HUT RI tahun 2020
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Bekerja dengan materi radioaktif menuntut budaya keselamatan kerja yang tinggi. BATAN melaksanakannya sesuai regulasi nasional dan internasional. Faktor manusia serta budaya keamanan adalah faktor-faktor penting dalam menjamin keamanan di fasilitas, infrastruktur dan transpor tasi bahan nuklir. Hal inilah yang selalu diterapkan di BATAN sejak berdiri 55 tahun silam dengan mengikuti peraturan serta standar internasional.

Teknologi nuklir memang merupakan sarana penting dalam mendukung program pembangunan nasional di indonesia. Terutama di bidang kesehatan, makanan dan pertanian, manajemen sumber daya air, perlindungan lingkungan.

Di sisi lain, masalah keamanan nuklir masih menjadi isu penting bagi dunia internasional dan nasional. Ini mengingat risiko jika bahan nuklir dan radioaktif lainnya jatuh ke tangan yang salah dan digunakan secara tidak bertanggung jawab. Karena itulah diperlukan langkah-langkah serius dalam melindungi fasilitas maupun bahan-bahan nuklir.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan pakar-pakar nuklir dunia sendiri telah membuat konsep keamanan nuklir dan petunjuk pelaksanaan bagi negara-negara anggota IAEA. Konsep keamanan nuklir tersebut diterbitkan IAEA di tahun 2008 dalam Nuclear security series No 7.

Pentingnya budaya ini juga dibahas dalam dua pertemuan masalah keamanan nuklir di tahun 2010 dan 2012.sebagai langkah antisipasi ancaman-ancaman itu, termasuk kemungkinan ancaman terorisme, BATAN telah mengundang misi dari IAEA-IPPAS untuk mengevaluasi sistem keamanan nuklir di fasilitas reaktor riset nuklir pada 2001 dan kemudian diteruskan oleh misi IPPAS berikutnya pada 2007.

Dalam kaitan keamanan nuklir di dunia internasional, sejak 1970 indonesia sendiri telah menandatangani traktat Non-Proliferasi senjata Nuklir (NPT) dan meratifikasinya di tahun 1975. Kemudian indonesia mengikuti Additional Protocol di tahun 1999 sehingga menjadi negara pertama di Asia tenggara yang terikat oleh mekanisme verifikasi yang lebih ketat. indonesia juga adalah anggota traktat Zona Bebas senjata Nuklir Asia tenggara yang berlaku sejak 1997. Perjanjian lain yang ditandatangani adalah traktat Pelarangan uji Nuklir komprehensif (CTBT) pada 1996 dan diratifikasi pada Februari 2012.

"Isu nuklir menjadi penting di dunia. BATAN bekerjasama dengan IAEA dan badan lainnya dalam evaluasi sistem keamanan nuklir di kawasan reaktor."

"BATAN saat ini mengoperasikan tiga reaktor riset dengan rekor keamanan yang bagus."

Indonesia merupakan salah satu negara penandatangan konvensi Bersama tentang keamanan manajemen sisa Bahan Bakar Nuklir dan keamanan manajemen keselamatan Limbah radioaktif, konvensi keamanan Nuklir dan Konvensi Proteksi Fisik terhadap material Nuklir.

Di bulan juli 2012, indonesia telah memasang untuk per tama kalinya monitor pemantau radiasi (RPM) di pelabuhan Belawan medan. Hasil sumbangan badan nuklir internasional (IAEA), monitor itu dipakai mendeteksi ada tidaknya bahan nuklir atau radioaktif yang masuk ke pelabuhan.

BATAN saat ini mengoperasikan dan menjaga keamanan tiga reaktor riset di tiga lokasi berbeda yaitu kompleks nuklir Bandung dengan reaktor TRIGA mark II berkapasitas 2MW, kompleks nuklir Yogyakarta dengan reaktor TRIGA mark II Kartini berkapasitas 100KW serta kompleks nuklir serpong di Tangerang dengan reaktor serba Guna GAsiwabessy berkapasitas 30MW.

Pengamanan di fasilitas reaktor riset tersebut maupun kantor BATAN dilangsungkan dengan ketat. Pengunjung harus mengirim terlebih dulu surat permohonan kunjungan resmi dan menyerahkan surat identitas. Sebelum masuk di kompleks nuklir, pengunjung mengisi buku tamu kemudian diambil fotonya serta diberi kartu pengunjung yang selalu harus dipakai. pengamanan di reaktor memakai sistem keselamatan berlapis untuk meminimalisir dampak kerusakan ke manusia dan lingkungan sekitar.

"BATAN telah menerapkan budaya keamanan nuklir di semua level berdasarkan acuan internasional."

BATAN juga peduli terhadap keamanan dan keselamatan pemanfaatan radiasi di bidang kedokteran yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap paparan radiasi yang diterima oleh manusia. Sekitar 15% sumber radiasi yang diterima oleh manusia saat ini diperoleh dari aktivitas pemanfaatan radiasi di bidang kesehatan yang meliputi radiodiagnostik, radioterapi dan kedokteran nuklir.

Karena itulah BATAN mendirikan Laboratorium Fisika medik yang menguji akurasi alat medis pengguna radiasi, dosis yang diterima pasien dan lainnya. Ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 33 tahun 2007 tentang keselamatan radiasi Pengion dan keamanan sumber radioaktif serta rekomendasi BS115. 

Aturan tadi menyatakan pengguna sumber radiasi di bidang kesehatan wajib menjalankan sistem proteksi yang meliputi justifikasi pemanfaatan tenaga nuklir, limitasi dosis, optimasi proteksi dan keselamatan radiasi.

Budaya keamanan nuklir
Langkah berikutnya dalam mengamankan fasilitas nuklir adalah memperkenalkan dan meningkatkan budaya keamanan nuklir. IAEA bekerja sama dengan kelompok pakar internasional untuk mengembangkan dan mengimplementasikan metodologi self-assessment.

Dalam pengelolaan kawasan penelitian di Serpong dan lainnya, BATAN antara lain menargetkan sistem keamanan yang berlaku tersebut dapat menjadi role model di kawasan Asia Tenggara.

Dijalankan sepenuhnya oleh tenaga ahli Indonesia, reaktor-reaktor BATAN sendiri telah berfungsi selama puluhan tahun dengan aman tanpa mengalami insiden. Proses di fasilitas-fasilitas nuklir. tujuannya yaitu membuat acuan informasi tentang status budaya keamanan nuklir serta mengembangkan langkah-langkah demi mengisi kekurangan yang masih ada.

BATAN telah menerapkan budaya keamanan nuklir di semua level berdasarkan acuan internasional yaitu IAEA Nss No 7 Nuclear Security Culture.

Acuan itu dirilis pada 2008 sebagai petunjuk bagi anggota IAEA dalam meningkatkan budaya keamanan nuklir. Sejak 2010, BATAN berkomitmen terhadap pentingnya budaya keamanan nuklir di semua level. karena itulah setahun sesudahnya BATAN menyelenggarakan seminar regional tentang topik tersebut.

Pada tahun 2012, BATAN bekerja sama dengan Center for International Trade and Security (CITS) Universitas Georgia Amerika Serikat ser ta IAEA-Office of Nuclear Security dalam pelaksanaan sebuah proyek percontohan riset budaya keamanan nuklir. Tujuan proyek itu adalah menerapkan metodologi self-assessment di fasilitas reaktor-reaktor riset BATAN. Hasil yang ingin dicapai adalah gambaran yang jelas tentang pengaruh faktor manusia dalam faktor keamanan di reaktor riset.

"BATAN telah siap jika terjadi masalah kedaruratan nuklir. Personel dan infrastruktur tersedia untuk turun ke lapangan dengan cepat."

"BATAN akan berbagi pengalaman budaya keamanan nuklir di forum-forum internasional."

Proyek self-assessment berlangsung di tiga reaktor riset dengan mensurvei 635 staf dan kontraktor pada Desember 2012-Januari 2013. Kemudian hasil akhirnya diringkas dan didiskusikan pada Februari-Maret 2013 serta dipaparkan pada pertemuan teknis IAEA. Agenda BATAN selanjutnya adalah merevisi sejumlah regulasi di bidang manajemen keamanan berdasarkan masukan dari proyek self-assessment. Akan dikembangkan pula kerja sama lanjutan dalam budaya keamanan nuklir dengan IAEA.

BATAN juga berencana membagi pengalaman di bidang self-assessment budaya keamanan nuklir di forum-forum internasional. Bekerja sama dengan lembaga pemerintah lainnya, BATAN mempertimbangkan juga pembuatan sebuah badan di bidang budaya keamanan nuklir dan self- assessment. Fungsi badan itu sebagai center of excellence di segmen kepakaran dan pelatihan budaya keamanan nuklir di Asia tenggara.

"BATAN akan berbagi pengalaman budaya keamanan nuklir di forum-forum internasional."

Kedaruratan Nuklir
BATAN juga sudah siap terkait masalah kedaruratan nuklir. Sejumlah infrastruktur telah disiapkan sehingga personel BATAN dapat segera turun ke lapangan dalam waktu lima menit bila dibutuhkan. Latihan rutin untuk kedaruratan nuklir telah berlangsung sejak 2004 dengan latihan besar setahun sekali. Tersedia pula mobil survei lingkungan atau Carborne monitoring untuk mengetahui daerah-daerah mana yang tercemar radioaktif dan mendukung pelaksanaan penanggulangan kecelakaan nuklir. Sistem ini mampu mengukur tingkat radiasi dan radioaktivitas lingkungan secara terintegrasi dan dapat mengirim data ke stasiun pengendali secara real time. Disamping itu dikembangkan sistem pemantauan udara dengan stasiun monitoring terpasang permanen. Desain mobil ini dibuat sedemikian rupa agar rangkaian detektor dan sensor lainnya ser ta posisi alat penunjang seperti meja kerja, kamera CCtV hingga rel Whole Body Counter dapat bekerja dengan baik.

"Pengawasan operasional di reaktor riset berlangsung ketat sesuai standar badan nuklir internasional."

Pada Juni 2013, BATAN bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemprov Banten maupun pemkot/pemkab di sekitar reaktor riset serpong melakukan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan nuklir. tujuannya agar semua pihak siap terjadi kecelakaan nuklir, penanggulangannya lebih mudah dan cepat ser ta jumlah korban dapat diminimalisir.

Pelatihan tersebut melibatkan berbagai tim respons, seperti tim medis, tim pengamanan nuklir, tim proteksi radiasi, tim pemadam kebakaran, juga tim dari kepolisian dan TNI. Skenario kecelakaan yaitu ketika elemen bakar reaktor meleleh lalu gas radioaktif lepas ke udara. Reaktor riset BATAN dilengkapi pengungkung dan sistem ventilasi untuk mengurung gas tadi sampai meluruh dalam delapan jam. sistem ini sangat aman dan sejak reaktor berdiri pun tidak pernah terjadi kecelakaan nuklir. Dengan demikian pelatihan kesiapsiagaan dilaksanakan untuk memenuhi prosedur keselamatan sesuai aturan internasional dan bukan untuk menunjukkan bahwa reaktor riset nuklir tidak aman.

BATAN juga ambil bagian dalam Gladi Lapang Nasional 2013 Penanggulangan kecelakaan sumber radioaktif yang digelar di Bandung pada 5 september 2013. Kegiatan yang diikuti sejumlah instansi terkait tersebut ber tujuan untuk menguji kemampuan tanggap darurat akibat kecelakaan transpor tasi yang melibatkan sumber radioaktif. Skenario yang dipakai dalam latihan tersebut adalah terjadinya kecelakaan lalu lintas antara mobil pengangkut bahan nuklir radioaktif dengan truk pengangkut pasir

"Kehadiran Petugas Proteksi Radiasi untuk memastikan keamanan kerja di lingkungan reaktor."

Sehingga menimbulkan korban dan bahan radioaktif berhamburan di jalan. Latihan kesiapsiagaan tanggap darurat tersebut juga merupakan amanat PP No 54 tahun 2012 tentang keselamatan dan keamanan instalasi Nuklir yang mewajibkan pemegang izin untuk menyelenggarakan pelatihan dan gladi kedaruratan nuklir.

Dalam kegiatan itu BATAN antara lain mengerahkan kendaraan operasional untuk Sistem Carborne Monitoring yang berfungsi mengukur tingkat radiasi dan radioaktivitas lingkungan secara terintegrasi dan dapat mengirim data ke stasiun kendali secara real time.

Pemantauan Lingkungan
Di BATAN juga terdapat pengelolaan keselamatan radiasi dan personal serta pemantauan lingkungan. Petugas akan memantau paparan radiasi di dalam dan luar laboratorium, memantau radiasi di lingkungan dengan mengambil sampel air, tanah, debu dan udara. sampel diambil sampai radius 5 kilometer dari reaktor.

Untuk pemantauan personel digunakan sistem personal monitoring dengan antara lain memakai TL dosimeter badge yang diperiksa tiga bulan sekali. Tiap karyawan BAtAN yang bekerja dengan iradiasi memiliki dua badge di mana tiap badge nantinya akan dievaluasi dan diganti. Tujuannya supaya karyawan tidak terkena paparan yang melebihi batas.

BATAN juga melakukan pemeriksaan kesehatan setiap setahun sekali dan pemeriksaan kesehatan ini wajib untuk semua karyawan terutama pekerja radiasi yang memakai TLD badge. Selain itu di ruangan yang menggunakan bahan radioaktif terdapat mesin whole body counting yang berfungsi untuk mengecek jumlah paparan radiasi.

BATAN sendiri memiliki laboratorium sitogenetik yang menganalisa aberasi kromosom akibat radiasi pengion. Aberasi kromosom ini bisa dipakai untuk memprediksi risiko paparan radiasi, estimasi dosis radiasi dan memprediksi kecenderungan kanker pada individual. kemudian ada layanan bioessay untuk mengukur radiasi dalam tubuh manusia melalui pemeriksaan feces dan urine.

"Latihan kesiapsiagaan tanggap darurat terkait keselamatan dan keamanan instalasi nuklir."

Setiap laboratorium di BATAN juga dipantau sebulan sekali. Petugas bidang keselamatan yang disebut petugas proteksi radiasi ikut dalam kegiatan yang menggunakan radiasi besar. Air yang ada di kolam iradiator juga diambil sampelnya sebulan sekali. Air itu dimurnikan lagi untuk menghindari karat dan kontaminan.

Program pemantauan lingkungan di kawasan nuklir serpong juga telah dilaksanakan sejak reaktor GA siwabessy dioperasikan. Hasil pemantauan yang diperoleh berdasarkan evaluasi menunjukkan bahwa laju dosis dan dosis kumulatif di udara tidak menunjukkan adanya perubahan ataupun kecenderungan peningkatan.

Tidak teramati adanya radionuklida hasil fisi ataupun aktivasi dalam komponen dan tidak terjadi peningkatan penerimaan dosis oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan nuklir serpong. Petugas BATAN juga melakukan kegiatan radioekologi kelautan yaitu pemantauan lingkungan laut. Tujuannya agar cemaran radioaktif dari kecelakaan di luar negeri tidak sampai masuk ke perairan indonesia.

Keamanan Pengolahan Limbah
Dalam bidang keselamatan di BATAN juga terdapat kegiatan pengelolaan limbah radioaktif dan bahan berbahaya (B3) yang mengelola limbah dari seluruh indonesia dan hasil penanganannya dilaporkan ke IAEA. Pengolahan limbah radioaktif di BATAN sendiri dilakukan dengan cermat dan hati-hati, mulai dari lokasi pengambilan sampai ke tempat pengolah akhir.

Di indonesia, sesuai Pasal 22 ayat 2 UU No 10/1997, limbah radioaktif berdasarkan aktivitasnya diklasifikasikan dalam jenis limbah radioaktif tingkat rendah (LTR), tingkat sedang (LTS) dan tingkat tinggi (LTT). Penimbul limbah radioaktif dari kegiatan BATAN dan di luar BATAN seperti pihak industri, rumah sakit, dan lainnya wajib melakukan pemilahan dan pengumpulan limbah sesuai dengan jenis dan tingkat aktivitasnya. Limbah radioaktif selanjutnya dapat dikirim ke BATAN di serpong untuk pengolahan lebih lanjut.

Tujuan utama pengolahan limbah adalah mereduksi volume dan kondisioning limbah agar dalam penanganan selanjutnya pekerja radiasi, anggota masyarakat dan lingkungan aman dari paparan radiasi dan kontaminasi. Yang mempunyai faktor pemekatan 50 kali dan kapasitas pengolahan 750 liter/jam. Limbah padat terbakar diolah dengan unit insinerator yang mempunyai kapasitas pembakaran 50 kg/jam. Abu hasil pembakaran lalu diimobilisasi dengan bahan semen di dalam wadah drum berkapasitas 100 liter. Limbah padat terkompaksi/tidak terbakar diolah dengan unit kompaktor yang mempunyai kuat tekan 60 KN.

Limbah hasil olahan disimpan di tempat penyimpanan sementara yang mempunyai kapasitas penampungan 1.500 sel drum 200 liter. Gudang di kawasan nuklir serpong telah beroperasi selama 30 tahun dengan jumlah limbah sedikit dan masih bisa menampung sampai 60 tahun. ke depannya tengah digodok rencana pembangunan tempat penyimpanan limbah lestari.

Di BATAN, limbah cair diolah dengan unit evaporator kemudian ada pengolahan berbasis kimiawi untuk limbah cair korosif aktivitas rendah sampai sedang. kapasitas optimum dari unit chemical treatment adalah 0,5 m3/hari dengan reaktor batch berpengaduk. Lumpur aktif yang dihasilkan lalu diimobilisasi memakai bahan semen di dalam wadah tabung beton berkapasitas 950 liter.

BATAN dalam pengelolaan LTR dan LTS telah mengadopsi teknologi yang mapan dan umum digunakan di negara- negara industri nuklir. Limbah hasil olahan disimpan di fasilitas tempat penyimpanan sementara IS-1, sehingga limbah tersebut aman dan terkendali serta kemungkinan limbah tersebut tercecer atau tidak ber tuan dapat dihindarkan.

Untuk pengelolaan limbah radioaktif tingkat tinggi (LTT) dan bahan bakar nuklir (BBN) bekas, BATAN saat ini memilih daur tertutup. Limbah BBN bekas dan LTT dari hasil uji fabrikasi BBN saat ini disimpan di Interim Storage for Spent Fuel Element (ISSFE) di Serpong. Kapasitas ISSFE mampu untuk menyimpan BBN bekas untuk selama umur operasi reaktor GA Siwabessy.

Sementara itu, LTT dan BBN bekas yang dihasilkan dari pengoperasian Reaktor Triga Mark II di Bandung dan Reaktor Kartini di Yogyakarta disimpan di kolam pendingin reaktor. Dalam pengoperasian reaktor GA Siwabessy, reaktor Triga Mark II dan reaktor Kartini, BBN bekas ataupun LTT tidak ada yang keluar dari kawasan nuklir tersebut, seluruhnya tersimpan dengan aman.


pratinjau

preview

preview


   

Pengadaan Barang dan Jasa

VIDEO SEPUTAR BATAN

  

 
 

Video lainnya

LINK LEMBAGA TERKAIT