HUT RI tahun 2020
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Tangsel, 25/02/2020) Ditengah upaya clean up terhadap area terpapar zat radioaktif di Perumahan Batan Indah, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, pihak kepolisian dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) menemukan zat radioaktif di rumah warga. Temuan baru ini merupakan upaya yang dilakukan pihak kepolisian dalam mengungkap kasus adanya zat radioaktif di Perumahan BATAN Indah, Senin (24/02).

Terkait temuan baru zat radioaktif di rumah warga oleh pihak Kepolisian, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan mengatakan penguasaan zat radioaktif secara tidak sah sangat tidak dibenarkan. "Penguasaan bahan nuklir atau bahan radioaktif secara tidak sah sangat tidak dibenarkan sama sekali, karena hal ini berpotensi membahayakan masyarakat," ujar Anhar.

Anhar mendukung segala tindakan yang dilakukan pihak Kepolisian dan BAPETEN dalam rangka menyelamatkan warga. Selain itu, Anhar meminta kepada pihak Kepolisian dan BAPETEN untuk mengusut tuntas kepemilikan bahan radioaktif secara tidak sah tersebut.

Di tengah upaya clean up dan penyelesaian kasus kepemilikan bahan radioaktif secara tidak sah ini, Anhar menegaskan bahwa BATAN akan tetap melanjutkan kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi nuklir untuk kesejahteraan. "BATAN melanjutkan kegiatan litbang dan pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan cita-cita founding fathers RI dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan yang ketat," tambah Anhar

Baca juga: Griding pada Area Terpapar Radiasi Selesai Dikerjakan

Terkait upaya clean up terhadap area terpapar zat radioaktif di Perumahan BATAN Indah, hari ini, Selasa (25/02) memasuki hari ke-10. Pada kali ini, pekerjaan clean up dilakukan dengan menggunakan metode coring yakni melakukan pengeboran terhadap beberapa titik dengan kedalaman 1 meter.

Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama, BATAN, Heru Umbara mengatakan metode coring ini dilakukan untuk mengetahui sisa paparan di dalam tanah pada kedalaman tertentu. "Dengan menggunakan coring ini kita akan mendapatkan sampel sisa paparan pada kedalaman tertentu. Dari hasil analisis coring inilah nanti kita menentukan berapa kedalaman tanah yang harus dikeruk untuk membersihkan paparan zat radioaktif," ujar Heru.

Sebelum dilakukan coring, menurut Heru, telah dilakukan griding yakni membuat petak-petak kecil dengan ukuran 3x3 meter persegi. Hingga hari ke-9 kemarin, belum ada perubahan jumlah tanah yang diserahkan ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) - BATAN yakni 337 drum. (Humas BATAN)