Slide item 12
korupsi

Korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa yang menjadi penghambat utama tercapainya tujuan pembangunan Nasional. Upaya untuk mensinergikan kegiatan pencegahan korupsi, pelaksanaan reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas pelayanan publik, maka PSTNT menetapkan kebijakan pembangunan Zona Integritas (ZI) dengan mambangun Wilayah Bebas dari Korupsi

reaktor kartini menuju era kemandirian

REAKTOR NUKLIR BANDUNG
Menuju era kemandirian  teknologi nuklir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat"

Peresmian

Pada tanggal 24 Juni 2000 Megawati Soekarno Putri meresmikan pengoperasikan "Reaktor TRIGA 2000" di Kawasan nuklir Bandung

analisis

Peran Teknis Analisis Nuklir dalam pemantauan kualitas udara di Indonesia

Litbang

Litbang sediaan radioisotop pemancar sinar beta untuk diaplikasikan di bidang kesehatan sebagai prekursor dalam pembuatan radiofarmaka

srikandi

Setelah 52 tahun, ternyata ada wanita-wanita muda yang berprofesi sebagai operator Reaktor Nuklir di Reaktor TRIGA 2000. Mereka lah para penerus cita2 Kartini... Selamat Hari Kartini, 21 April 2017.

(Jakarta, 12/09/2018) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) kenalkan produk litbangnya kepada para pimpinan PT. ISPAT INDO, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (06/09). Kegiatan ini merupakan bagian dari hilirisasi produk dan penjajakan peluang kerja sama antara BATAN dan PT. ISPAT INDO.

ISPAT INDO merupakan perusahaan yang bergerak dalam penyediaan barang setengah jadi berupa besi baja atau baja dalam bentuk gulungan yang berasal dari besi rongsokan dicampur dengan biji besi untuk diolah kembali menjadi barang jadi, misalnya paku, kawat, mur baud dan lainnya. Dalam melakukan produksinya, PT. ISPAT INDO memanfaatkan teknologi nuklir untuk mendeteksi level ketinggian dari bubur besi/baja dalam tangki produksi.

Ketua Tim Utilisasi Reaktor Triga 2000, Agus Sunarya menjelaskan pemanfaatan teknologi nuklir pada proses produksi PT. ISPAT INDO. “Teknologi nuklir yang dimanfaatkan  adalah radiasi dari sumber radioaktif Cesium (Cs-137) yang ditangkap oleh detektor. Selanjutnya detektor mengirim data untuk mengatur tingkat putaran motor yang dapat mengatur ketinggian bubur besi dalam tangki produksi,” ujar Agus.

Ia menambahkan, sebelumnya PT. ISPAT INDO pernah menggunakan Cobalt 60 (Co-60), namun dalam perkembangannya dan mendapat masukan dari beberapa pelanggannya, akhirnya menggunakan Cs-37. Namun demikian, terkait proses penanganan limbahnya, dimana limbah radioaktif sesuai peraturan harus dikembalikan ke negara asalnya, maka hal ini menjadikan permasalahan bagi perusahaan.

Untuk itulah, pihak PT. ISPAT INDO berharap mendapatkan sumber radioaktif yang diproduksi dalam negeri dengan karakteristik yang menyerupai Cs-137 yakni dengan waktu paruh selama 30 tahun. “Selain itu, PT. ISPAT INDO juga memasang radiation portal monitor untuk memantau tingkat radiasi dari metal scrap sebagai bahan baku pembuatan besi dan baja. Pihak perusahaan mengkhawatirkan bahwa peralatan ini nantinya akan mengalami penurunan performanya dan harus dilimbahkan. Sementara itu pabrik pembuatnya sudah tutup,” tambah Agus.

Dari hasil pertemuan tersebut, Agus menjelaskan, pihak PT. ISPAT INDO berharap produk detektor yang menggunakan sumber radioaktif Cs-137 dapat diproduksi dalam negeri sehingga dapat menekan harga sekaligus memudahkan untuk pengiriman kembali limbahnya. Menanggapi permintaan ini, pihak BATAN perlu kolaborasi antar unit kerja terkait seperti Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG), PSTNT, Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) dan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) untuk mewujudkan permintaan PT. ISPAT INDO.

Selain hilirisasi produk litbang BATAN, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk mengetahui produk teknologi nuklir yang diperlukan oleh industri. (Pur)

Foto lainnya :