatan prioritas riset nasional (PRN), salah satu dari kegiatan tersebut adalah pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka. Kebutuhan dalam negeri terhadap radioisotop dan radiofarmaka ini terus meningkat seiring dengan berkembangnya pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang khusunya di bidang kesehatan.

“Selama ini pasokan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri dipenuhi oleh produk impor yang mencapai hingga di atas 90%. Padahal Indonesia mempunyai reaktor riset yang dapat digunakan untuk memproduksi radioisotop dan radiofarmaka,” kata Anhar.


preview


   

Pengadaan Barang dan Jasa