HUT RI tahun 2020
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Jakarta, 26/04/2020) Salah satu kecelakaan nuklir yang hingga kini diingat oleh masyarakat dunia adalah meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl. Kecelakaan itu terjadi 34 tahun yang lalu tepatnya pada 26 April 1986 di Ukraina yang pada saat itu masih bergabung dengan Rusia.

Saat itu, tepatnya pukul 01.23 dini hari, salah satu dari 4 modul reaktor Chernobyl meledak, sekitar 28 pekerja meninggal seketika akibat ledakan reaktor tersebut. Dari tragedi ini tentunya meninggalkan trauma yang besar bagi seluruh masyarakat dunia, khususnya para ilmuan yang menggeluti teknologi nuklir.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan reaktor Chernobyl meledak? Teknologi keselamatan yang kurang handalkah atau murni karena kesalahan manusia?

Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Dhandhang Purwadi mengatakan bahwa kecelakaan yang terjadi pada reaktor Chernobyl murni karena keteledoran manusia. “Kecelakaan itu disebabkan oleh kesalahan manusia dalam hal ini operator yang melakukan suatu eksperimen pada daya tingkat rendah atau di bawah daya nominal sebelum reaktor dimatikan,” kata Dhandhang.

Sebetulnya menurut Dhandhang, reaktor Chernobyl saat itu sudah dilengkapi dengan sistem otomatisasi, namun untuk kepentingan eksperimen, sistem otomatisasi yang menghambat penurunan daya dimatikan. Dengan matinya sistem otomatisasi, akhirnya dalam penurunan daya yang dilakukan secara manual tersebut melampaui batas keselamatan yang dipersyaratkan.

Tidak lama kemudian terjadi lonjakan energi secara tiba-tiba yang tak terduga. Ketika operator mencoba mematikan secara darurat, terjadi lonjakan daya yang sangat tinggi yang menyebabkan tangki reaktor pecah dan diikuti serangkaian ledakan uap.

Ledakan ini, tutur Dhandhang menyebabkan kebakaran hebat yang berlangsung selama seminggu penuh dan melepaskan debu partikel radioaktif ke udara. “Ledakan ini membahayakan bagi operator di sekitar reaktor karena radiasi alfa, beta, dan gamma yang memancar langsung dari pusat reaktor yang perisai radiasinya sudah rusak,” katanya.

Zat radioaktif yang terdapat di dalam teras reaktor dapat berupa gas, bahan yang mudah menguap (volatil) dan bahan yang tidak menguap (non volatil). Zat radioaktif yang berbentuk gas maupun volatil, jelas Dhandhang, akan mudah terbawa oleh angin, dan kalau sampai masuk ke dalam tubuh manusia akan sangat membahayakan.

Kecelakaan pada PLTN Chernobyl terjadi karena adanya reaktivitas positif reaktor yang menyebabkan hilangnya kemampuan pengendalian terhadap keberlangsungan reaksi fisi berantai. “Agar kecelakaan PLTN Chernobyl tidak terjadi lagi, semua teras reaktor nuklir pasca kecelakaan itu dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mempunyai reaktivitas positif pada semua tingkat daya,” imbuhnya.

“Kalaupun ada reaktivitas positifnya hanya rendah dan masih bisa ditolerir dalam batas keselamatan. Di PLTN Chernobyl, reaktivitas positif reaktor hanya pada tingkat daya tertentu saja, tidak di semua tingkat daya,” tegasnya.

Pada PLTN generasi sekarang, tambah Dhandhang, telah dirancang dengan mengedepankan kaidah keselamatan yang lebih baik dan lebih ketat. Selain itu, dalam perancangannya menganut filosofi pertahanan berlapis (defense in depth), dan untuk menjaga penyebaran zat radioaktif ke lingkungan dirancang sistem fisik penghalang ganda (multiple barriers).

“Kaidah sistem keselamatan ini tidak diimplementasikan secara sempurna di PLTN Chernobyl,” tambahnya.

Baca juga: Laboratorium Simulator Reaktor Nuklir

Penerapan sistem keselamatan pengoperasian reaktor ini dikatakan Dhandhang, juga berlaku pada reaktor riset. Ketiga reaktor riset yang ada di Indonesia yakni Reaktor Triga 2000 di Bandung, Kartini di Yogyakarta, dan GA. Siwabessy di Serpong telah menerapkan kaidah fail-safe (gagal-selamat), defense in depth, dan multiple barriers yang memadai.

“Saat ini teknologi reaktor telah berkembang pesat, keselamatan reaktor yang didesain pada akhir-akhir ini telah mengedepankan prinsip desain inherent safety (keselamatan melekat) dan sistem keselamatan pasif (pasive safety system) yang tinggi. Penelitian tentang inherent safety dan pasive safety terus berkembang dan dilakukan di BATAN,” pungkas Dhandhang (Humas – BATAN).